Senin, 30 Juni 2025

Co-Working Space Dengan Fasilitas Komplit Berstandar Internasional Harga Sejutaan Perbulan di HQ Barsa City



 Sewa co-working space dengan fasilitas komplit berstandar internasional harga sejutaan sebulan, bisa kerja 24/7 dan internet bisnis-grade dengan sistem keamanan tinggi dan meeting room

Barsa City Yogyakarta baru saja membuka fasilitas co-working space bekerjasama dengan HQ by IWG. Terletak di commercial space Barsa City, merupakan HQ Co-Working Space ketiga di Yogyakarta

IWG sendiri merupakan penyedia ruang kerja fleksibel berskala global dengan lebih dari 300 lokasi di Asia Pasifik dan berbagai brand ternama seperti Regus, HQ, dan Signature.



Peresmian ini dikemas dalam acara interaktif bertajuk Scentsational Sunday digelar di Plaza The Arcade, Cornell Tower Barsa City, Sleman, Yogyakarta (Minggu, 29 Juni 2025) merupakan langkah nyata untuk melengkapi kawasan hunian dan komersial terpadu dan menjawab kebutuhan masyarakat urban akan ruang kerja yang fleksibel dan efisien.

Peresmian HQ bukan sekadar seremoni melainkan respons konkret terhadap pergeseran tren gaya hidup urban dan kerja fleksibel, tetapi mendukung produktivitas tinggi, khususnya bagi profesional, pelaku startup, yang kini banyak diminati oleh generasi muda produktif dan perusahaan hybrid.

HQ merupakan bagian dari jaringan International Workplace Group (IWG), di Indonesia HQ hadir di 52 tempat yang tersebar di Jakarta, Bandung, Semerang,Yogyakarta, Surabaya, Bali dan Makassar.  menyediakan berbagai pilihan ruang kerja mulai dari private office, coworking space, hingga virtual office, guna mendukung meningkatnya kebutuhan akan lingkungan kerja yang lebih fleksibel.



“Jogja sangat spesial karena ini adalah pusat ketiga HQ di kota ini. Demand-nya sangat konsisten dan dinamis. Banyak inovator dan pelaku industri kreatif seperti IT, mebel, hingga hukum yang menjadikan Jogja sebagai tempat tumbuh,” kata Putri Mulya, Country Manager IWG untuk Indonesia.

Fasilitas standar HQ mencakup internet bisnis-grade dengan sistem keamanan tinggi dan meeting room representatif. Area kopi dan ruang kolaboratif, akses 24/7, Opsi virtual office hingga private office juga tersedia.

Reynald Lesmana, Head of Partner Performance Indonesia & Brunei menjelaskan, "Fasilitas standar HQ mencakup internet bisnis-grade dengan sistem keamanan tinggi dan meeting room representatif. Area kopi dan ruang kolaboratif, akses 24/7, Opsi virtual office hingga private office juga tersedia. Selain itu HQ didukung konektivitas global. Dengan demikian pengguna bisa memakai seluruh fasilitas HQ di negara lain tanpa harus login ulang."

Dengan infrastruktur yang membaik, serta daya tarik UMR yang relatif kompetitif, Yogyakarta kini menjadi magnet bagi perusahaan dari luar. Hal ini memunculkan kebutuhan akan ruang kerja fleksibel yang strategis dan representatif.

“Kami melihat transformasi kota ini menuju pusat pertumbuhan produktivitas. Model ruang kerja bersama bukan hanya efisien, tapi juga menciptakan nilai kolaboratif yang tinggi. Jogja kini tidak hanya sebagai kota pelajar, tapi kota bagi pekerja hybrid dan kolaboratif,” ungkap Agung Kris Primandono selaku Director of Ciputra Group.

Bersamaan dengan peresmian HQ, Barsa City juga memperkenalkan mockup unit apartemen tipe studio terbaru yang dirancang untuk merepresentasikan gaya hidup urban masa kini—efisien, estetis, dan fungsional. Produk ini menjadi bagian dari visi Barsa City menghadirkan kawasan 'live-work-play' yang terintegrasi di jantung Kota Jogja.




Selasa, 24 Juni 2025

“Jagad’e Raminten” Mengangkat Sosok Ikonik Dalam Budaya dan Seni Pertunjukan Kontemporer di Yogyakarta



Yogyakarta, 22 Juni 2025 – Kalyana Shira Foundation mempersembahkan film “Jagad’e Raminten” yang menyoroti kehidupan dan warisan sosok Raminten sebagai salah satu ikon Yogyakarta. Dalam durasi 95 menit, dokumenter ini menggambarkan perjalanan Raminten yang tidak hanya dikenal sebagai pengusaha sukses dengan berbagai usaha seperti toko oleh-oleh, restoran, batik, dan pertunjukan cabaret, tetapi juga sebagai ruang aman bagi komunitas yang inklusif. Penayangan perdana Film Dokumenter “Jagad’e Raminten” dilaksanakan di Auditorium LIP Yogyakarta dan dihadiri oleh lebih dari 250 undangan termasuk keluarga besar Raminten, komunitas pecinta film, aktivis, dan seniman lokal Yogyakarta maupun nasional.


Film ini tidak hanya mengangkat warna-warni dunia Raminten, tetapi juga memotret perjalanan sang pendiri, Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Tanoyo Hamijinindyo atau yang lebih dikenal sebagai Hamzah Sulaiman. Dalam membentuk Raminten, Hamzah Sulaiman tidak hanya menjalankan bisnis, namun membina sebuah keluarga besar termasuk di dalamnya karyawan, penampil pertunjukan, serta keluarga dan para sahabat. Dibesut oleh Nia Dinata sebagai sutradara dan penulis, Dena Rachman sebagai produser dan penulis, serta Melissa Karim sebagai co-produser, film ini menggambarkan bagaimana Raminten cabaret menjadi wadah ekspresi seni yang inklusif.


Nia Dinata selaku Director dari film “Jagad’e Raminten” menyampaikan, “Gagasan membuat film dokumenter ini sudah ada sejak tahun 2023, ketika Dena masih di London menyelesaikan disertasinya tentang representasi dalam industri film Indonesia. Munculah sosok Raminten dalam benak kami sebagai wujud nyata dari representasi keberagaman dan unconditional love. Melalui Raminten, kita belajar bahwa ketulusan dan penerimaan terhadap perbedaan dapat tumbuh menjadi kekuatan yang memperkuat rasa kemanusiaan. Melalui film ini juga kami bersama seluruh keluarga dan sahabat hendak memberikan penghormatan pada almarhum Hamzah Sulaiman. Sungguh sebuah kehormatan besar bagi kami dapat membawa kisahnya ke mata dunia.”



Dalam kesempatan yang sama, Dena Rachman yang juga terlibat dalam proyek ini sebagai produser dan penulis menyampaikan bahwa keterlibatannya merupakan bentuk upaya untuk menyebarkan simbol kasih, kebaikan, dan keberanian dalam mengekspresikan diri di tengah norma-norma yang ada.


“Lebih dari sekadar hiburan, Raminten adalah sosok yang menyediakan rumah bagi banyak kaum marginal terutama bagi chosen family mereka. Sosok Raminten tidak hanya memperjuangkan inklusivitas di atas panggung, tetapi juga dalam kehidupan nyata dengan menciptakan penghidupan yang layak dan berkelanjutan. Kami merasa terdorong untuk mengabadikan warisan ini dalam sebuah karya yang dapat terus menginspirasi,” ujar Dena.


Lebih dari itu, Melissa Karim selaku Co-produser menambahkan, “Perjalanan membuat dokumenter ini sangat menyentuh dan penuh makna. Kami ingin menangkap esensi sejati Raminten sebagai ikon budaya dan bisnis sekaligus sosok visioner yang membuktikan bahwa pelestarian tradisi bisa berjalan beriringan dengan inovasi dan economic empowerment. Raminten menciptakan ekosistem yang memberdayakan banyak orang, membuka lapangan kerja, dan menjadikan kesenian sebagai sumber penghidupan.”



Yang membuat film ini semakin istimewa adalah karena “Jagad’e Raminten” merupakan persembahan terakhir, sebuah kado penuh cinta dari teman-teman dan keluarga besar untuk mendiang Hamzah Sulaiman. Meski Hamzah Sulaiman telah berpulang sebelum film ini sempat dirilis, semua yang terlibat tahu bahwa beliau sangat menantikan hadirnya kisah ini untuk disaksikan oleh masyarakat luas. Film ini adalah cara untuk meneruskan warisan Raminten, menyebarkan cinta, kepedulian, dan semangat inklusivitas, khususnya bagi masyarakat Yogyakarta yang begitu dekat di hati beliau.


“Bagi kami, dokumenter ini bukan sekadar karya film, tetapi sebuah bentuk penghormatan penuh cinta untuk sosok Bapak kami, almarhum Hamzah Sulaiman. Beliau adalah cahaya bagi begitu banyak orang, baik sebagai pemimpin, sahabat, maupun figur ayah bagi keluarga besar Raminten. Kami sangat tersentuh dan merasa terhormat kisah hidup dan warisannya diabadikan dalam dokumenter ini. Kami berharap film ini dapat menyentuh hati masyarakat Indonesia, khususnya warga Jogja, seperti halnya Bapak telah menyentuh hidup banyak orang dengan kasih dan kebaikannya.” ujar Ratri, Director of House of Raminten.


Pemutaran kedua dari film dokumenter “Jagad’e Raminten” akan dilaksanakan di panggung ARTJOG 2025 yang berlokasi di Jogja National Museum pada tanggal 5 Juli 2025. Dapatkan informasi dan detail dapat dengan mengikuti akun Instagram @ramintenuniverse.



###


Tentang Kalyana Shira Foundation


Website          : kalyanashira.com

Facebook      : Kalyana Shira

YouTube          : Kalyana Shira Films Official

Twitter          : @kalyanashira

Instagram : @ramintenuniverse


Untuk korespondensi media dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi: 


Public Relation 

Mobile   : 081772368110 (Keanaya)

Email     : keanayachandt@gmail.com 


Magnifique PR & Communication Consultant

Mobile       :  +62 896-3584-3286

E-mail        : ssoekowati@magnifique.co.id

Selasa, 17 Juni 2025

Batiga Rilis Single Baru Berjudul 'Narasi Sunyi'

 Batiga Rilis Single Baru Berjudul 'Narasi Sunyi', Kembali Berkumpul Dan Berkarya Setelah Enam Tahun Berpisah



Setelah enam tahun 'beristirahat' dan tak ada aktivasi musikal bersama, Batiga kini kembali mengeluarkan satu karya barunya. Unit sweet pop asal Yogyakarta ini merilis single anyar berjudul 'Narasi Sunyi' pada Senin 9 Juni 2025.

Versi audionya serentak mengudara gerai-gerai musik digital, seperti Spotify, Apple Music, Deezer, dll. Sedangkan untuk format audio visualnya berupa video lirik yang bisa dinikmati di channel YouTube BatigaOfficial pada hari yang sama.

Lirik lagu 'Narasi Sunyi' diciptakan oleh Yunan Patrajuangga dibantu Faber Hutabarat. Lagu ini mencoba menerjemahkan fase legawa dalam menyikapi segala problem dalam kehidupan manusia, seperti adanya seseorang yang tidak bisa dilupakan karena tak bisa bersama.

"Pemaknaan tentang siapa orang tersebut juga luas. Bisa pacar, pasangan, sahabat, bahkan orang tua yang mungkin tidak akan lagi bisa bersama kita dalam pemaknaan nyata atau kiasan, baik secara fisik ataupun rasa," ujar Yunan Patrajuangga mengawali.




Aransemen antar kota antar provinsi saat pandemi

Untuk pengerjaan aransemennya, 'Narasi Sunyi' melewati proses berbeda dari lagu-lagu Batiga sebelumnya. Jika biasanya dikerjakan bersama-sama di dalam sebuah studio, kali ini mereka harus merasakan proses kreatif secara jarak jauh.

"Semua proses produksinya juga kami lakukan secara mandiri dengan peralatan home recording sederhana," ujar Riosa Oktaf.

Saat itu mereka tak bisa berkumpul bersama karena adanya pandemi. Selain itu domisili personelnya juga sedang terpencar di empat kota sekaligus, yakni Jakarta, Bekasi, Medan, dan Jogja. Oleh sebab itu step pembuatan lagu ini dilakukan terpisah antar kota antar provinsi, baik dalam proses penulisan, diskusi, hingga proses rekaman.

Konsep awal 'Narasi Sunyi' pertama kali dibawa Yunan kemudian dikirimkan kepada Andreas DC. Kala itu Yunan hanya mengirimkan voice note (VN) sederhana yang berisi chorus line saja. Lalu oleh Andreas DC dikonversi ke digital audio workstation (DAW) untuk membuat bagan aransemen musiknya.

Proses kreatif Andreas DC juga tak dikerjakan sendiri. Selain mengisi bass, Andreas DC juga dibantu oleh rekan satu kosnya, Ayla Adjie, untuk memberi sentuhan perkusi pada draf awal 'Narasi Sunyi'.

"Setelah jadi bagan lagu, langsung aku kirim guide-nya ke Riosa untuk isi vokal. Selanjutnya draf itu dibagikan ke anak-anak lainnya untuk brainstorming, bedah lirik, dan bagan," kata Andreas DC.

Setelah dirasa cukup, proses rekaman sesungguhnya mulai dilakukan di kota masing-masing. Perekaman drum Talcha diabadikan Cornelius Christyan di Rumah Tua Record, Yogyakarta. Untuk perekaman instrumen gitar dilakukan Luke Ottaviandri secara mandiri di Medan.

Luke pun juga meminta bantuan adiknya, Aza Ardito, untuk mengisi elemen filler/synth dan voicing lainnya pada lagu tersebut. Lalu proses akhir audio, mixing dan mastering diserahkan kepada Sasi Kirono di Satrio Piningit Studio, Yogyakarta. Selain mereka yang membantu dalam proses audio, ada dua orang yang turut andil menyelesaikan visual ‘Narasi Sunyi’. Arga Radikun didapuk untuk menggarap artwork dan Wedhar PJ mengerjakan video lirik.




Berkumpul lagi, merayakan 13 tahun persahabatan

Pada 16 Agustus 2024 lalu, Batiga sudah memasuki usia 13 tahun. Kelima personelnya pun masih tetap sama, yakni Riosa Oktaf, Yunan Patrajuangga, Talcha Sultanik, Luke Ottaviandri, dan Andreas DC.

Bagi Batiga, tahun 2024 juga jadi tahun yang sentimentil untuk mereka. Batiga pun sempat membuat perhelatan showcase sederhana di Jogja. Mereka memainkan 14 repertoar yang terdiri dari 12 lagu baru dan dua lagu lama. Showcase ini jadi penanda bahwa mereka kembali berkarya lagi setelah enam tahun terpisah.

Merilis 'Narasi Sunyi' pun jadi bukti persahabatan musikal Batiga tetap solid meski sudah melampaui dasawarsa. Selain itu, alasan utama mereka adalah kangen. Kelimanya memang merindukan bermusik bareng lagi meski kini tak muda lagi dan sudah berbeda domisili.

Bagi mereka, implementasi kerinduan yang sudah tidak terbendung membuat Batiga bersepakat menentukan cara. Bukan hanya sekadar sapaan verbal, namun cara tersebut harus terwujud nyata melalui karya lagu.

"Kami menyadari tidak mudah berproses dalam keterbatasan jarak, namun harapan kami setidaknya sapaan melalui lagu ini masih ada untuk sahabat semua. Batiga masih ada untuk kalian semua," kata Riosa Oktaf.

"Kami memutuskan merilis karya baru lagi karena merasa bertanggung jawab atas apa yang menjadi passion kami semua yaitu berkarya dengan tulus dari dalam hati," timpal Yunan Patrajuangga.

Tentang rencana masa depan, kelimanya tak punya keinginan muluk-muluk kecuali tetap konsisten berkarya lagi. Setelah 'Narasi Sunyi', Batiga merancang banyak rencana yang akan direalisasikan pelan-pelan.

"Paling dekat untuk rencana berikutnya kami akan merilis beberapa lagu baru lainnya. Mungkin juga akan merilis karya-karya lama kami yang belum sempat terabadikan di gerai-gerai musik digital," ujar Luke Ottaviandri.

"Mengingat kondisi saat ini dengan kesibukan kami masing-masing, kami akan kembali saat 2011, di mana Batiga lahir hanya untuk berkarya, sesederhana itu saja," pungkas Talcha Sultanik.

Sekadar diketahui, Batiga merupakan grup band yang lahir pada 16 Agustus 2011 di Yogyakarta. Batiga merupakan singkatan dari 'balada hati galau'.

Sejak awal berdiri, Batiga masih bertahan dengan kelima personelnya sampai saat ini. Mereka adalah Riosa Oktaf (vokal), Yunan Patrajuangga (kibor), Talcha Sultanik (drum), Luke Ottaviandri (gitar), dan Andreas DC (bass).

Nama Batiga cukup populer di skena pop karena kerap manggung di berbagai pensi, panggung musik lokal, hingga menjadi grup band pembuka musisi-musisi ternama.



Karier Batiga semakin moncer ketika berhasil menjadi pemenang Levi’s Band Hunt 2017. Saat itu Batiga sempat dikontrak oleh Universal Music Indonesia sekaligus mendapat coaching langsung dari Ilman dan Lale (Maliq & D'Essentials). Batiga akhirnya makin dikenal di industri musik nasional setelah melahirkan single 'Cinta Bertuan' pada 2018.