Rabu, 05 Agustus 2026

Ratusan Travelers Hadiri Pasa Harau Art & Culture Festival di Lembah Harau



Pasa Harau Art & Culture Festival Ke-8 Tahun 2026 berlangsung cukup meriah di Nagari Harau, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat pada tanggal 31 Juli - 2 Agustus 2026.

Festival yang diselenggarakan oleh Komunitas Pasa Harau ini didukung oleh Program Dana Indonesiaraya, Kementerian Kebudayaan RI.

“Tahun ini kami didukung oleh Program Dana Indonesiaraya Kementerian Kebudayaan RI, dan juga dibantu oleh berbagai mitra kolaborasi dari berbagai sangar seni di Sumatera Barat,  Yayasan Bintang Kidul, Yayasan Umar Kayam, dan Perkumpulan MPM”. Ujar Rahmad Fauzan, Direktur Pasa Harau.



Terlihat sejumlah wisatawan dari berbagai daerah di Sumatera Barat seperti Padang, Sawahlunto, Bukittinggi, Padang Panjang, Agam, dan berbagai daerah Indonesia lainnya  seperti Riau, Jakarta, Yogyakarta, dan bahwa beberapa wisatawan mancanegara ikut menyaksikan festival di tengah Lembah Harau yang indah itu.

Pasa Harau adalah salah satu festival warga di Indonesia yang penyelenggarannya oleh warga dan komunitas budaya setempat.

Dalam sambutannya, Balai Pelestari Kebudayaan (BPK) Wilayah III yang diwakili oleh Roby Satria, M. Hum menyatakan bahwa BPK mengapresiasi penyelenggaraan festival yang sudah berlangsung 8 tahun.



“Tentu tidak mudah menyelenggarakan festival budaya seperti Pasa Harau ini. Banyak festival di Sumatera Barat atau bahkan di Indonesia yang tidak meneruskan akan melanjutkan kegiatan dari tahun ke tahun, namun Pasa Harau mampu untuk bertahan.” Kata Robi Septria dari BPK Wil III Sumatera Barat.

Lebih lanjut Roby Satria menyatakan bahwa Pasa Harau bukan sekedar perhelatan festival, ini merupakan perjumpaan antara tradisi dan kreativitas masyarakat adat, pelaku budaya generasi muda, dan pengunjung yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia. 

“Disinilah kebudayaan dipertontonkan, bahkan dihidupkan dari generasi terdahulu kepada generasi penerus.” Pungkas Roby Satria.



Sementara Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ahlul Badrito Resha yang hadir dalam Festival Pasa Harau menyatakan bahwa  kebudayaan itu bukan semata tarian dan pakaian adat, tetapi ia harus menubuh. Contohnya dalah keramahtamahan terhadap semua tamu yang datang.

“Mari kita jadikan Pasa Harau sebagai inspirasi bahwa pariwisata yang maju adalah pariwisata yang bertumpu pada masyarakat, yakni masyarakat yang menghormati budaya, masyarakat yang menjaga alam, maka para wisatawanpun akan menghormati budaya dan alam kita, agar budaya dan alam kita yang indah ini lestari.” Kata Ahlul Badrito Resha, Wakil Bupati Limapuluh Kota, Sumatera Barat.


Pemberdayaan Ekonomi UMKM Lokal

Syukriandi, Wali Nagari Harau menyambut baik penyelenggaraan Pasa Harau ke-8 tahun 2028. 

“Penyelenggaraan festival kali ini tanda dukungan anggaran dari Nagari, karena kami sedang efisiensi dan keterbatasan anggaran nagari. Namun demikian, kami sangat mendukung kegiatan festival ini yang nyata-nyata berkontribusi dan mendorong pertumbuhan usaha kecil mikro menengah (UMKM) di Harau.” Kata  Syukriandi, Wali Nagari Harau.

Syukriandi berharap, pada tahun 2027 mendatang Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota bisa ikut mendukung dan membiayai festival, karena anggaran nagari terbatas untuk berbagai program prioritas nasional.

Usi, seorang pelaku UMKM penjual pernik dan kopi yang ikut membuka stand di Pasa Harau menyatakan bahwa selama 3 hari festival, pendapatan cukup menyenangkan.

“Semoga tahun depan, Pasa Harau tetap terselenggara dan kami bisa turut serta memeriahkan bazar UMKM. Terimakasih kami kepada penyelenggara festival yang peduli dengan teman-teman UMKM di Lembah Harau.” Ujar Usi.

Sementara Ibu Ina, pedagang lontong sayur menyatakan bahwa pendapatan dari usahanya cukup baik. 

“Sayang kami tidak menyediakan menu sate lebih dari biasanya. Tapi tak apalah, semoga kedepan Pasa Harau menjadi lebih ramai dan dihadiri banyak wisatawan” Kata Ibu Ina.

Hari ketiga festival, Harau Walk Fest Ke-2 menjadi salah satu kegiatan favorit yang diikuti oleh 402 peserta dari berbagai kota di Sumatera Barat, Riau, dan Jakarta. Mereka menempuh rute 5 kilometer dan 10 kilometer mengelilingi lembah Harau yang cantik dan indah.

“Seru banget, apalagi disuguhi pemandangan Lembah Harau yang bagus. Kedepan, kami berharap panitia memperbanyak fotografernya agar kita tidak foto-foto sendiri.” Ujar Ayu, peserta Harau Walk dari Kota Bukitinggi.

Acara Harau Walk Fest adalah penyelenggaraan yang ke-2 setelah tahun 2024 lalu juga sukses dilangsungkan bersamaan dengan Pasa Harau. Rencananya tahun 2027 mendatang, Harau Walk Fest akan tetap dilangsungkan dengan pilihan route walk yang lebih menantang, sebagai kegiatan olahraga dan wisata sekaligus

Senin, 27 Juli 2026

Wali Kota Yogya Ajak Bangun Ekosistem Kesehatan Mental yang Inklusif Bersama PKBI DIY

 Mergangsan – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan pentingnya membangun ekosistem kesehatan mental yang inklusif dan bebas stigma sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara (Keynote Speech) dalam Sarasehan PKBI DIY bertema "Membangun Ekosistem Kesehatan Mental yang Inklusif dan Anti-Stigma" di Kantor Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY, Jumat (24/7).

Hasto mengatakan, kesehatan mental saat ini menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama. Menurutnya, seseorang tidak cukup hanya sehat secara fisik, tetapi juga harus memiliki kondisi mental yang baik agar mampu menjalani kehidupan secara produktif.



"Tema mental health ini sangat bagus, sehingga PKBI bersama Pemerintah Kota Yogyakarta nantinya bisa bersama-sama menggarap isu kesehatan mental. Kita ingin SDM itu sehat bukan hanya secara fisik, tetapi juga sehat secara mental," ujar Hasto.

Ia juga mengungkapkan gagasannya untuk menghadirkan shelter atau rumah singgah dengan konsep intermediate care, yakni tempat transisi bagi penyintas gangguan kesehatan mental yang kondisinya sudah membaik dan tidak lagi memerlukan perawatan di rumah sakit jiwa, namun belum siap kembali ke lingkungan keluarga.


"Saya bercita-cita bagaimana bisa membangun shelter yang sifatnya perawatan intermediate. Jadi ketika seseorang sudah tidak perlu dirawat di rumah sakit jiwa karena sudah mulai mandiri, tetapi keluarganya belum siap menerima, mereka tetap memiliki tempat yang aman. Ke depan hal ini akan kami pikirkan bersama PKBI," katanya.



Sementara itu, Ketua PKBI DIY Budhi Hermanto menjelaskan bahwa PKBI selama ini berfokus pada layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang komprehensif, mulai dari edukasi, pencegahan, hingga pendampingan bagi masyarakat yang menghadapi persoalan kesehatan reproduksi maupun kesehatan mental.


Ia menjelaskan, layanan PKBI tidak hanya memberikan edukasi mengenai kesehatan reproduksi kepada anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, tetapi juga melakukan advokasi bagi korban kekerasan seksual, pendampingan hukum, hingga menyediakan shelter bagi perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan.



"Core layanan kami adalah kesehatan seksual dan reproduksi yang komprehensif. Kami melakukan advokasi, mendampingi korban kekerasan seksual sampai proses hukum, dan menyediakan shelter bagi yang membutuhkan. Misalnya perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan agar mereka berada di tempat yang aman sampai proses persalinan selesai," ujar Budhi.

Menurutnya, pendampingan terhadap kasus kesehatan seksual dan reproduksi sering kali tidak mudah karena melibatkan persoalan psikologis, sosial, hingga penerimaan keluarga.



"Kasus-kasus seperti ini sangat kompleks. Misalnya korban kekerasan seksual yang kemudian hamil, sementara ia sendiri menolak kehadiran anak tersebut dan keluarganya juga belum bisa menerima. Kami harus memikirkan keberlanjutan hidup ibu maupun anaknya. Karena itu pendampingan harus dilakukan secara menyeluruh," jelasnya.


Selain itu, PKBI juga menjalankan berbagai program lain, seperti pendidikan kesehatan reproduksi di SMP dan SMA, pendampingan remaja di desa, program untuk lansia, pencegahan HIV/AIDS dan tuberkulosis, hingga pendampingan bagi anak atau remaja yang berhadapan dengan hukum agar dapat kembali ke masyarakat dengan kondisi kesehatan mental yang lebih baik.

Budhi menambahkan, pada tahun ini PKBI DIY mulai mengembangkan sistem layanan pemulihan kesehatan mental sebagai salah satu fokus organisasi, tanpa menghentikan program-program yang telah berjalan.



"Tahun ini kami sedang merancang sistem layanan untuk membantu pemulihan kesehatan mental. Karena kesehatan mental itu tidak terlihat. Orang bisa tampak baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang mengalami tekanan yang sangat tinggi," ungkapnya.

Ia juga mengajak masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk tidak ragu mengakses layanan PKBI. Masyarakat dapat menghubungi nomor layanan konselor melalui Hotiline Kantor 08993060008, Konseling 081384595593  atau melalui media sosial instagram @PKBIDIY.


Saat ini PKBI DIY didukung oleh relawan yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di DIY, yakni Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul. PKBI DIY juga memiliki klinik layanan kesehatan di kawasan Bintaran, Kota Yogyakarta, yang ke depan akan dikembangkan dengan layanan khusus kesehatan mental di lantai dua gedung tersebut. (Chi)

Kamis, 09 Juli 2026

Era Digital Ubah Cara Orang Membaca Berita, Media Lokal Harus Beradaptasi


 

Perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi mendorong media lokal untuk terus beradaptasi agar tetap relevan dan berkelanjutan. 

Di tengah dominasi media sosial, platform video, serta algoritma digital yang semakin memengaruhi distribusi informasi, media tidak lagi cukup hanya mengandalkan jumlah kunjungan situs, tetapi juga perlu membangun hubungan yang kuat dengan audiens, menjaga kredibilitas, serta mengembangkan model bisnis yang adaptif.

Urgensi penguatan media lokal semakin besar seiring meningkatnya konsumsi informasi digital. Berdasarkan data yang telah dihimpun oleh KOMDIGI, pengguna internet Indonesia telah mencapai 221,5 juta orang atau sekitar 79,5 persen dari total populasi. 

Mayoritas masyarakat kini semakin banyak memperoleh informasi melalui media sosial, platform video, aplikasi pesan, hingga rekomendasi algoritma, dibandingkan mengakses laman media secara langsung.

Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) menyelenggarakan forum bertema "Membangun Media Lokal yang Berkelanjutan" di Isvara Riverside, Yogyakarta, Rabu (8/7/2026). 

Kegiatan ini menghadirkan puluhan jurnalis dan pelaku media lokal sebagai ruang diskusi bersama regulator, Dewan Pers, praktisi media, dan pelaku industri untuk membahas strategi memperkuat ekosistem media lokal di tengah transformasi digital yang terus berkembang.

Kegiatan dibuka melalui keynote speech oleh Farida Dewi Maharani, Direktur Ekosistem Media KOMDIGI, yang memaparkan perkembangan lanskap media nasional, perubahan perilaku konsumsi informasi masyarakat, hingga berbagai upaya pemerintah dalam membangun ekosistem media yang sehat, profesional, dan berkelanjutan.

Rangkaian forum dilanjutkan dengan sesi panel bertema "Keberlanjutan Media Lokal: Dari Kredibilitas Menuju Kemandirian" yang menghadirkan Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers, Muhammad Jazuli, sebagai narasumber. Selain itu, Pimpinan Redaksi Tribun Jogja, Ibnu Taufik Juwariyanto, turut menyampaikan paparan mengenai "Mengelola Newsroom yang Efisien untuk Media Lokal".

Pada sesi tersebut dibahas berbagai tantangan yang dihadapi media lokal, mulai dari maraknya penyebaran informasi yang belum terverifikasi, munculnya homeless media, perubahan pola konsumsi berita masyarakat, hingga perkembangan teknologi yang memengaruhi praktik jurnalistik.

Muhammad Jazuli menekankan kredibilitas tetap menjadi modal utama media untuk mempertahankan kepercayaan publik. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, penerapan kode etik jurnalistik menjadi fondasi penting agar media mampu menjaga independensi sekaligus memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, Ibnu Taufik Juwariyanto membagikan pengalaman dalam mengelola newsroom yang adaptif melalui penguatan jejaring daerah, percepatan proses verifikasi informasi, serta optimalisasi sumber daya redaksi agar mampu menghasilkan pemberitaan yang cepat sekaligus akurat.

Selain membahas aspek editorial, forum ini juga mengangkat pentingnya keberlanjutan bisnis media melalui workshop bertajuk "Dari Audiens Menjadi Bisnis: Strategi Produk dan Monetisasi Media" yang dipandu oleh Luthfi Kurniawan, Content Marketing Manager Kompas.com.

Dalam sesi workshop, para peserta diajak memahami tingginya traffic belum tentu menghasilkan bisnis yang sehat. Keberhasilan media justru ditentukan oleh kemampuannya membangun hubungan jangka panjang dengan audiens dan para pemangku kepentingan, menciptakan sumber pendapatan yang berkelanjutan, serta memperoleh repeat order dari mitra bisnis.

Luthfi juga menyoroti semakin melemahnya kendali media terhadap audiens akibat perubahan perilaku masyarakat, dominasi platform teknologi global, serta ketergantungan terhadap algoritma distribusi konten. 



Oleh karena itu, media perlu mengembangkan strategi engagement, memanfaatkan data analytics dalam pengambilan keputusan editorial, memperluas distribusi multiplatform, serta mengoptimalkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung proses produksi konten secara lebih efisien tanpa mengurangi kualitas jurnalistik.

Melalui kegiatan ini, para peserta didorong untuk memperoleh pemahaman mengenai pentingnya membangun media lokal yang tidak hanya kuat dari sisi editorial, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, memperkuat model bisnis, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Forum ini diharapkan menjadi langkah bersama dalam memperkuat ekosistem media lokal Indonesia agar semakin profesional, dipercaya publik, adaptif terhadap perubahan, dan mampu tumbuh secara berkelanjutan di era digital.

Selasa, 07 Juli 2026

Polly Pocket Compact Playset Banyak Dicari, ini 5 Alasan Mengapa Mainan Mini yang Digemari Kolektor



 Sejak pertama kali diperkenalkan oleh Bluebird Toys pada 1989, polly pocket telah menjadi salah satu ikon mainan miniatur yang paling dikenang lintas generasi. Berawal dari sebuah kotak bedak yang diubah menjadi rumah mini untuk boneka kecil, mainan ini kini berevolusi menjadi lini compact playset yang tetap mempertahankan daya tarik nostalgianya. Bagi kolektor, Polly Pocket Compact Playset bukan sekadar mainan anak, melainkan artefak budaya pop yang sarat nilai sejarah. 


Saat ini, popularitas Polly Pocket kembali melonjak berkat berbagai edisi kolektor dan kolaborasi dengan waralaba besar. Jika Anda penasaran mengapa mainan mini ini begitu digemari, berikut lima keunggulan yang menjadikannya incaran para kolektor di seluruh dunia.



Warisan Nostalgia dari Era 1980-an yang Otentik

Polly Pocket diciptakan pada tahun 1983 oleh Chris Wiggs. Ia menciptakan rumah boneka mini di dalam kotak bedak untuk putrinya. 

Konsep ini kemudian dilisensikan kepada Bluebird Toys dan resmi diluncurkan pada 1989 dengan 37 set yang dirilis di tahun pertamanya. Kesuksesan ini bahkan menyelamatkan Bluebird Toys dari kemerosotan bisnis, dengan Polly Pocket dan lini Mighty Max menyumbang 87 persen total penjualan perusahaan pada pertengahan 1990-an.


Setiap compact playset membawa cerita awal yang otentik, membuatnya lebih dari sekadar mainan biasa. Warisan sejarah inilah yang menjadi fondasi nilai nostalgia yang terus dilestarikan dalam produk masa kini. 



Rekayasa Miniatur yang Rumit dalam Ruang Terbatas

Keunggulan khas Polly Pocket terletak pada kemampuannya menghadirkan dunia miniatur yang detail di dalam compact berukuran kecil. Compact klasik Bluebird 1989 dirancang dengan boneka setinggi sekitar 2 cm yang memiliki basis melingkar untuk mengunci posisi mereka di titik-titik tertentu, sebuah solusi rekayasa cerdas yang membuat mainan tetap kokoh. 


Elemen kejutan tersembunyi juga menjadi obsesi tim desain dalam setiap perilisan. Anda bisa menemukan pintu kecil yang terbuka, tangga berputar, atau aksesori mini yang memperkaya pengalaman bermain.


Portabilitas sebagai Ciri Khas Storytelling Berjalan

Sejak awal kemunculannya, keunggulan utama Polly Pocket adalah portabilitasnya. Polly Pocket dapat dibawa ke mana saja dan menutup dengan sekali klik saat permainan usai. 


Ciri khas ini tetap dipertahankan hingga kini. Banyak compact modern bahkan dilengkapi keychain clip yang memungkinkan Anda menggantungkannya di tas sebagai aksesoris. 


Nilai Koleksi yang Terus Meningkat dari Waktu ke Waktu

Compact Polly Pocket asli buatan Bluebird kini menjadi barang koleksi yang sangat diminati. Set-set dalam kondisi mint dapat terjual hingga ratusan dolar di platform lelang seperti eBay. Set ikonik seperti Townhouse, Fairylight Wonderland, dan Starlight Castle disebut sebagai incaran utama karena kelangkaannya.


Menyadari besarnya minat ini, Mattel meluncurkan lini Polly Pocket Keepsake Collection yang menghadirkan kembali compact ikonik dari masa lalu, seperti Starlight Castle Compact (2021) dan Starlight Dinner Party Compact (2023). 


Kolaborasi Eksklusif yang Memperluas Daya Tarik bagi Kolektor Dewasa

Polly Pocket kini juga menyasar kolektor dewasa melalui rangkaian compact kolaborasi edisi terbatas dengan berbagai waralaba populer. Mattel Creations telah merilis compact bertema Harry Potter, Stranger Things, The Office, Wicked, Peanuts, Bridgerton, hingga edisi khusus perayaan 80 tahun Mattel. Setiap compact kolaborasi menghadirkan boneka mikro karakter ikonik lengkap dengan lokasi dan aksesori tematik.



Strategi ini memperluas daya tarik Polly Pocket melampaui segmen anak-anak. Sekarang, mainan ini menjadi barang koleksi lintas generasi yang digemari penggemar budaya pop dewasa.


Polly Pocket Compact Playset layak menjadi harta karun tersendiri bagi para kolektor mainan sejati. Setiap compact bukan hanya menyimpan dunia miniatur yang detail, tetapi juga sepenggal kisah sejarah mainan yang terus relevan hingga kini.


Jika Anda ingin menambah koleksi Polly Pocket kesayangan, kunjungi Blibli untuk menemukan berbagai pilihan compact playset, mulai dari edisi klasik hingga kolaborasi kolektor, dengan jaminan produk original dan kemudahan belanja yang aman. Jangan lewatkan kesempatan memiliki bagian dari sejarah mainan mini yang tak lekang oleh waktu.

Minggu, 28 Juni 2026

Playback Theatre "Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion" Kisah Pakaian Daerah Indonesia



 "Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion" sebuah playback theatre yang mengangkat kisah tentang pakaian daerah di Indonesia.

“Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” menggunakan pendekatan Playback Theatre, sebuah bentuk teater partisipatif yang menghadirkan cerita-cerita tentang pakaian daerah dari berbagai latar budaya di Indonesia. Kisah dari para narasumber tentang filosofi, makna, serta pengalaman mereka dengan pakaian daerah yang dimiliki atau pernah dikenakan disusun menjadi adegan di panggung.

Pakaian daerah merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang terus bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman. Tidak hanya dikenakan dalam upacara adat atau perayaan budaya, berbagai unsur pakaian daerah kini juga hadir dalam dunia fashion modern melalui inovasi desain, pemilihan material, hingga cara pemakaiannya. 



Adaptasi tersebut menunjukkan bahwa pakaian daerah bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari identitas budaya yang terus hidup dan menemukan relevansinya dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Berangkat dari dinamika tersebut, pertunjukan teater bertajuk “Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” digelar.

Disutradarai oleh B. Verry Handayani, “Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” menghadirkan beragam cerita tentang pakaian daerah yang tidak hanya menyimpan filosofi dan nilai kehidupan, tetapi juga pengalaman personal yang terus diwariskan dan dimaknai ulang dari generasi ke generasi.



“Baju daerah melambangkan kekayaan budaya Indonesia. Mungkin ada baiknya juga, sambil berusaha terus mengangkatnya ke level yg lebih luas, kita mengetahui cerita di sebaliknya, agar kebanggaan atas ke-Indonesia-an kita sebagai bangsa yg bhinneka, menjadi lebih bermakna,” tutur sutradara pertunjukan ini, Verry Handayani.

Mengusung semangat Bhinneka Tunggal Ika, pertunjukan teater “Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” mempertemukan beragam suara dan pengalaman dari berbagai latar belakang budaya tentang pakaian yang menyimpan makna.

Melalui kisah-kisah yang hadir di atas panggung, penonton diajak memandang pakaian daerah sebagai jejak budaya yang menyimpan pengetahuan, nilai, dan pengalaman kolektif masyarakat Indonesia. Setiap helai kain menjadi ruang cerita yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus menunjukkan bagaimana keberagaman budaya tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari.



Tidak hanya itu, penonton juga dilibatkan sebagai partisipan yang dapat berbagi pengalaman pribadi terkait memakai pakaian daerah maupun berbagai item pakaian yang lekat dengan kebiasaan sehari-hari. Sejumlah cerita di panggung diperankan oleh Davin Ezra Pradipta, Mailani Sumelang, Muhammad Dinu Imansyah, Regina Gandes Mutiary, Veronika Erlina Harimastuti.

Pertunjukan ini berkolaborasi dengan fashion desainer Luthfi Majid, pemilik Jenama Limaniac, yang menghadirkan perspektif fashion dalam melihat bagaimana pakaian daerah terus beradaptasi dan menemukan ruang baru di tengah perkembangan zaman.

“Bajuku, Bajumu, Bhinneka in Fashion” digelar pada Kamis dan Jumat, 25 dan 26 Juni 2026 di Ruang Galeri Pascasarjana ISI Yogyakarta Jalan Suryodiningratan No. 8, Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

Selain pertunjukan teater, penonton juga dapat mengunjungi lapak yang menghadirkan berbagai produk artisan dan jasa bernuansa etnik. Lapak ini dapat diakses sebelum maupun setelah pertunjukan berlangsung, sehingga penonton memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para pelaku usaha kreatif yang mengangkat kekayaan budaya melalui karya dan layanannya. 

Sebagai bagian dari pengalaman acara, setiap penonton perlu menukar voucher yang dapat digunakan untuk mendapatkan penawaran khusus dari para peserta lapak.

Pertunjukan ini mendapat dukungan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan dan LPDP melalui program Dana Abadi Kebudayaan, sekaligus menjadi bagian dari upaya menghadirkan praktik seni yang menghubungkan ekspresi budaya, kreativitas, dan partisipasi publik.

Rabu, 17 Juni 2026

Karnamereka, Tidak Apa-apa Menangis dan Tidak Harus Selalu Terlihat Kuat




Karnamereka band pop punk asal Wates, Kulonprogo kembali meluncurkan single baru berjudul Nestapa di Penghujung Senja, sebuah lagu yang mengajak pendengar untuk belajar berdamai dengan kesedihan. Karnamereka ingin mengingatkan bahwa tidak apa-apa untuk menangis dan tidak harus selalu terlihat kuat

Lirik Nestapa Di Penghujung Senja mengangkat kisah seseorang yang sedang berada dalam fase berat kehidupan. Lagu ini berbicara tentang kelelahan, kesedihan, dan perjuangan menghadapi berbagai tekanan yang datang silih berganti.

Di balik nuansa sendunya, lagu ini membawa pesan yang hangat dan penuh harapan. Karnamereka ingin mengingatkan bahwa tidak apa-apa untuk menangis dan tidak harus selalu terlihat kuat di hadapan orang lain.



Nestapa di Penghujung Senja sudah dirilis sejak 3 Juni 2026 dan sudah bisa dinikmati melalui gerai-gerai musik online, Digital Streaming Platform (DSP) dan tayang di kanal youtube resmi Karnamereka.


Proses penciptaan Nestapa Di Penghujung Senja diawali dari Hero Herda yang menulis lirik sekaligus merancang melodi dasar lagu. Setelah itu, seluruh personel berdiskusi untuk menentukan benang merah aransemen yang paling tepat dalam menerjemahkan emosi yang ingin disampaikan.


"Kami bertiga sudah terbiasa merancang lagu dengan ritme kerja masing-masing. Ketika pola dasarnya sudah jadi, bentuk akhir lagunya biasanya cepat terbentuk saat kami bertemu di studio," jelas Hero Herda, vokalis merangkap gitaris Karnamereka.



"Kesedihan adalah bagian dari perjalanan hidup yang perlu diterima. Tidak semua orang harus terus-menerus terlihat baik-baik saja. Kadang kita hanya perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan semuanya," lanjut Hero Herda.

Dengan Nestapa Di Penghujung Senja, Karnamereka kembali menunjukkan bahwa musik pop punk tidak selalu harus disampaikan dengan ledakan energi. Terkadang, pesan yang paling kuat justru lahir dari keberanian untuk mengakui rasa lelah, menerima kesedihan, dan tetap melangkah menuju harapan.


Single ini melanjutkan warna musikal yang mulai terasa sejak lagu-lagu seperti Titik Nadir dan Di Persimpangan. Jika dahulu Karnamereka identik dengan energi cepat dan agresif khas pop punk, kini mereka semakin nyaman mengeksplorasi tempo medium yang memberikan ruang lebih luas untuk bercerita dan menyampaikan emosi.


Selama 15 tahun berkarya, Karnamereka telah merilis tiga album studio dan satu album live. Nama mereka semakin dikenal secara nasional setelah lagu Ayah Ibu meledak pada 2022 dan menjadi viral di berbagai platform media sosial.

Minggu, 10 Mei 2026

Lulusan SMK Nuzula Husada Sudah Bekerja Sebelum Wisuda

 JogjaUpdate.com ~ Ada yang istimewa di SMK Kesehatan Nuzula Husada tahun 2025/2026 tahun ini, karena sebagian besar lulusan sekolah menengah kejuruan kesehatan ini sudah diterima bekerja sebelum pelaksanaan wisuda purna siswa dilaksanakan.



Lulusan pendidikan kejuruan kini semakin menunjukkan kompetensinya, hal tersebut dibuktikan oleh SMK Kesehatan Nuzula Husada yang berhasil mencetak lulusan siap kerja.


Untuk menandai berakhirnya proses akademik tahun ajaran 2025/2026, SMK Kesehatan Nuzula Husada menyelenggarakan wisuda Purna Siswa Kelas XII, di Ndorogiri Resto, diikuti 27 siswa dari Jurusan Keperawatan dan Farmasi. 



"Wisuda ini merupakan salah satu wisuda yang istimewa karena tahun ini dari total wisudawan dan wisudawati yang diwisuda sebagian besar sudah diterima bekerja di fasilitas layanan kesehatan, baik di apotek, klinik, rumah sakit maupun jasa layanan  kesehatan lainnya, seperti home care, bahkan ada yg bekerja ke Jepang. Selain itu ada juga yang diterima sebagai mahasiswa melalui jalur prestasi, di perguruan tinggi negeri maupun swasta", ujar M. Nur Salim, SH., M.Pd., Gr Kepala Sekolah SMK Nuzula Husada. 


Nur Salim mengajak kepada para wisudawan wisudawati dan orang tua wali bisa membantu dalam mensosialisasikan kepada masyarakat 



Sementara itu Dr. Hj.Gunarmi, SKM., S.Tr.Keb. M.Kes. dalam sambutan nya berpesan, untuk segera melakukan action, bekerja baik didalam ataupun diluar negeri agar dapat meringankan beban orang tua dan selalu upgrade ilmu dan kompetensinya.


Acara ini dihadiri oleh Kepala Balai Dikmen Kabupaten Bantul, Ismunardi, S.Pd., MM, Pengawas Pembina, Dra. Giyarsih, S.Si., M.Pd, Ketua Yayasan Nuzula Husada Dr. Hj. Gunarmi, SKM. S.Tr.Keb. M.Kes. dan para pimpinan Industri layanan kesehatan yang menjadi mitra SMK Nuzula Husada serta wali siswa SMK Kesehatan Nuzula Husada yang diwisuda.


SMK Kesehatan Nuzula Husada merupakan sekolah kejuruan kesehatan yang terletak di Srandakan, Bantul, DI Yogyakarta, memiliki 2 jurusan, yaitu: Teknologi Farmasi dan Keperwawatan/Layanan Kesehatan.


SMK Kesehatan Nuzula Husada diharapkan bisa menjadi jembatan menuju dunia kerja dan pendidikan tinggi melalui kerjasama dengan berbagai kampus baik di dalam maupun di luar DI Yogyakarta, serta membuka peluang kerja di dalam dan luar negeri. (080526/26)


Sabtu, 25 April 2026

Merawat Kincir Air Tradisional di Sumatera Barat ; Menyelamatkan Alam dan Lingkungan

Yayasan Umar Kayam bekerjasama dengan The British Museum sedang melakukan pendokumentasian kincir air tradisional di Sumatera Barat dalam program bernama Endagered Material Knowledge Program.



Menurut Marjito Iskandar Tri Gunawan selaku peneliti Yayasan Umar Kayam, ia menyebutkan bahwa program pendokumentasian ini ingin merespons kembali keberadaan kincir air tradisional sebagai bagian dari praktik budaya di Minangkabau yang telah dipraktekkan secara turun temurun. 

“Setidaknya menurut catatan Sir Thomas Smaford Raflles saat melakukan ekspedisi ke Sumatera tahun 1818, ia menyatakan bahwa Raffles meyakini bahwa teknologi kincir air tradisional di Minangkabau merupakan teknologi asli Minangkabau, dimana Rafles belum pernah melihat teknologi kincir air itu di daerah lain di Nusantara atau Hindia Timur seperti Jawa.” Kata Marjito Iskandar.

Di Sumatera Barat, terdapat sejumlah kincir air tradisional yang dipergunakan secara turun temurun untuk pengairan sawah, penumbuk beras/tepung. Belakangan juga kincir air sebagai mikrohidro/pembangkit listrik skala kecil.



Kincir air tradisional untuk penumbuk beras/tepung di Sumatera Barat semakin langka dan menghadapi ancaman kepunahan karena hadirnya teknologi modern, juga deforestrasi yang mengancam sumber-sumber air, serta bahan/material utama kincir air tradisional berupa kayu dan bambu sulit diperoleh.  

“Yayasan Umar Kayam sedang melakukan penelitian dan pendokumentasian mengenai kincir air tradisional tersebut dengan cara merestorasi (membuat kembali, red) kincir air tradisional untuk pengairan sawah menggunakan bahan bambu, kincir air untuk penumbuk tepung menggunakan bahan kayu, serta kincir air untuk listrik.” Jelas Marjito Iskandar Tri Gunawan.

Lebih lanjut Budhi Hermanto selaku salah satu peneliti Yayasan Umar Kayam menerangkan bahwa mereka mendokumentasikan proses pembuatan, perakitan, dan pengoperasiannya menggunakan format video, fotografi, animasi, audio dan catatan.



“Kami membayangkan kelak bisa menghasilkan arsip data dan dokumen dalam format digital sebagai sumber pengetahuan bagi generasi mendatang tentang kincir air tradisional di Sumatera Barat ini.” Ujar Budhi Hermanto

Salah satu kincir air tradisional berbahan bambu yang telah berhasil dibuat dan didokumentasikan akan kincir ar berdiameter kurang lebih 8 meter di sungai/batang Sinamar, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota. Kincir air ini mampu mengairi sawah hingga 4 hektar.

Proses restorasi dan pendokumentasian masih dilakukan untuk kincir air untuk mikrohidro/pembangkit listrik skala kecil di Palembayan, Kabupaten Agam, dan kincir air tradisional untuk penumbuk beras/tepung di Pariaman.



Tim peneliti Yayasan Umar Kayam memandang pendokumentasian ini penting dilakukan untuk melindungi dan merawat kelestarian kincir air tradisional, sekaligus bagian dari upaya pendidikan perubahan iklim bagi masyarakat, dimana perubahan iklim dewasa ini bisa memengaruhi ekologi air sungai yang menjadi elemen penting bagi keberlangsungan operasional kincir air.  Misalnya, deforestasi bisa mengakibatkan debit air berkurang signifikan karena hutan berkurang/hilang, pun apabila hujan deras akan mengakibatkan banjir bandang yang merusak struktur bangunan kincir air tradisional.

Selasa, 06 Januari 2026

Edukasi Fotografi Unik, Mahasiswa Ilkom Amikom Selenggarakan Ketoprak di SMAN 2 Banguntapan

 JogjaUpdate.com ~ Mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta Prodi Ilmu Komunikasi melalui mata kuliah Proyek Sosial sukses menyelenggarakan program Ketoprak “Kelas Total Praktek” berupa edukasi fotografi unik dan kompetisi kreatif.

Dalam rilis  yang disampaikan 6 November 2025, Mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta Prodi Ilmu Komunikasi kelas 23IK05 melalui mata kuliah Proyek Sosial sukses menyelenggarakan program Ketoprak “Kelas Total Praktek”, sebuah rangkaian kegiatan yang menggabungkan edukasi fotografi hingga kompetisi kreatif. Acara ini diinisiasi oleh tim Roodjiewigen dengan dukungan pembimbing Erfina Nurussa’Adah, S.Kom.I., M.I.Kom.

Mengusung tema “Bukan Sekadar Cekrek” dan tagline “Biar Ga Asal Cekrek”, kegiatan ini menyoroti rendahnya pemahaman siswa terhadap proses teknis dan mental sebelum memotret. Banyak siswa di SMAN 2 Banguntapan yang selama ini “asal menekan tombol”, kemudian merasa dirinya tidak berbakat setelah hasilnya kurang memuaskan. Program ini dirancang untuk membangun kesadaran bahwa fotografi bukan hanya hasil akhir, melainkan proses yang penuh pertimbangan.


Acara dibuka dengan sambutan dari pihak sekolah dan dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan kepada pemateri dari Hisfa Yogyakarta, serta sponsor Gudang Digital. Sesi utama berupa penyampaian materi fotografi dibawakan dengan pendekatan praktis, dilengkapi kuis interaktif yang menambah antusiasme para peserta.

Setelah pemaparan materi dan diskusi, peserta mengikuti Lomba Fotografi serta Lomba Snapgram Photobooth yang menggunakan gerobak ketoprak asli sebagai latar nyentrik. Tidak hanya kreatif, konsep ini sekaligus menjadi ciri unik acara. Penjurian dilakukan langsung setelah lomba, disertai sesi berbagi proses antara juri dan peserta untuk mendorong refleksi terhadap hasil karya masing-masing.

Melalui kegiatan ini, para siswa memperoleh pemahaman baru mengenai bagaimana mengontrol hasil foto, mengenali faktor-faktor yang memengaruhi kualitas gambar, serta mengubah rasa minder menjadi energi kreatif. Hasil karya peserta menjadi tolak ukur kemampuan mereka, sementara pemenang memperoleh penghargaan sekaligus validasi atas potensi yang dimiliki.



Selain berlangsungnya coaching clinic dan kompetisi, tim Roodjiewigen juga memproduksi company profile untuk SMAN 2 Banguntapan sebagai bagian dari kontribusi sosial mereka. Upaya ini menjadi bentuk nyata kerja mahasiswa dalam memberikan manfaat bagi mitra kegiatan.

Acara ditutup dengan sesi awarding dan ucapan terima kasih kepada pihak sekolah, kolaborator, serta seluruh peserta yang telah berpartisipasi. Program Ketoprak “Kelas Total Praktek” diharapkan dapat meninggalkan kesan mendalam serta mendorong tumbuhnya budaya fotografi yang lebih sadar proses dan kreatif di lingkungan sekolah.



Dari Gugup Jadi Pede, Siswa SMA Negeri 8 Yogyakarta Ikuti Pelatihan Public Speaking Bersama Mahasiswa Amikom


 SMA Negeri 8 Yogyakarta menjadi saksi perubahan ekspresi para siswanya, dari yang semula tampak gugup hingga berani tampil percaya diri. Melalui seminar dan pelatihan public speaking bertajuk “Bye–Bye Gugup, Hello Pede!”, para siswa mendapatkan pengalaman berharga untuk mengasah keberanian berbicara di depan umum pada Kamis, 13 November 2025.

Kegiatan ini diikuti oleh 36 siswa dan siswi dengan penuh antusias. Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh mahasiswa semester 5 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta sebagai bagian dari program pengabdian kepada masyarakat dalam mata kuliah Proyek Sosial. Sejak awal kegiatan, suasana kelas dibuat santai dan interaktif agar siswa merasa nyaman untuk belajar dan mencoba.

Pelatihan menghadirkan narasumber public speaking, Khofifa Aisyah Nur Amini, yang menyampaikan materi teknik dasar public speaking secara komunikatif dan aplikatif. Ia menekankan bahwa rasa gugup adalah hal yang wajar, terutama bagi pemula yang baru belajar tampil di depan audiens.

“Gugup itu bukan kelemahan, tapi tanda bahwa kita peduli. Yang penting adalah bagaimana mengelola rasa gugup tersebut agar bisa tampil lebih percaya diri,” ujar Khofifa di hadapan peserta.


Program pelatihan dikemas dalam dua sesi utama, yaitu Smart Communication Class dan Challenge Program. Pada sesi ini, siswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga langsung mempraktikkan kemampuan berbicara di depan kelas. Satu per satu peserta maju menyampaikan pesan singkat, meski awalnya terlihat ragu, perlahan mereka mulai berani dan lebih ekspresif.

Menurut Khofifa, praktik langsung menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan diri siswa.

“Public speaking tidak cukup dipelajari lewat teori. Harus sering mencoba, berani salah, dan terus berlatih,” tambahnya.

Dari sesi praktik tersebut, panitia dan narasumber memilih tiga peserta terbaik yang mendapatkan penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan kemampuan komunikasi mereka. Momen ini menjadi penyemangat bagi peserta lain untuk terus belajar dan tidak takut tampil.

Pihak sekolah menyambut positif kegiatan ini. , Bapak Sumarjiono, S.Pd selaku Staff Humas SMA Negeri 8 Yogyakarta, menilai pelatihan public speaking sangat relevan dengan kebutuhan siswa saat ini.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta. Pelatihan seperti ini penting untuk membekali siswa dengan soft skill yang berguna, baik di dunia akademik maupun di luar sekolah,” ungkapnya.

Antusiasme peserta juga tercermin dari kesan yang mereka bagikan. Zahra Ariani, siswi kelas XI F 8, mengaku awalnya merasa takut dan grogi, namun pelatihan ini membantunya lebih berani.

“Awalnya saya takut dan grogi, tapi setelah praktik ternyata jadi lebih berani. Materinya mudah dipahami dan seru,” ujarnya.

Melalui pelatihan ini, siswa SMA Negeri 8 Yogyakarta diharapkan mampu menjadi pribadi yang lebih komunikatif dan siap menghadapi berbagai situasi yang menuntut kemampuan berbicara di depan publik. Kolaborasi antara mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, pihak sekolah, dan narasumber menjadi faktor penting terselenggaranya kegiatan yang inspiratif dan berdampak positif ini.