Senin, 27 Juli 2026

Wali Kota Yogya Ajak Bangun Ekosistem Kesehatan Mental yang Inklusif Bersama PKBI DIY

 Mergangsan – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan pentingnya membangun ekosistem kesehatan mental yang inklusif dan bebas stigma sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara (Keynote Speech) dalam Sarasehan PKBI DIY bertema "Membangun Ekosistem Kesehatan Mental yang Inklusif dan Anti-Stigma" di Kantor Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY, Jumat (24/7).

Hasto mengatakan, kesehatan mental saat ini menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama. Menurutnya, seseorang tidak cukup hanya sehat secara fisik, tetapi juga harus memiliki kondisi mental yang baik agar mampu menjalani kehidupan secara produktif.



"Tema mental health ini sangat bagus, sehingga PKBI bersama Pemerintah Kota Yogyakarta nantinya bisa bersama-sama menggarap isu kesehatan mental. Kita ingin SDM itu sehat bukan hanya secara fisik, tetapi juga sehat secara mental," ujar Hasto.

Ia juga mengungkapkan gagasannya untuk menghadirkan shelter atau rumah singgah dengan konsep intermediate care, yakni tempat transisi bagi penyintas gangguan kesehatan mental yang kondisinya sudah membaik dan tidak lagi memerlukan perawatan di rumah sakit jiwa, namun belum siap kembali ke lingkungan keluarga.


"Saya bercita-cita bagaimana bisa membangun shelter yang sifatnya perawatan intermediate. Jadi ketika seseorang sudah tidak perlu dirawat di rumah sakit jiwa karena sudah mulai mandiri, tetapi keluarganya belum siap menerima, mereka tetap memiliki tempat yang aman. Ke depan hal ini akan kami pikirkan bersama PKBI," katanya.



Sementara itu, Ketua PKBI DIY Budhi Hermanto menjelaskan bahwa PKBI selama ini berfokus pada layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang komprehensif, mulai dari edukasi, pencegahan, hingga pendampingan bagi masyarakat yang menghadapi persoalan kesehatan reproduksi maupun kesehatan mental.


Ia menjelaskan, layanan PKBI tidak hanya memberikan edukasi mengenai kesehatan reproduksi kepada anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, tetapi juga melakukan advokasi bagi korban kekerasan seksual, pendampingan hukum, hingga menyediakan shelter bagi perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan.



"Core layanan kami adalah kesehatan seksual dan reproduksi yang komprehensif. Kami melakukan advokasi, mendampingi korban kekerasan seksual sampai proses hukum, dan menyediakan shelter bagi yang membutuhkan. Misalnya perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan agar mereka berada di tempat yang aman sampai proses persalinan selesai," ujar Budhi.

Menurutnya, pendampingan terhadap kasus kesehatan seksual dan reproduksi sering kali tidak mudah karena melibatkan persoalan psikologis, sosial, hingga penerimaan keluarga.



"Kasus-kasus seperti ini sangat kompleks. Misalnya korban kekerasan seksual yang kemudian hamil, sementara ia sendiri menolak kehadiran anak tersebut dan keluarganya juga belum bisa menerima. Kami harus memikirkan keberlanjutan hidup ibu maupun anaknya. Karena itu pendampingan harus dilakukan secara menyeluruh," jelasnya.


Selain itu, PKBI juga menjalankan berbagai program lain, seperti pendidikan kesehatan reproduksi di SMP dan SMA, pendampingan remaja di desa, program untuk lansia, pencegahan HIV/AIDS dan tuberkulosis, hingga pendampingan bagi anak atau remaja yang berhadapan dengan hukum agar dapat kembali ke masyarakat dengan kondisi kesehatan mental yang lebih baik.

Budhi menambahkan, pada tahun ini PKBI DIY mulai mengembangkan sistem layanan pemulihan kesehatan mental sebagai salah satu fokus organisasi, tanpa menghentikan program-program yang telah berjalan.



"Tahun ini kami sedang merancang sistem layanan untuk membantu pemulihan kesehatan mental. Karena kesehatan mental itu tidak terlihat. Orang bisa tampak baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang mengalami tekanan yang sangat tinggi," ungkapnya.

Ia juga mengajak masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk tidak ragu mengakses layanan PKBI. Masyarakat dapat menghubungi nomor layanan konselor melalui Hotiline Kantor 08993060008, Konseling 081384595593  atau melalui media sosial instagram @PKBIDIY.


Saat ini PKBI DIY didukung oleh relawan yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di DIY, yakni Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul. PKBI DIY juga memiliki klinik layanan kesehatan di kawasan Bintaran, Kota Yogyakarta, yang ke depan akan dikembangkan dengan layanan khusus kesehatan mental di lantai dua gedung tersebut. (Chi)

Kamis, 09 Juli 2026

Era Digital Ubah Cara Orang Membaca Berita, Media Lokal Harus Beradaptasi


 

Perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi mendorong media lokal untuk terus beradaptasi agar tetap relevan dan berkelanjutan. 

Di tengah dominasi media sosial, platform video, serta algoritma digital yang semakin memengaruhi distribusi informasi, media tidak lagi cukup hanya mengandalkan jumlah kunjungan situs, tetapi juga perlu membangun hubungan yang kuat dengan audiens, menjaga kredibilitas, serta mengembangkan model bisnis yang adaptif.

Urgensi penguatan media lokal semakin besar seiring meningkatnya konsumsi informasi digital. Berdasarkan data yang telah dihimpun oleh KOMDIGI, pengguna internet Indonesia telah mencapai 221,5 juta orang atau sekitar 79,5 persen dari total populasi. 

Mayoritas masyarakat kini semakin banyak memperoleh informasi melalui media sosial, platform video, aplikasi pesan, hingga rekomendasi algoritma, dibandingkan mengakses laman media secara langsung.

Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) menyelenggarakan forum bertema "Membangun Media Lokal yang Berkelanjutan" di Isvara Riverside, Yogyakarta, Rabu (8/7/2026). 

Kegiatan ini menghadirkan puluhan jurnalis dan pelaku media lokal sebagai ruang diskusi bersama regulator, Dewan Pers, praktisi media, dan pelaku industri untuk membahas strategi memperkuat ekosistem media lokal di tengah transformasi digital yang terus berkembang.

Kegiatan dibuka melalui keynote speech oleh Farida Dewi Maharani, Direktur Ekosistem Media KOMDIGI, yang memaparkan perkembangan lanskap media nasional, perubahan perilaku konsumsi informasi masyarakat, hingga berbagai upaya pemerintah dalam membangun ekosistem media yang sehat, profesional, dan berkelanjutan.

Rangkaian forum dilanjutkan dengan sesi panel bertema "Keberlanjutan Media Lokal: Dari Kredibilitas Menuju Kemandirian" yang menghadirkan Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers, Muhammad Jazuli, sebagai narasumber. Selain itu, Pimpinan Redaksi Tribun Jogja, Ibnu Taufik Juwariyanto, turut menyampaikan paparan mengenai "Mengelola Newsroom yang Efisien untuk Media Lokal".

Pada sesi tersebut dibahas berbagai tantangan yang dihadapi media lokal, mulai dari maraknya penyebaran informasi yang belum terverifikasi, munculnya homeless media, perubahan pola konsumsi berita masyarakat, hingga perkembangan teknologi yang memengaruhi praktik jurnalistik.

Muhammad Jazuli menekankan kredibilitas tetap menjadi modal utama media untuk mempertahankan kepercayaan publik. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, penerapan kode etik jurnalistik menjadi fondasi penting agar media mampu menjaga independensi sekaligus memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, Ibnu Taufik Juwariyanto membagikan pengalaman dalam mengelola newsroom yang adaptif melalui penguatan jejaring daerah, percepatan proses verifikasi informasi, serta optimalisasi sumber daya redaksi agar mampu menghasilkan pemberitaan yang cepat sekaligus akurat.

Selain membahas aspek editorial, forum ini juga mengangkat pentingnya keberlanjutan bisnis media melalui workshop bertajuk "Dari Audiens Menjadi Bisnis: Strategi Produk dan Monetisasi Media" yang dipandu oleh Luthfi Kurniawan, Content Marketing Manager Kompas.com.

Dalam sesi workshop, para peserta diajak memahami tingginya traffic belum tentu menghasilkan bisnis yang sehat. Keberhasilan media justru ditentukan oleh kemampuannya membangun hubungan jangka panjang dengan audiens dan para pemangku kepentingan, menciptakan sumber pendapatan yang berkelanjutan, serta memperoleh repeat order dari mitra bisnis.

Luthfi juga menyoroti semakin melemahnya kendali media terhadap audiens akibat perubahan perilaku masyarakat, dominasi platform teknologi global, serta ketergantungan terhadap algoritma distribusi konten. 



Oleh karena itu, media perlu mengembangkan strategi engagement, memanfaatkan data analytics dalam pengambilan keputusan editorial, memperluas distribusi multiplatform, serta mengoptimalkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung proses produksi konten secara lebih efisien tanpa mengurangi kualitas jurnalistik.

Melalui kegiatan ini, para peserta didorong untuk memperoleh pemahaman mengenai pentingnya membangun media lokal yang tidak hanya kuat dari sisi editorial, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, memperkuat model bisnis, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Forum ini diharapkan menjadi langkah bersama dalam memperkuat ekosistem media lokal Indonesia agar semakin profesional, dipercaya publik, adaptif terhadap perubahan, dan mampu tumbuh secara berkelanjutan di era digital.

Selasa, 07 Juli 2026

Polly Pocket Compact Playset Banyak Dicari, ini 5 Alasan Mengapa Mainan Mini yang Digemari Kolektor



 Sejak pertama kali diperkenalkan oleh Bluebird Toys pada 1989, polly pocket telah menjadi salah satu ikon mainan miniatur yang paling dikenang lintas generasi. Berawal dari sebuah kotak bedak yang diubah menjadi rumah mini untuk boneka kecil, mainan ini kini berevolusi menjadi lini compact playset yang tetap mempertahankan daya tarik nostalgianya. Bagi kolektor, Polly Pocket Compact Playset bukan sekadar mainan anak, melainkan artefak budaya pop yang sarat nilai sejarah. 


Saat ini, popularitas Polly Pocket kembali melonjak berkat berbagai edisi kolektor dan kolaborasi dengan waralaba besar. Jika Anda penasaran mengapa mainan mini ini begitu digemari, berikut lima keunggulan yang menjadikannya incaran para kolektor di seluruh dunia.



Warisan Nostalgia dari Era 1980-an yang Otentik

Polly Pocket diciptakan pada tahun 1983 oleh Chris Wiggs. Ia menciptakan rumah boneka mini di dalam kotak bedak untuk putrinya. 

Konsep ini kemudian dilisensikan kepada Bluebird Toys dan resmi diluncurkan pada 1989 dengan 37 set yang dirilis di tahun pertamanya. Kesuksesan ini bahkan menyelamatkan Bluebird Toys dari kemerosotan bisnis, dengan Polly Pocket dan lini Mighty Max menyumbang 87 persen total penjualan perusahaan pada pertengahan 1990-an.


Setiap compact playset membawa cerita awal yang otentik, membuatnya lebih dari sekadar mainan biasa. Warisan sejarah inilah yang menjadi fondasi nilai nostalgia yang terus dilestarikan dalam produk masa kini. 



Rekayasa Miniatur yang Rumit dalam Ruang Terbatas

Keunggulan khas Polly Pocket terletak pada kemampuannya menghadirkan dunia miniatur yang detail di dalam compact berukuran kecil. Compact klasik Bluebird 1989 dirancang dengan boneka setinggi sekitar 2 cm yang memiliki basis melingkar untuk mengunci posisi mereka di titik-titik tertentu, sebuah solusi rekayasa cerdas yang membuat mainan tetap kokoh. 


Elemen kejutan tersembunyi juga menjadi obsesi tim desain dalam setiap perilisan. Anda bisa menemukan pintu kecil yang terbuka, tangga berputar, atau aksesori mini yang memperkaya pengalaman bermain.


Portabilitas sebagai Ciri Khas Storytelling Berjalan

Sejak awal kemunculannya, keunggulan utama Polly Pocket adalah portabilitasnya. Polly Pocket dapat dibawa ke mana saja dan menutup dengan sekali klik saat permainan usai. 


Ciri khas ini tetap dipertahankan hingga kini. Banyak compact modern bahkan dilengkapi keychain clip yang memungkinkan Anda menggantungkannya di tas sebagai aksesoris. 


Nilai Koleksi yang Terus Meningkat dari Waktu ke Waktu

Compact Polly Pocket asli buatan Bluebird kini menjadi barang koleksi yang sangat diminati. Set-set dalam kondisi mint dapat terjual hingga ratusan dolar di platform lelang seperti eBay. Set ikonik seperti Townhouse, Fairylight Wonderland, dan Starlight Castle disebut sebagai incaran utama karena kelangkaannya.


Menyadari besarnya minat ini, Mattel meluncurkan lini Polly Pocket Keepsake Collection yang menghadirkan kembali compact ikonik dari masa lalu, seperti Starlight Castle Compact (2021) dan Starlight Dinner Party Compact (2023). 


Kolaborasi Eksklusif yang Memperluas Daya Tarik bagi Kolektor Dewasa

Polly Pocket kini juga menyasar kolektor dewasa melalui rangkaian compact kolaborasi edisi terbatas dengan berbagai waralaba populer. Mattel Creations telah merilis compact bertema Harry Potter, Stranger Things, The Office, Wicked, Peanuts, Bridgerton, hingga edisi khusus perayaan 80 tahun Mattel. Setiap compact kolaborasi menghadirkan boneka mikro karakter ikonik lengkap dengan lokasi dan aksesori tematik.



Strategi ini memperluas daya tarik Polly Pocket melampaui segmen anak-anak. Sekarang, mainan ini menjadi barang koleksi lintas generasi yang digemari penggemar budaya pop dewasa.


Polly Pocket Compact Playset layak menjadi harta karun tersendiri bagi para kolektor mainan sejati. Setiap compact bukan hanya menyimpan dunia miniatur yang detail, tetapi juga sepenggal kisah sejarah mainan yang terus relevan hingga kini.


Jika Anda ingin menambah koleksi Polly Pocket kesayangan, kunjungi Blibli untuk menemukan berbagai pilihan compact playset, mulai dari edisi klasik hingga kolaborasi kolektor, dengan jaminan produk original dan kemudahan belanja yang aman. Jangan lewatkan kesempatan memiliki bagian dari sejarah mainan mini yang tak lekang oleh waktu.