Minggu, 01 Desember 2024

“Selarasing Urip, Sangkan Paraning Dumadi, Hamemayu Hayuning Bawono, Manunggaling Kawulo Gusti”



 Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi salah satu destinasi prioritas wellness tourism oleh Kemenparekraf RI, selain Kota Surakarta dan Provinsi Bali. Jogja Cultural Wellness Tourism Festival 2024, ingin lebih mengenalkan secara nasional apa yang membedakan aktivitas dan keunggulan wellness tourism di Jogja dengan dua daerah prioritas lainnya. 

Kami ingin mengangkat bahwa budaya wellness kami berakar dari budaya Jawa atau budaya Kasultanan Yogyakarta yang sudah mengakar berawal dari Perjanjian Jatisari pada tahun 1755. Perjanjian ini menentukan dasar kebudayaan bagi kedua kerajaan yang telah terbagi lebih dulu dalam Perjanjian Giyanti, yakni Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. 

Perjanjian Jatisari membagi budaya Kesultanan Mataram, dalam hal ini adalah tata cara berpakaian, adat istiadat, bahasa, gamelan, tari-tarian, dan lain-lain. Kasultanan Yogyakarta memilih untuk tetap mempertahankan budaya yang sudah ada sejak masa Kesultanan Mataram, sedangkan Kasunanan Surakarta Hadiningrat memilih untuk mengembangkan budaya baru, namun tetap berdasarkan budaya Mataram.




Dengan mengangkat tema “Selasaring Urip” JCWF 2024 hadir untuk lebih memperkenalkan kekuatan dari wellness Jogja yang mengakar dari budaya asli Mataram; dimana tahun ini penyelenggaraan dilaksanakan di semua Kabupaten Kota di DIY. 

Kami juga berkolaborasi dengan dinas pariwisata baik di provinsi maupun kabupaten kota, komunitas wellness di Yogyakarta, GIPI, serta mengundang beberapa guest star baik nasional maupun lokal. Acara akan berlangsung selama bulan November 2024. 

Di Kabupaten Kulonprogo, JCWF dibuka dengan serangkaian acara yakni Ngrowot dan Sunset Yoga pada hari Sabtu, 2 November 2024. Di Kabupaten Gunung Kidul, JCWF 2024 dimeriahkan dengan CSR Penanaman Pohon di Dusun Wota Wati sebagai salah satu lokasi unik yang memiliki waktu siang hari lebih pendek. CSR ini mengundang Soimah (budayawan) sebagai Bintang tamu dan telah berlangsung Hari Sabtu, 9 November 2024. 



Minggu ketiga, kegiatan JCWF diselenggarakan di Kabupaten Sleman, tempatnya di Nawang Jagad dengan agenda Moonlight Meditation bersama Dr. Hastho Bramantyo dan dr. Herin sebagai fasilitator. Di minggu kelima, JCWF hadir dengan sebuah Pengalaman yang Membumi: One Day Class Farm to able di Bumi Langit. Bersama Helianti Hilman selaku Founder Javara dan Seniman Pangan yang berlangsung Hari Sabtu, tanggal 23 November 2024 di Kabupaten Bantul.

Sebagai puncak acara (closing) JCWF ditutup dengan beberapa kegiatan yang terlaksana di Kota Yogyakarta. Beberapa rangkaian acara closing JCWF tahun 2024 antara lain ialah Plogging, Laku Lampah, dan Closing Ceremony selama satu hari di tanggal 30 November 2024 di Kota Yogyakarta. 

Plogging adalah aktivitas olahraga sambil memungut sampah di jalan. Istilah plogging berasal dari kata-kata Swedia "jogging" (lari santai) dan "plocka upp" (mengambil). Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 14.00-18.00 di Lapangan Widorokandang. Kagitan ini berkolaborasi dengan Rekosistem, Dispar Kota Yogyakarta, serta Kemenpora dan mengajak kurang lebih 400 peserta dari kalangan pelajar SMA dan SMK di Yogyakarta.

Kedua, acara laku lampah mubeng benteng yang berlangsung mulai pukul 19.00-22.00 WIB di mulai dari Museum Wahanarata. Melangkah dengan penuh kesadaran, menemukan kedamaian dalam setiap jejak. Laku Lampah Mubeng Jeron Benteng, sebuah perjalanan meditasi berjalan di tengah kekayaan budaya dan sejarah. 

Menelusuri jejak kebudayaan dan ketenangan dalam setiap langkah. Laku Lampah Mubeng Jeron Benteng, perjalanan meditatif yang menghubungkan tubuh, pikiran, dan warisan budaya Jogja. Laku Lampah Mubeng Jeron Benteng (walking meditation) merupakan serangkaian acara wellness di JCWF yang berkolaborasi dengan Pokdarwis Patehan.

Kurang lebih 100 peserta mendapatkan eksperience khusus dari pemandu yakni penjelasan tentang "makna dari laku lampah" itu sendiri.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar