Sabtu, 26 Juli 2025

Event "KAI Bandara Glow Night Fun Run 90's" di Yogyakarta

 


JogjaUpdate.com ~ Malam minggu, Sabtu, 26 Juli 2025, PT Railink atau KAI Bandara menggelar event "KAI Bandara Glow Night Fun Run 90's" di Yogyakarta, lari sambil menikmati kelap kelip keindahan malam kota Jogja.

Mengambil start dan finish di Stadion Mandala Krida Yogyakarta, para peserta lari diajak menyusuri rute berjarak 5 kilometer dan 10 kilometer dari Stadion Mandala Krida menuju tengah kota Yogyakarta, Tugu, Stasiun Tugu, Titik Nol Kilometer dan balik lagi ke Stadion Mandala Krida, Yogyakarta.

Seperti namanya, KAI Bandara Glow Night Fun Run 90's, event lari ini bertema nuansa tahun 90-an retro.



“Mengusung semangat era 90-an, acara ini dikemas dengan konsep lari malam penuh warna, musik, dan nostalgia,” ujar Direktur Utama KAI Bandara, Porwanto Handry Nugroho, saat konferensi pers, Jumat (25/7/2025).

Tercatat lebih dari 3.500 peserta telah bergabung untuk meramaikan acara yang akan dilaksanakan untuk ketiga kalinya ini. Jumlah  peserta mengalami peningkatan dari tahun pertama 800 peserta, kemudian tahun kedua 2.500 peserta.


Separuh peserta nantinya berasal dari luar Yogyakarta, menurut Porwanto, hal ini berpeluang meningkatkan perputaran ekonomi lokal, mendongkrak geliat sport tourism karena mereka membutuhkan penginapan, makanan, hingga moda transportasi.

"Harapannya dengan event seperti ini Yogyakarta lebih meriah, lebih hidup. Kalau pariwisata hidup, maka sektor lain juga ikut bergerak, termasuk transportasi yang menjadi core bisnis kami," ucap Porwanto.

Untuk menciptakan pengalaman berbeda, acara yang mengusung semangat era 90-an itu dikemas dengan konsep lari malam penuh warna, musik, dan nostalgia.

"Kami ingin membuat acara yang menyenangkan. Kalau malam bisa main 'lighting', bisa hiburan juga. Makanya kami sebut 'glow night'. Bukan sekadar lari, tapi ada acara dan permainan cahaya," kata Porwanto.

Ketua Panitia Glow Night Fun Run Diah Suryandari menyebut ajang lari ini dibagi menjadi dua kategori yakni 5 kilometer dan 10 kilometer dengan titik start dan finish berada di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta.

“Kami berterima kasih antusiasme sangat tinggi, namun demi kenyamanan kami pertimbangan juga jumlah peserta. Berbagai kesiapan juga sudah matang, termasuk untuk arus lalu lintas, hingga untuk kesehatan peserta,” ungkap Diah Suryandari.

Kemeriahan Glow Night Fun Run 90’s tidak berhenti di lintasan lari. Para peserta akan dimanjakan dengan hiburan dari deretan penampil ternama. Wika Salim, penyanyi dangdut dan entertainer populer, Berlari Berdendang dan band DXTER akan menghangatkan suasana dengan musik.

Disiapkan juga oleh PT KAI Bandara doorprize utama yaitu paket liburan ke Jepang, selain doorprize lainnya seperti motor listrik, sepeda listrik, smartwatch, handphione, kulkas, TV LED, sepeda gunung, dan beragam hadiah menarik lainnyabagi peserta yang beruntung. (250725/25)


Sabtu, 19 Juli 2025

Fraidé Rilis Karya Perkenalan Format Mini Album (EP) Berjudul 'Reflection'


 

Satu lagi grup band baru pendatang dari Yogyakarta. Adalah Fraidé, kwartet indi pop yang terbentuk karena semangat serupa untuk merealisasikan mimpi yang sempat tertunda. Fraidé beranggotakan Gie Seddon (vokal), Gilang Hermani (gitar), Kade Agus (bass), dan Nano Rasendria (drum). Keempatnya bukan wajah baru di dunia musik lokal. Semuanya pernah berproses dan telah berkarya di grup band mereka sebelumnya.

Didirikannya Fraidé karena kesamaan visi mereka saat ini yang sudah sibuk dengan keluarga dan pekerjaan masing-masing. Kendati demikian, mereka mengamini bahwa musik selalu menjadi jalan untuk tetap lebih 'hidup'. Lalu mereka bersepakat membuat entitas baru dalam berkarya.

Nama Fraidé lahir dari kisah sederhana namun penuh makna bagi masing-masing personelnya. Di tengah padatnya rutinitas, satu-satunya waktu yang bisa mereka manfaatkan untuk berkumpul dan berlatih adalah hari Jumat, yang dalam bahasa Inggris berarti Friday. Ide nama Fraidé pertama kali dilontarkan oleh Gilang Hermani dan langsung disepakati personel lainnya.



"Semakin sering kami bertemu dan berproses bersama setiap hari Jumat, muncul satu pemikiran, 'Kenapa tidak Fraidé saja?'," kata Gie Seddon mengawali.

Nama Fraidé disepakati bukan hanya karena latar waktu berkumpul dan berlatih, tetapi juga karena memiliki makna lebih luas. Jumat adalah awal dari akhir pekan dan momen yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Hari ketika orang mulai pulang ke rumah, berkumpul dengan keluarga dan sahabat, menemukan kembali kebahagiaan setelah melewati hari-hari sibuknya.

"Di satu sisi, hari Jumat juga dianggap sebagai hari besar dan mulia bagi sebagian orang. Sehingga harapan kami dari pemilihan nama Fraidé juga bisa menjadi istimewa seperti Jumat," timpal Gilang Hermani.

Untuk genre musik, secara umum Fraidé mengusung pop, namun tidak meninggalkan unsur overdrive hingga distorsi kental pada gitar. Fraidé mengambil banyak referensi dari grup-grup band alternatif rock 90-an, seperti The Cranberries, The Cardigans, Placebo, The Cure, Alanis Morissette, The Smashing Pumpkins, The Verve, dan selingkarnya.




Bukan rilis satu lagu, tapi langsung mini album

Meski baru seumur jagung dan namanya belum banyak dikenal khalayak, namun Fraidé tetap percaya diri berkarya secara nyata. Tak cuma single atau satu lagu saja, Fraidé justru mengambil langkah berani langsung mengeluarkan empat lagu sekaligus. Keempat lagu itu mereka tuangkan dalam mini album atau extended play (EP) berjudul 'Reflection'.

Langkah ini patut diapresiasi, lantaran sejak beberapa tahun silam sebagian musisi lebih gemar 'cari aman' dengan merilis single, satu demi satu saja. Memang, semua musisi punya pertimbangan masing-masing. Namun Fraidé juga punya alasan kuat kenapa harus merilis karya dengan format EP sebagai karya perkenalan.

Menurut Gie Seddon, Fraidé langsung merilis EP karena keempat lagu di dalamnya memiliki benang merah yang saling terhubung. Lagu-lagu ini bukan hanya berdiri sendiri, tapi merupakan bagian dari satu storyline utuh sebuah perjalanan emosional dan naratif, bertahap dan saling melengkapi.



Empat lagu yang ada dalam EP ‘Reflection’ sekaligus menjadi cerminan perjalanan batin, pencarian jati diri, dan proses pendewasaan yang dialami para personel Fraidé selama bertahun-tahun.

"Merilisnya secara bersamaan memungkinkan pendengar menikmati keseluruhan cerita. Ada pengalaman yang ingin saya sampaikan secara penuh mulai dari refleksi, pertanyaan, pencarian, hingga kesadaran. Jika dipisah-pisah, rasa dan makna dari keseluruhan cerita itu bisa terpotong," papar Gie Seddon.

"Dengan merilis EP ini secara utuh, kami berharap pendengar bisa masuk lebih dalam ke dalam ruang pemikiran dan batin kami, mengikuti alur kisahnya, dan mungkin menemukan bagian dari diri mereka sendiri di dalamnya," lanjutnya.

Selain itu, bagi Gilang Hermani, pencapaian terbesar musisi seharusnya adalah karya yang komplet. Karya tersebut dimaknai Fraidé bukan dari satu atau dua lagu saja, tapi lebih banyak lagu yang berkesinambungan.

"Saya dan teman-teman sepakat ketika sebuah band mengeluarkan karya, bentuk monumental dan pencapaiannya sebaiknya harus album, bisa dalam wujud EP ataupun full album," tambah Gilang Hermani.




Semua lagu dalam mini album 'Reflection' berbahasa Inggris, kenapa?

Alasan Fraidé mengemas lirik berbahasa Inggris juga sangat matang. Bukan serta-merta mengesampingkan bahasa Indonesia, tapi sejak awal Fraidé punya visi agar karya mereka nantinya tidak melulu bisa dinikmati pendengar dalam negeri saja, namun juga bisa terjangkau audiens global.

Lirik empat lagu dalam EP tersebut awalnya dibuat oleh James Seddon, pasangan dari Gie Seddon. Setelah itu Gie mulai menyesuaikan lirik agar lebih pas dengan aransemennya. Proses kreatif keduanya berkembang secara natural dalam bahasa Inggris tanpa mengurangi makna maupun kedalaman cerita dari lagu pertama hingga terakhir.

"Jadi memang bahasa Inggris kami pilih sebagai jembatan untuk memperluas cakupan pesan dan emosi yang ingin Fraidé sampaikan. Bagi kami bahasa hanyalah medium, yang terpenting adalah rasa yang tersampaikan," kata Gie Seddon.



Fraidé juga optimis punya diferensiasi dengan grup-grup band lainnya. Bagi mereka, yang membedakan Fraidé bukan hanya dari genre atau aransemen musiknya, tapi lebih pada bagaimana mereka mengemas lagu dan pesan yang ingin disampaikan.

"Yang paling kami unggulkan adalah kedalaman pesan dalam setiap lagu. Lirik-lirik kami memang lahir dari pengalaman nyata dan fase-fase kehidupan yang kami rasa pernah atau akan dialami oleh siapa saja. Kami ingin setiap orang yang mendengarkan lagu Fraidé bisa merasa, 'Oh, ini tentang saya.'," jelas Gie Seddon.

Single utama dari mini album Fraidé juga berjudul 'Reflection'. Lagu ini terlahir dari momen refleksi mendalam Gie Seddon setelah ia menjalani perjalanan solo ke negeri orang. Perjalanan tersebut menjadi titik balik sebuah ruang sunyi yang justru penuh suara-suara dalam dirinya sendiri. Di sanalah muncul kesadaran bahwa musik bukan hanya sekadar pilihan, melainkan bagian dari hidup yang tak bisa ditinggalkan.

“Lagu 'Reflection' adalah simbol dari kesempatan kedua untuk saya dan teman-teman kembali bermusik, untuk mendengarkan kata hati, dan untuk memulai lagi dari titik yang lebih jujur," ujar Gie Seddon.

Setelah lagu 'Reflection', lagu kedua adalah 'Y&G' (Yellow and Green). Lagu dengan suasana sendu ini mengingatkan saat kita berada di titik bimbang, tapi kita harus tetap berjalan.

Masuk lagu ketiga, 'Déjà Vu', pesan dalam liriknya makin personal. Lagu ini soal cinta pada diri sendiri, tentang bagaimana ternyata versi terbaik dari dirimu itu sebenarnya sudah ada sedari dulu dan selalu terasa familier.

Lagu terakhir, 'Is Love', menyimpan satu pesan utama: cinta yang selama ini mengelilingi kita mungkin tidak terlihat atau tak dihargai akan tampak jelas ketika kita kembali terhubung dengan diri sendiri. Ini adalah perayaan penerimaan diri dan melimpahnya cinta dalam hidup.

Bagi Fraidé, musik bukan hanya soal nada, tapi tentang bagaimana ia bisa menyentuh, menemani, dan menjadi cermin bagi perjalanan hidup seseorang. Keempat lagu mereka membawa itu semua.

"Itulah yang ingin kami 'jual', tentang keterhubungan emosional. Dan kami percaya, ketika sebuah lagu terasa relate, maka ia akan tinggal lebih lama di hati pendengarnya," kata Gilang Hermani.

Proses rekaman empat lagu tersebut dilakukan di dua studio sekaligus. Perekaman instrumen drum dan satu lagu untuk vokal diabadikan di Abel Studio. Kemudian vokal untuk tiga lagu lainnya direkam di Neverland Studio sekaligus bass dan gitarnya. Proses akhir mixing dan mastering dikerjakan oleh Bayu Randu.

EP 'Reflection' rilis pada Jumat 18 Juli 2025 di gerai-gerai musik digital seperti Spotify, Apple Music, Deezer. dll. Sedangkan untuk format audio visualnya berupa video lirik empat lagu akan mengudara melalui kanal YouTube Fraidé.

Usai merilis EP ‘Reflection’, Fraidé sudah mempunyai banyak rencana perihal karya. Fraidé akan menyiapkan beberapa konten video live perform, hingga mulai mematangkan materi-materi baru untuk album penuh tahun depan.


Jumat, 18 Juli 2025

Dieng Culture Festival Ke-XV menghadirkan Orchestra Symphony Dieng

 



Mengusung tema “Back To The Culture”, Dieng Culture Festival (DCF) ke XV kembali akan digelar pada tanggal 23-24 Agustus 2025 mandatang.

 “Dieng Culture Festival akan diselenggarakan selama 2 hari pada  sabtu dan minggu, tanggal 23 & 24 Agustus 2025. Agenda utama festival adalah kira budaya & ritual cukur rambut anak gimbal.” ujar Ketua Pokdarwis Dieng Pandawa Alif Faozi dalam keterangan tertulisnya (18/7/2025).

 Menurut Alif, detail agenda dan acara pada DCF ke XV tahun 2025 ini akan disampaikan pada saat launching DCF XV pada tanggal 26-27 Juli esok bersama event Geothermal Festival dan Dieng Fun Walk dengan kategori 5 kilometer dan 10 kilometer yang dilakukan atas kerjasama Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa Desa Dieng Kulon dengan Tim Kuliah Kreja Nyata Universitas Gadjah Mada dan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara.



 Sementara secara terpisah, Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana menegaskan komitmen penuh pemerintah kabupaten Banjarnegara untuk mendukung suksesnya penyelenggaraan DCF ke XV.

 “DCF tahun 2025 merupakan momentum untuk mengangkat nilai nilai kebudayaan yang ada di wilayah dataran tinggi Dieng. Kegiatan ini akan menjadi sarana promosi pariwisata Banjarnegara secara lebih luas dengan harapan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat Dieng dan Banjarnegara pada umumnya.” kata dr. Amalia Desiana.

 Bupati Banjarnegara, dr Amalia Desiana sangat bersemangat dalam penyiapan penyelenggaraan DCF ke XV.

 “Saya sangat mengapresiasi ide-ide kreatif dalam DCF kali ini. Tunggu tanggal mainnya, kalau gak datang ke DCF kali ini, saya jamin menyesal.” seloroh Bupati Banjarnegara. 



 Alif menambahkan, DCF Ke XV tahun 2025 tidak lagi menyuguhkan pertunjukan Jazz Atas Awan, tetapi akan diganti dengan pertunjukan musik Orchestra Symphony Dieng, dan tetap ada penerbangan ribuan lampion.

 DCF ke XV pada prinsipnya terbuka untuk umum, pembatasan pengunjung hanya pada saat Ritual Cukur Rambut Gimbal di Candi Arjuna dan Orchestra Symphony Dieng di panggung Pandawa. Panitia menyediakan 2 panggung lain yakni panggung Sembadra dan panggung Gatotkaca yang bisa diakses masyarakat umum secara leluasa.

 “Silahkan hadir saat peluncuran DCF Ke XV pada tanggal 27 Juli 2025 esok untuk informasi detail acara dalam DCF, sambil menikmati udara pagi dan hawa dingin dataran tinggi Dieng pada kegiatan Dieng Fun Walk.” pungkas Alif Faozi dalam keterangannya. 

Jelang HAN, LPKA Yogyakarta dan PKBI DIY Angkat Potensi Anak Lewat Trofeo

 Masih dalam semangat peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025, Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Yogyakarta bersama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PKBI DIY) menggelar kegiatan Trofeo Futsal pada Selasa, 15 Juli 2025. Bertempat di Lapangan Futsal LPKA, pertandingan mempertemukan tim anak binaan LPKA dengan dua tim dari sekolah luar, yakni SMA N 1 Playen dan SMA N 1 Karangmojo

Sejak pagi, suasana di LPKA terasa berbeda. Anak-anak binaan tampak bersemangat menyambut kedatangan para tamu dan lawan tanding mereka. Prosedur keamanan tetap dijalankan ketat; seluruh tamu dari luar lembaga menjalani pemeriksaan oleh petugas pengamanan, dan dua personel dari Polres Gunungkidul turut hadir untuk memastikan acara berlangsung aman dan tertib.

Lebih dari sekadar pertandingan sehari, kegiatan ini menunjukkan betapa besar antusiasme dan potensi anak-anak binaan dalam bidang olahraga, khususnya futsal. Semangat yang mereka tunjukkan di lapangan menjadi cerminan bahwa pembinaan bukan hanya soal kedisiplinan, tapi juga soal merawat minat dan mengasah bakat.



Kepala LPKA Kelas II Yogyakarta, Sigit Sudarmono, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembinaan yang lebih luas. “Kami ingin anak-anak merasa bahwa mereka masih punya ruang untuk bertumbuh, untuk menunjukkan kemampuan mereka, dan untuk dipercaya. Melalui olahraga, mereka belajar kerja sama, disiplin, dan semangat pantang menyerah. Ini bukan soal menang atau kalah, tapi tentang memberi kesempatan untuk kembali terhubung dengan dunia luar,” ujar Sigit.

Ke depan, Sigit juga berharap kegiatan serupa memiliki peluang besar untuk dikembangkan ke tingkat yang lebih tinggi, seperti turnamen antar lembaga atau kolaborasi rutin dengan sekolah luar. Dengan cara ini, LPKA tidak hanya menjadi tempat pembinaan, tetapi juga ruang aktualisasi anak-anak yang sedang menata ulang masa depannya. “Kami melihat potensi mereka. Dan tugas kita bersama adalah membuka jalan agar potensi itu bisa terus berkembang,” ungkap Sigit.

Salah seorang anak binaan juga menyampaikan antusiasmenya selama kegiatan dan berharap kegiatan seperti ini terus dipertahankan juga dikembangkan. “Saya senang sekali bisa ikut main futsal bareng teman-teman dari SMA lain. Rasanya seperti kembali jadi anak sekolah biasa. Bisa lari-lari, guyon bareng, dan bersaing sehat bikin saya merasa dihargai walaupun sedang menjalani pembinaan di sini,” ujar R.



Gong, Program Officer INKLUSI Pilar ABH PKBI DIY turut menyampaikan harapannya bagi pengembangan minat dan bakat anak agar tidak hanya mengacu pada program, tetapi berfokus pada kebutuhan dan keinginan anak. “Acara ini baru merupakan permulaan, ke depannya kami berharap acara dengan format serupa bisa diperluas dan bisa diikuti oleh banyak anak anak dari beragam latar belakang sebagai salah satu komitmen kita merekognisi semua anak tanpa terkecuali,” pungkas Gong PKBI.

Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 16.30 WIB ini ditutup dengan kembalinya anak binaan ke paviliun untuk melanjutkan aktivitas seperti biasa. Trofeo futsal adalah satu dari beberapa rangkaian kegiatan bagi anak menjelang Hari Anak Nasional.

Merayakan Tradisi, Merajut Harmoni Langit Nusantara

 



Yogyakarta, Juli 2025 — Dalam rangka menyambut dan memeriahkan The 10th Jogja International Kite Festival (JIKF) 2025, panitia menghadirkan rangkaian kegiatan istimewa yang tidak hanya menampilkan keindahan layang-layang dari berbagai daerah dan negara, tetapi juga mengangkat nilai-nilai budaya, pelestarian lingkungan, serta kearifan lokal DIY. Festival ini akan digelar pada 26–27 Juli 2025 di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, sebagai puncak dari berbagai kegiatan pendahuluan yang tersebar di sejumlah lokasi strategis.



Rangkaian Kegiatan Road to JIKF 2025:

  1. Festival Layang-Layang Anak – Grogol, Paliyan, Gunungkidul (9 Juli 2025)
    Kegiatan ini melibatkan anak-anak dan komunitas lokal dalam lomba serta workshop pembuatan dan penerbangan layang-layang. Tujuannya adalah menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap permainan tradisional dan kreativitas berbasis budaya.
  2. Penanaman Pohon Endemik Langka – Warung Gedangsari, Karangmojo
    Sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian alam, dilakukan penanaman pohon-pohon endemik langka di kawasan perbukitan Gunungkidul. Aksi ini melibatkan pelayang internasional, komunitas lingkungan, serta warga sekitar sebagai simbol harmoni antara budaya dan alam.
  3. Eksplorasi Budaya – Pembuatan Keris Tradisional di Besalen (Workshop Kerajinan)
    Para peserta festival diajak menyaksikan langsung proses pembuatan keris oleh empu lokal di Besalen. Ini menjadi bagian dari edukasi budaya dan warisan takbenda yang diangkat dalam semangat festival.
  4. Majemukan – Pantai Pandansari, Bantul
    Dalam kegiatan ini, para pelayang dari dalam dan luar negeri melakukan “majemukan” atau penerbangan perdana sebagai bentuk perkenalan budaya dan persahabatan antarbangsa, menjadikan langit Pandansari sebagai panggung diplomasi budaya yang unik dan damai.
  5. Puncak Acara: The 10th Jogja International Kite Festival – Parangkusumo, Bantul (26–27 Juli 2025)
    Ribuan pengunjung akan memadati Pantai Parangkusumo untuk menyaksikan layang-layang raksasa, atraksi udara spektakuler, parade budaya, panggung hiburan, serta area UMKM dan kuliner. Tahun ini, sistem kunjungan dilakukan melalui paket wisata senilai Rp20.000, yang mencakup akses penuh ke arena festival. Pengunjung juga tetap dapat menyaksikan dari luar pagar secara gratis.


Komitmen dan Kolaborasi

JIKF 2025 mengusung tema “Langit Menyatukan Kita” sebagai refleksi dari keberagaman, kreativitas, dan semangat kolaboratif antar pelayang dari berbagai negara. Kegiatan ini didukung oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, komunitas pelayang, pelaku pariwisata, seniman, serta masyarakat lokal yang turut menyukseskan festival ini dari hulu hingga hilir.

Kami mengundang seluruh masyarakat, wisatawan, dan pecinta budaya untuk hadir dan merayakan semangat kebersamaan di langit Jogja.



Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi:
📍 Website: www.jikf2025.com
📧 Email: info@jikf2025.com
📞 Hotline: +62 812-XXXX-XXXX

Jogja Terbangkan Budaya ke Langit Dunia !!!
Panitia Jogja International Kite Festival 2025










Selasa, 08 Juli 2025

5.000 Gudeg Disajikan di Festival Kuliner Gula Kelapa Pecahkan Rekor MURI



5.000 porsi gudeg disajikan, Festival Kuliner Gula Kelapa ‘Gudeg Sejuta Rasa’ pecahkan rekor MURI.

Berlangsung di Alun-alun Selatan Kota Yogyakarta (4-5 Juli 2025) Festival Kuliner Gula Kelapa menjadi ajang perayaan kekayaan kuliner khas nusantara, khususnya makanan tradisional berbahan dasar gula kelapa. Seperti gudeg, brongkos dan beberapa macam snack lainnya. 

Salah satu momen yang paling dinantikan adalah pemecahan rekor MURI untuk “Sajian Gudeg Terbanyak”, yang menargetkan 5.000 porsi gudeg sebagai ikon kebanggaan kuliner Yogyakarta.



Penyerahan Sertifikat & Medali dari Museum Rekor Indonesia diberikan oleh perwakilan dari MURI Bapak Awan Rahargo kepada Walikota Yogyakarta. Pada saat yang bersamaan gudeg mulai dibagikan kepada para pengunjung di Alun-Alun Selatan.

Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo dalam sambutannya mengatakan “Saya menyambut baik untuk Gudeg Sejuta Rasa, penting sekali Yogyakarta menghadirkan Gudeg dengan varian-varian yang baru. Supaya gudeg menjadi makanan yang digemari oleh banyak orang tidak hanya orang Yogyakarta.”

"Festival ini bertujuan untuk mengangkat potensi lokal gula kelapa khususnya makanan tradisional seperti Gudeg dan memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi kuliner unggulan. Kami ingin menunjukkan bahwa gula kelapa bukan hanya warisan, tapi juga masa depan kuliner yang sehat dan berkelanjutan," lanjut Hasto.



Mahasiswa dari FKKMK UGM tahun 2023 Twistanisa Atha Brilliant Ilmi mengenalkan inovasi gudeg berbahan dasar jantung pisang dan disertai porang, ikan tengiri dan sari kedelai, sebagai alternatif pengganti gudeg konvensional. Hal ini mendapat respon baik dari Wali Kota Yogyakarta yang juga memberi nama atas inovasi ini.

“Ini adalah gudeg yang sehat, tidak mengandung kolesterol yang tinggi, tidak membuat gula darah tinggi dan berasal dari jantung pisang maka saya beri nama Gudeg Koroner. Dengan makan jantung pisang, Inshaallah koronernya sehat," jelas Hasto.

Festival Kuliner Gula Kelapa juga dimeriahkan oleh beberapa kegiatan menarik lainnya, seperti Fun Walk mengelilingi Benteng Baliwerti, Talkshow Kuliner Mataraman, Lomba Inovasi dan Kreasi Gudeg, Wedangan Sonten dan Festival Musik dengan bintang tamu Ngatmo Mbilung.




Selasa, 01 Juli 2025

Dari Data ke Perasaan, Dari Realita ke Soft-fakes

 



Menurut penelitian Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada pada pemilu presiden 2024, penggunaan Generative Artificial Intelligence (Gen-AI) telah menjadi alat penting dalam membentuk persepsi pemilih pemula. Hal ini disampaikan oleh Dhevana Anarchia Ria Lay, Partnership Officer CfDS, pada panel kedua konferensi di Tular Nalar Summit 2025 hari ini.


Survei CfDS terhadap 400 pemilih pemula menunjukkan bahwa digital image lebih berpengaruh daripada sejarah politik, menggeser gagasan ke estetika dan perasaan. “Kita tanya apakah kita memilih pemimpin atau didorong oleh lagu dan jogetan dengan soft-fakes," imbuh perempuan yang akrab disapa Arsya itu. Gejala tersebut menambah dimensi baru bahwa  pemilu dipengaruhi oleh AI, bukan sebagai penyebar hoaks, melainkan pembentuk ulang realitas yang disebut soft fakes. 


Hal ini semakin relevan dengan perlunya peningkatan daya saing digital Indonesia. Sebagaimana direfleksikan dalam laporan IMD WDCR 2024 yang menunjukkan peringkat Indonesia naik dari 56 ke 43. Laju adopsi internet yang cepat membuka peluang sekaligus risiko, termasuk lebih dari 26 juta serangan phishing sepanjang 2024 menurut BSSN, yang menuntut literasi digital bagi semua kalangan, terutama kelompok rentan seperti lansia dan pemilih muda.




Kondisi ini menunjukkan bahwa menghadapi tantangan era digital, kita tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Diperlukan upaya bersama untuk membekali semua lapisan masyarakat. Utamanya kaum rentan seperti lansia dan pemilih pemula dengan kemampuan literasi digital dan pemikiran kritis. Semua ini agar mereka mampu memilah informasi dan terhindar dari dampak negatif digitalisasi. Salah satu inisiasi penting sebagai wujud gerakan kolektif ini adalah program literasi digital Tular Nalar - Mafindo.


Sebagai puncaknya, program ini menggelar perayaan besar melalui Tular Nalar Summit 2025, yang berlangsung  di Auditorium STMM MMTC, Sleman, D.I. Yogyakarta. Mengusung tema “Merayakan Semesta Kolaborasi,” acara ini menjadi ruang temu para penggerak literasi digital dari seluruh Indonesia, serta menandai berakhirnya fase ketiga program Tular Nalar yang telah berlangsung sejak 2023.


Acara dibuka secara resmi oleh Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dan Giri Lumakto, Program Manager Tular Nalar. Digarisbawahi pula pentingnya keberlanjutan gerakan literasi digital untuk masyarakat, termasuk bagi kelompok rentan. Septiaji memperkenalkan “Mafindo Institute” pada publik, sebagai sebuah wadah untuk mengkompilasi edukasi literasi digital. Tentunya bisa terlaksana karena  kolaborasi dengan banyak pihak. Dia juga menyoroti bahwa sekarang kita memasuki era Artificial Intelligence. “Ibarat 2 sisi mata pedang. Dampak negatif penggunaan teknologi yang keliru serta dampak negatif tak terduga. Ini membuat ruang digital masih diwarnai dengan hoaks dan ujaran kebencian,” tambahnya.




Abdul Mu’ti, Menteri Dikdasmen, menjadi salah satu pembicara kunci melalui siaran video. Ia menyoroti bahwa Tular Nalar Summit 2025 merupakan hasil kolaborasi yang dilakukan Mafindo bersama berbagai elemen masyarakat. “Sebagai bagian dari upaya membangun kecerdasan dan kesalehan digital, forum (seperti Tular Nalar) ini sangat penting agar masyarakat memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi pengguna teknologi digital yang bijak,” ujarnya. Dalam kesempatan ini pula dia menyampaikan  bahwa mata pelajaran Koding dan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan akan mulai diajarkan kepada anak kelas 5 SD hingga SMA pada tahun ajar 2025/2026.


Menjadi pembicara kunci dalam rangkaian pembuka,  R.M. Agung Harimurti Purnomojati selaku Ketua STMM menyampaikan apresiasinya pada Tular Nalar - Mafindo, Love Frankie, dan Google.org atas komitmen dan dedikasi mencerdaskan bangsa, terutama di ranah digital. “Mari kita jadikan momentum ini sebagai tonggak era baru literasi digital nasional yang lebih kritis, inklusif, dan berbudaya,” pungkasnya.


Setelah sesi pembukaan, forum dilanjutkan dengan konferensi yang terbagi dalam tiga panel utama. Panel pertama, bertajuk “Menyelamatkan Masa Tua di Linimasa”, membahas risiko digital yang dihadapi oleh kelompok lansia. Risiko tersebut termasuk maraknya penipuan online dan eksklusi teknologi. Panel ini menghadirkan Koree Monteloyola-Cañizares dari Techie Senior Philippines, Nani Zulminarni dari Ashoka Southeast Asia, serta Susiana Nugraha, Direktur Utama Indonesia Ramah Lansia (IRL), dan Giri Lumakto. Mereka menyoroti pentingnya perlindungan digital yang berbasis empati dan praktik nyata.




Panel kedua, “Timeline Political Disorientation for the First Time Voters”, mengupas dampak disinformasi politik terhadap pemilih pemula. Diskusi ini dipandu oleh para akademisi dan aktivis seperti Angela Romano dari Queensland University, Hanna Vanya dari Think Policy, Heroik Pratama dari Perludem, dan Arsya dari CfDS. 


Sementara itu, panel ketiga mengangkat tema “Intergenerational AI: Education and Ethics”. Panel ini mengupas tantangan dan peluang pemanfaatan kecerdasan buatan secara etis dan lintas generasi. Sesi ini menampilkan Muhammad Taufan Agasta, Stafsus Kemendikdasmen Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial, Pahlevi Fikri Auliya, V.P. Engineering and AI dari Ruangguru, F.X. Risang Baskara, Dosen di Universitas Sanata Dharma, dan Violita Siska, Program Manager AI Goes To School. Diskusi ini mempertemukan perspektif teknologi, pendidikan, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam satu ruang dialog. 


Tular Nalar Summit 2025 juga diisi berbagai aktivitas berbasis komunitas dan para mitra yang menjadi ciri khas gerakan Tular Nalar. Di antaranya adalah Focus Group Discussion, pameran komunitas, dan kelas literasi digital inklusif “Ayo Bareng” untuk difabel tuli, penghayat kepercayaan, dan transpuan. Pada sore hari, acara ditutup dengan stand-up comedy bertema hoaks, penampilan seni komunitas, dan panggung musik akustik yang disambut meriah oleh peserta.


Salah satu momen penting dalam acara ini adalah peluncuran video “Human Impact Story” oleh Love Frankie serta publikasi buku bunga rampai yang berisi kisah inspiratif para penerima manfaat Tular Nalar. Modul pembelajaran AI lintas generasi yang inklusif juga diperkenalkan kepada publik.


Menurut Giri Lumakto, Program Manager Tular Nalar, gerakan ini tidak akan berhenti di summit ini. “Tular Nalar adalah gerakan yang lahir dari keresahan warga, tumbuh dalam kolaborasi, dan hidup di ruang-ruang komunitas,” tutupnya.


Di fase ketiga sejak 2023, Tular Nalar telah menjangkau lebih dari 50.000 penerima manfaat langsung yang terdiri dari 40.000 pemilih pemula dan 10.000 lansia. Sekitar 1,6 juta warga di seluruh Indonesia turut menerima manfaat sebagai end-beneficiaries yang ditularkan melalui kegiatan dan para alumni kelas pelatihan Tular Nalar


Tular Nalar Summit 2025 bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari gerakan yang lebih luas. Sebuah langkah bersama untuk mewujudkan ruang digital yang sehat dan inklusif.