Kamis, 09 Juli 2026

Era Digital Ubah Cara Orang Membaca Berita, Media Lokal Harus Beradaptasi


 

Perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi mendorong media lokal untuk terus beradaptasi agar tetap relevan dan berkelanjutan. 

Di tengah dominasi media sosial, platform video, serta algoritma digital yang semakin memengaruhi distribusi informasi, media tidak lagi cukup hanya mengandalkan jumlah kunjungan situs, tetapi juga perlu membangun hubungan yang kuat dengan audiens, menjaga kredibilitas, serta mengembangkan model bisnis yang adaptif.

Urgensi penguatan media lokal semakin besar seiring meningkatnya konsumsi informasi digital. Berdasarkan data yang telah dihimpun oleh KOMDIGI, pengguna internet Indonesia telah mencapai 221,5 juta orang atau sekitar 79,5 persen dari total populasi. 

Mayoritas masyarakat kini semakin banyak memperoleh informasi melalui media sosial, platform video, aplikasi pesan, hingga rekomendasi algoritma, dibandingkan mengakses laman media secara langsung.

Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) menyelenggarakan forum bertema "Membangun Media Lokal yang Berkelanjutan" di Isvara Riverside, Yogyakarta, Rabu (8/7/2026). 

Kegiatan ini menghadirkan puluhan jurnalis dan pelaku media lokal sebagai ruang diskusi bersama regulator, Dewan Pers, praktisi media, dan pelaku industri untuk membahas strategi memperkuat ekosistem media lokal di tengah transformasi digital yang terus berkembang.

Kegiatan dibuka melalui keynote speech oleh Farida Dewi Maharani, Direktur Ekosistem Media KOMDIGI, yang memaparkan perkembangan lanskap media nasional, perubahan perilaku konsumsi informasi masyarakat, hingga berbagai upaya pemerintah dalam membangun ekosistem media yang sehat, profesional, dan berkelanjutan.

Rangkaian forum dilanjutkan dengan sesi panel bertema "Keberlanjutan Media Lokal: Dari Kredibilitas Menuju Kemandirian" yang menghadirkan Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers, Muhammad Jazuli, sebagai narasumber. Selain itu, Pimpinan Redaksi Tribun Jogja, Ibnu Taufik Juwariyanto, turut menyampaikan paparan mengenai "Mengelola Newsroom yang Efisien untuk Media Lokal".

Pada sesi tersebut dibahas berbagai tantangan yang dihadapi media lokal, mulai dari maraknya penyebaran informasi yang belum terverifikasi, munculnya homeless media, perubahan pola konsumsi berita masyarakat, hingga perkembangan teknologi yang memengaruhi praktik jurnalistik.

Muhammad Jazuli menekankan kredibilitas tetap menjadi modal utama media untuk mempertahankan kepercayaan publik. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, penerapan kode etik jurnalistik menjadi fondasi penting agar media mampu menjaga independensi sekaligus memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, Ibnu Taufik Juwariyanto membagikan pengalaman dalam mengelola newsroom yang adaptif melalui penguatan jejaring daerah, percepatan proses verifikasi informasi, serta optimalisasi sumber daya redaksi agar mampu menghasilkan pemberitaan yang cepat sekaligus akurat.

Selain membahas aspek editorial, forum ini juga mengangkat pentingnya keberlanjutan bisnis media melalui workshop bertajuk "Dari Audiens Menjadi Bisnis: Strategi Produk dan Monetisasi Media" yang dipandu oleh Luthfi Kurniawan, Content Marketing Manager Kompas.com.

Dalam sesi workshop, para peserta diajak memahami tingginya traffic belum tentu menghasilkan bisnis yang sehat. Keberhasilan media justru ditentukan oleh kemampuannya membangun hubungan jangka panjang dengan audiens dan para pemangku kepentingan, menciptakan sumber pendapatan yang berkelanjutan, serta memperoleh repeat order dari mitra bisnis.

Luthfi juga menyoroti semakin melemahnya kendali media terhadap audiens akibat perubahan perilaku masyarakat, dominasi platform teknologi global, serta ketergantungan terhadap algoritma distribusi konten. 



Oleh karena itu, media perlu mengembangkan strategi engagement, memanfaatkan data analytics dalam pengambilan keputusan editorial, memperluas distribusi multiplatform, serta mengoptimalkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung proses produksi konten secara lebih efisien tanpa mengurangi kualitas jurnalistik.

Melalui kegiatan ini, para peserta didorong untuk memperoleh pemahaman mengenai pentingnya membangun media lokal yang tidak hanya kuat dari sisi editorial, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, memperkuat model bisnis, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Forum ini diharapkan menjadi langkah bersama dalam memperkuat ekosistem media lokal Indonesia agar semakin profesional, dipercaya publik, adaptif terhadap perubahan, dan mampu tumbuh secara berkelanjutan di era digital.

Selasa, 07 Juli 2026

Polly Pocket Compact Playset Banyak Dicari, ini 5 Alasan Mengapa Mainan Mini yang Digemari Kolektor



 Sejak pertama kali diperkenalkan oleh Bluebird Toys pada 1989, polly pocket telah menjadi salah satu ikon mainan miniatur yang paling dikenang lintas generasi. Berawal dari sebuah kotak bedak yang diubah menjadi rumah mini untuk boneka kecil, mainan ini kini berevolusi menjadi lini compact playset yang tetap mempertahankan daya tarik nostalgianya. Bagi kolektor, Polly Pocket Compact Playset bukan sekadar mainan anak, melainkan artefak budaya pop yang sarat nilai sejarah. 


Saat ini, popularitas Polly Pocket kembali melonjak berkat berbagai edisi kolektor dan kolaborasi dengan waralaba besar. Jika Anda penasaran mengapa mainan mini ini begitu digemari, berikut lima keunggulan yang menjadikannya incaran para kolektor di seluruh dunia.



Warisan Nostalgia dari Era 1980-an yang Otentik

Polly Pocket diciptakan pada tahun 1983 oleh Chris Wiggs. Ia menciptakan rumah boneka mini di dalam kotak bedak untuk putrinya. 

Konsep ini kemudian dilisensikan kepada Bluebird Toys dan resmi diluncurkan pada 1989 dengan 37 set yang dirilis di tahun pertamanya. Kesuksesan ini bahkan menyelamatkan Bluebird Toys dari kemerosotan bisnis, dengan Polly Pocket dan lini Mighty Max menyumbang 87 persen total penjualan perusahaan pada pertengahan 1990-an.


Setiap compact playset membawa cerita awal yang otentik, membuatnya lebih dari sekadar mainan biasa. Warisan sejarah inilah yang menjadi fondasi nilai nostalgia yang terus dilestarikan dalam produk masa kini. 



Rekayasa Miniatur yang Rumit dalam Ruang Terbatas

Keunggulan khas Polly Pocket terletak pada kemampuannya menghadirkan dunia miniatur yang detail di dalam compact berukuran kecil. Compact klasik Bluebird 1989 dirancang dengan boneka setinggi sekitar 2 cm yang memiliki basis melingkar untuk mengunci posisi mereka di titik-titik tertentu, sebuah solusi rekayasa cerdas yang membuat mainan tetap kokoh. 


Elemen kejutan tersembunyi juga menjadi obsesi tim desain dalam setiap perilisan. Anda bisa menemukan pintu kecil yang terbuka, tangga berputar, atau aksesori mini yang memperkaya pengalaman bermain.


Portabilitas sebagai Ciri Khas Storytelling Berjalan

Sejak awal kemunculannya, keunggulan utama Polly Pocket adalah portabilitasnya. Polly Pocket dapat dibawa ke mana saja dan menutup dengan sekali klik saat permainan usai. 


Ciri khas ini tetap dipertahankan hingga kini. Banyak compact modern bahkan dilengkapi keychain clip yang memungkinkan Anda menggantungkannya di tas sebagai aksesoris. 


Nilai Koleksi yang Terus Meningkat dari Waktu ke Waktu

Compact Polly Pocket asli buatan Bluebird kini menjadi barang koleksi yang sangat diminati. Set-set dalam kondisi mint dapat terjual hingga ratusan dolar di platform lelang seperti eBay. Set ikonik seperti Townhouse, Fairylight Wonderland, dan Starlight Castle disebut sebagai incaran utama karena kelangkaannya.


Menyadari besarnya minat ini, Mattel meluncurkan lini Polly Pocket Keepsake Collection yang menghadirkan kembali compact ikonik dari masa lalu, seperti Starlight Castle Compact (2021) dan Starlight Dinner Party Compact (2023). 


Kolaborasi Eksklusif yang Memperluas Daya Tarik bagi Kolektor Dewasa

Polly Pocket kini juga menyasar kolektor dewasa melalui rangkaian compact kolaborasi edisi terbatas dengan berbagai waralaba populer. Mattel Creations telah merilis compact bertema Harry Potter, Stranger Things, The Office, Wicked, Peanuts, Bridgerton, hingga edisi khusus perayaan 80 tahun Mattel. Setiap compact kolaborasi menghadirkan boneka mikro karakter ikonik lengkap dengan lokasi dan aksesori tematik.



Strategi ini memperluas daya tarik Polly Pocket melampaui segmen anak-anak. Sekarang, mainan ini menjadi barang koleksi lintas generasi yang digemari penggemar budaya pop dewasa.


Polly Pocket Compact Playset layak menjadi harta karun tersendiri bagi para kolektor mainan sejati. Setiap compact bukan hanya menyimpan dunia miniatur yang detail, tetapi juga sepenggal kisah sejarah mainan yang terus relevan hingga kini.


Jika Anda ingin menambah koleksi Polly Pocket kesayangan, kunjungi Blibli untuk menemukan berbagai pilihan compact playset, mulai dari edisi klasik hingga kolaborasi kolektor, dengan jaminan produk original dan kemudahan belanja yang aman. Jangan lewatkan kesempatan memiliki bagian dari sejarah mainan mini yang tak lekang oleh waktu.

Minggu, 28 Juni 2026

Playback Theatre "Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion" Kisah Pakaian Daerah Indonesia



 "Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion" sebuah playback theatre yang mengangkat kisah tentang pakaian daerah di Indonesia.

“Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” menggunakan pendekatan Playback Theatre, sebuah bentuk teater partisipatif yang menghadirkan cerita-cerita tentang pakaian daerah dari berbagai latar budaya di Indonesia. Kisah dari para narasumber tentang filosofi, makna, serta pengalaman mereka dengan pakaian daerah yang dimiliki atau pernah dikenakan disusun menjadi adegan di panggung.

Pakaian daerah merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang terus bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman. Tidak hanya dikenakan dalam upacara adat atau perayaan budaya, berbagai unsur pakaian daerah kini juga hadir dalam dunia fashion modern melalui inovasi desain, pemilihan material, hingga cara pemakaiannya. 



Adaptasi tersebut menunjukkan bahwa pakaian daerah bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari identitas budaya yang terus hidup dan menemukan relevansinya dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Berangkat dari dinamika tersebut, pertunjukan teater bertajuk “Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” digelar.

Disutradarai oleh B. Verry Handayani, “Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” menghadirkan beragam cerita tentang pakaian daerah yang tidak hanya menyimpan filosofi dan nilai kehidupan, tetapi juga pengalaman personal yang terus diwariskan dan dimaknai ulang dari generasi ke generasi.



“Baju daerah melambangkan kekayaan budaya Indonesia. Mungkin ada baiknya juga, sambil berusaha terus mengangkatnya ke level yg lebih luas, kita mengetahui cerita di sebaliknya, agar kebanggaan atas ke-Indonesia-an kita sebagai bangsa yg bhinneka, menjadi lebih bermakna,” tutur sutradara pertunjukan ini, Verry Handayani.

Mengusung semangat Bhinneka Tunggal Ika, pertunjukan teater “Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” mempertemukan beragam suara dan pengalaman dari berbagai latar belakang budaya tentang pakaian yang menyimpan makna.

Melalui kisah-kisah yang hadir di atas panggung, penonton diajak memandang pakaian daerah sebagai jejak budaya yang menyimpan pengetahuan, nilai, dan pengalaman kolektif masyarakat Indonesia. Setiap helai kain menjadi ruang cerita yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus menunjukkan bagaimana keberagaman budaya tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari.



Tidak hanya itu, penonton juga dilibatkan sebagai partisipan yang dapat berbagi pengalaman pribadi terkait memakai pakaian daerah maupun berbagai item pakaian yang lekat dengan kebiasaan sehari-hari. Sejumlah cerita di panggung diperankan oleh Davin Ezra Pradipta, Mailani Sumelang, Muhammad Dinu Imansyah, Regina Gandes Mutiary, Veronika Erlina Harimastuti.

Pertunjukan ini berkolaborasi dengan fashion desainer Luthfi Majid, pemilik Jenama Limaniac, yang menghadirkan perspektif fashion dalam melihat bagaimana pakaian daerah terus beradaptasi dan menemukan ruang baru di tengah perkembangan zaman.

“Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” digelar pada Kamis dan Jumat, 25 dan 26 Juni 2026 di Ruang Galeri Pascasarjana ISI Yogyakarta Jalan Suryodiningratan No. 8, Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

Selain pertunjukan teater, penonton juga dapat mengunjungi lapak yang menghadirkan berbagai produk artisan dan jasa bernuansa etnik. Lapak ini dapat diakses sebelum maupun setelah pertunjukan berlangsung, sehingga penonton memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para pelaku usaha kreatif yang mengangkat kekayaan budaya melalui karya dan layanannya. 

Sebagai bagian dari pengalaman acara, setiap penonton perlu menukar voucher yang dapat digunakan untuk mendapatkan penawaran khusus dari para peserta lapak.

Pertunjukan ini mendapat dukungan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan dan LPDP melalui program Dana Abadi Kebudayaan, sekaligus menjadi bagian dari upaya menghadirkan praktik seni yang menghubungkan ekspresi budaya, kreativitas, dan partisipasi publik.

Rabu, 17 Juni 2026

Karnamereka, Tidak Apa-apa Menangis dan Tidak Harus Selalu Terlihat Kuat




Karnamereka band pop punk asal Wates, Kulonprogo kembali meluncurkan single baru berjudul Nestapa di Penghujung Senja, sebuah lagu yang mengajak pendengar untuk belajar berdamai dengan kesedihan. Karnamereka ingin mengingatkan bahwa tidak apa-apa untuk menangis dan tidak harus selalu terlihat kuat

Lirik Nestapa Di Penghujung Senja mengangkat kisah seseorang yang sedang berada dalam fase berat kehidupan. Lagu ini berbicara tentang kelelahan, kesedihan, dan perjuangan menghadapi berbagai tekanan yang datang silih berganti.

Di balik nuansa sendunya, lagu ini membawa pesan yang hangat dan penuh harapan. Karnamereka ingin mengingatkan bahwa tidak apa-apa untuk menangis dan tidak harus selalu terlihat kuat di hadapan orang lain.



Nestapa di Penghujung Senja sudah dirilis sejak 3 Juni 2026 dan sudah bisa dinikmati melalui gerai-gerai musik online, Digital Streaming Platform (DSP) dan tayang di kanal youtube resmi Karnamereka.


Proses penciptaan Nestapa Di Penghujung Senja diawali dari Hero Herda yang menulis lirik sekaligus merancang melodi dasar lagu. Setelah itu, seluruh personel berdiskusi untuk menentukan benang merah aransemen yang paling tepat dalam menerjemahkan emosi yang ingin disampaikan.


"Kami bertiga sudah terbiasa merancang lagu dengan ritme kerja masing-masing. Ketika pola dasarnya sudah jadi, bentuk akhir lagunya biasanya cepat terbentuk saat kami bertemu di studio," jelas Hero Herda, vokalis merangkap gitaris Karnamereka.



"Kesedihan adalah bagian dari perjalanan hidup yang perlu diterima. Tidak semua orang harus terus-menerus terlihat baik-baik saja. Kadang kita hanya perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan semuanya," lanjut Hero Herda.

Dengan Nestapa Di Penghujung Senja, Karnamereka kembali menunjukkan bahwa musik pop punk tidak selalu harus disampaikan dengan ledakan energi. Terkadang, pesan yang paling kuat justru lahir dari keberanian untuk mengakui rasa lelah, menerima kesedihan, dan tetap melangkah menuju harapan.


Single ini melanjutkan warna musikal yang mulai terasa sejak lagu-lagu seperti Titik Nadir dan Di Persimpangan. Jika dahulu Karnamereka identik dengan energi cepat dan agresif khas pop punk, kini mereka semakin nyaman mengeksplorasi tempo medium yang memberikan ruang lebih luas untuk bercerita dan menyampaikan emosi.


Selama 15 tahun berkarya, Karnamereka telah merilis tiga album studio dan satu album live. Nama mereka semakin dikenal secara nasional setelah lagu Ayah Ibu meledak pada 2022 dan menjadi viral di berbagai platform media sosial.

Minggu, 10 Mei 2026

Lulusan SMK Nuzula Husada Sudah Bekerja Sebelum Wisuda

 JogjaUpdate.com ~ Ada yang istimewa di SMK Kesehatan Nuzula Husada tahun 2025/2026 tahun ini, karena sebagian besar lulusan sekolah menengah kejuruan kesehatan ini sudah diterima bekerja sebelum pelaksanaan wisuda purna siswa dilaksanakan.



Lulusan pendidikan kejuruan kini semakin menunjukkan kompetensinya, hal tersebut dibuktikan oleh SMK Kesehatan Nuzula Husada yang berhasil mencetak lulusan siap kerja.


Untuk menandai berakhirnya proses akademik tahun ajaran 2025/2026, SMK Kesehatan Nuzula Husada menyelenggarakan wisuda Purna Siswa Kelas XII, di Ndorogiri Resto, diikuti 27 siswa dari Jurusan Keperawatan dan Farmasi. 



"Wisuda ini merupakan salah satu wisuda yang istimewa karena tahun ini dari total wisudawan dan wisudawati yang diwisuda sebagian besar sudah diterima bekerja di fasilitas layanan kesehatan, baik di apotek, klinik, rumah sakit maupun jasa layanan  kesehatan lainnya, seperti home care, bahkan ada yg bekerja ke Jepang. Selain itu ada juga yang diterima sebagai mahasiswa melalui jalur prestasi, di perguruan tinggi negeri maupun swasta", ujar M. Nur Salim, SH., M.Pd., Gr Kepala Sekolah SMK Nuzula Husada. 


Nur Salim mengajak kepada para wisudawan wisudawati dan orang tua wali bisa membantu dalam mensosialisasikan kepada masyarakat 



Sementara itu Dr. Hj.Gunarmi, SKM., S.Tr.Keb. M.Kes. dalam sambutan nya berpesan, untuk segera melakukan action, bekerja baik didalam ataupun diluar negeri agar dapat meringankan beban orang tua dan selalu upgrade ilmu dan kompetensinya.


Acara ini dihadiri oleh Kepala Balai Dikmen Kabupaten Bantul, Ismunardi, S.Pd., MM, Pengawas Pembina, Dra. Giyarsih, S.Si., M.Pd, Ketua Yayasan Nuzula Husada Dr. Hj. Gunarmi, SKM. S.Tr.Keb. M.Kes. dan para pimpinan Industri layanan kesehatan yang menjadi mitra SMK Nuzula Husada serta wali siswa SMK Kesehatan Nuzula Husada yang diwisuda.


SMK Kesehatan Nuzula Husada merupakan sekolah kejuruan kesehatan yang terletak di Srandakan, Bantul, DI Yogyakarta, memiliki 2 jurusan, yaitu: Teknologi Farmasi dan Keperwawatan/Layanan Kesehatan.


SMK Kesehatan Nuzula Husada diharapkan bisa menjadi jembatan menuju dunia kerja dan pendidikan tinggi melalui kerjasama dengan berbagai kampus baik di dalam maupun di luar DI Yogyakarta, serta membuka peluang kerja di dalam dan luar negeri. (080526/26)


Sabtu, 25 April 2026

Merawat Kincir Air Tradisional di Sumatera Barat ; Menyelamatkan Alam dan Lingkungan

Yayasan Umar Kayam bekerjasama dengan The British Museum sedang melakukan pendokumentasian kincir air tradisional di Sumatera Barat dalam program bernama Endagered Material Knowledge Program.



Menurut Marjito Iskandar Tri Gunawan selaku peneliti Yayasan Umar Kayam, ia menyebutkan bahwa program pendokumentasian ini ingin merespons kembali keberadaan kincir air tradisional sebagai bagian dari praktik budaya di Minangkabau yang telah dipraktekkan secara turun temurun. 

“Setidaknya menurut catatan Sir Thomas Smaford Raflles saat melakukan ekspedisi ke Sumatera tahun 1818, ia menyatakan bahwa Raffles meyakini bahwa teknologi kincir air tradisional di Minangkabau merupakan teknologi asli Minangkabau, dimana Rafles belum pernah melihat teknologi kincir air itu di daerah lain di Nusantara atau Hindia Timur seperti Jawa.” Kata Marjito Iskandar.

Di Sumatera Barat, terdapat sejumlah kincir air tradisional yang dipergunakan secara turun temurun untuk pengairan sawah, penumbuk beras/tepung. Belakangan juga kincir air sebagai mikrohidro/pembangkit listrik skala kecil.



Kincir air tradisional untuk penumbuk beras/tepung di Sumatera Barat semakin langka dan menghadapi ancaman kepunahan karena hadirnya teknologi modern, juga deforestrasi yang mengancam sumber-sumber air, serta bahan/material utama kincir air tradisional berupa kayu dan bambu sulit diperoleh.  

“Yayasan Umar Kayam sedang melakukan penelitian dan pendokumentasian mengenai kincir air tradisional tersebut dengan cara merestorasi (membuat kembali, red) kincir air tradisional untuk pengairan sawah menggunakan bahan bambu, kincir air untuk penumbuk tepung menggunakan bahan kayu, serta kincir air untuk listrik.” Jelas Marjito Iskandar Tri Gunawan.

Lebih lanjut Budhi Hermanto selaku salah satu peneliti Yayasan Umar Kayam menerangkan bahwa mereka mendokumentasikan proses pembuatan, perakitan, dan pengoperasiannya menggunakan format video, fotografi, animasi, audio dan catatan.



“Kami membayangkan kelak bisa menghasilkan arsip data dan dokumen dalam format digital sebagai sumber pengetahuan bagi generasi mendatang tentang kincir air tradisional di Sumatera Barat ini.” Ujar Budhi Hermanto

Salah satu kincir air tradisional berbahan bambu yang telah berhasil dibuat dan didokumentasikan akan kincir ar berdiameter kurang lebih 8 meter di sungai/batang Sinamar, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota. Kincir air ini mampu mengairi sawah hingga 4 hektar.

Proses restorasi dan pendokumentasian masih dilakukan untuk kincir air untuk mikrohidro/pembangkit listrik skala kecil di Palembayan, Kabupaten Agam, dan kincir air tradisional untuk penumbuk beras/tepung di Pariaman.



Tim peneliti Yayasan Umar Kayam memandang pendokumentasian ini penting dilakukan untuk melindungi dan merawat kelestarian kincir air tradisional, sekaligus bagian dari upaya pendidikan perubahan iklim bagi masyarakat, dimana perubahan iklim dewasa ini bisa memengaruhi ekologi air sungai yang menjadi elemen penting bagi keberlangsungan operasional kincir air.  Misalnya, deforestasi bisa mengakibatkan debit air berkurang signifikan karena hutan berkurang/hilang, pun apabila hujan deras akan mengakibatkan banjir bandang yang merusak struktur bangunan kincir air tradisional.