Senin, 15 Desember 2025

FFH 2025: Festival Film Horor Pertama di Indonesia Digelar di Bibir Laut Pacitan




Pacitan, Jawa Timur - Komunitas Ruang Film Pacitan bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Pacitan resmi menggelar Festival Film Horor (FFH) 2025, festival film horor pertama di Indonesia, pada Jumat, 12 Desember 2025, bertempat di Pantai Pancer Dorr, Pacitan. FFH 2025 diinisiasi oleh Garin Nugroho, sutradara Indonesia yang sudah malang melintang di Festival-Festival Internasional. Gelaran ini dihadiri lebih dari 1.000 pengunjung serta berhasil menyerap 285 film horor dari sineas di seluruh Indonesia. Tak heran jika FFH 2025 menjadi peristiwa yang bersejarah bagi Pacitan dan perfilman Indonesia.

Bersamaan dengan pembukaan di Pantai Pancer Dorr, FFH 2025 juga menggelar Workshop Keaktoran Film Horor di SMKN 1 Pacitan, dipandu oleh Whani Darmawan (pemeran, sutradara, dan sastrawan) dan Pritt Timothy (aktor senior). Kegiatan ini diikuti pelajar SMKN 1 Pacitan sebagai bagian dari upaya pengembangan talenta muda di bidang perfilman.

Tak hanya memutar film-film horor berkualitas dari hasil kurasi dan penilaian dewan juri, acara FFH 2025 juga berhasil menyulap suasana Pancer Dorr yang kental dengan nuansa romantis menjadi penuh dengan antisipasi dan serius. Bagaimana tidak? Angin laut Selatan yang bertiup kencang, ditambah semburat kemerahan senja kala, sukses memberikan kesan redup dan hening khas adegan-adegan misterius di film horor. Sementara itu, lampu-lampu yang dipasang temaram dan kursi-kursi yang ditata berjejeran secara rapat, memberikan kesan nostalgia akan suasana bioskop layar tancap di masa lampau.

Para tamu undangan dari berbagai latar belakang seperti seni, budaya, ekonomi kreatif, hingga institusi daerah dan luar daerah, juga mulai berdatangan. Acara pembukaan semakin meriah dengan alunan musik keroncong dari Keroncong Sinoman dan Keroncong Harmoni, menghadirkan nuansa nostalgia di tengah lanskap laut.

Menjelang malam, suasana Pantai Pancer Dorr berubah dramatis. Alunan musik keroncong dari Keroncong Sinoman dan Keroncong Harmoni mengiringi kedatangan tamu undangan dari berbagai latar belakang seni, budaya, dan ekonomi kreatif. Sekitar pukul 19.30 WIB, arak-arakan pembukaan dimulai. Bupati Pacitan, jajaran pemerintah daerah, sineas, dan tamu undangan diarak bersama penari rontek dari Sanggar Pradapa Lokabakti yang mengenakan kostum hantu-hantu lokal.



Tak hanya rangkaian acaranya yang menarik, FFH 2025 juga kian istimewa dengan hadirnya sineas, kritikus, dan akademisi film profesional di Indonesia. Mewakili dari kalangan aktor, terdapat Siti Fauziah, pemeran Bu Tejo dalam Film Tilik. Ada pula perwakilan Sutradara Industri Film Indonesia, BW Purbanegara dan Hestu Saputra. Kemudian Sutradara, Pengkaji Film dan Dosen IKJ, Erina Adeline. Kritikus Film Nasional dan Dosen Binus, Ekky Imanjaya. Para dosen dan pengkaji film Novi Kurnia (UGM), Putri Nugrahaning (ISI Solo), Ardi Chandra (ISI Solo), dan Pius Rino (ISI Jogja). Hadir pula Inisiator dan penasihat festival Ong Hari Wahyu budayawan, seniman dan pengarah artistik film senior Indonesia.

Acara ini juga sukses digelar berkat dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak, seperti Akhmad Yani dari JAFF Community Forum dan Setawijaya dari Omah Jayeng & Garin Art Lab, yang juga turut hadir dan intens dalam pembukaan festival sampai penyelenggaraan. Pun hadir Dennis Adhiswara, selaku Public Lecture FFH artis senior, dan produser film di Tanah Air.

Tak hanya dari pelaku industri film profesional, acara FFH 2025 juga dihadiri oleh tokoh berpengaruh di Pacitan seperti Efi Suraningsih, Kepala Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang juga bertindak sebagai dewan juri kategori film eksibisi. hadir

Direktur Festival FFH 2025, Idham Nugrahadi, menyampaikan sambutan pembukaan, disusul orasi video dari Garin Nugroho selaku Festival Board FFH 2025 yang menyampaikan apresiasi dan antusiasme atas terselenggaranya festival film horor pertama di Indonesia.  Garin menuturkan bahwa FFH tidak hanya acara festival yang berpusat pada pemutaran film saja, namun ada banyak makna dalam film horor yang sangat berkaitan erat dengan masyarakat dan budaya Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa keberadaan film horor menjadi pendukung terbesar dari industri perfilman Indonesia, dengan 70% film-film Indonesia adalah film horor.

“Festival Film Horor bukanlah sekedar festival tengtang film. Film horror merefleksikan berbagai aspek kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Dari masalah adat istiadat, foklor, legenda, religi-bahkan juga cara berpikir, bergaya hidup, dan bertindak dari masyarakat Indonesia. Terbukti jumlah film horor telah mencapai 70% dari (total) film Indonesia, dan tentu saja itu menjadi pendukung terbesar dari (industry) film Indonesia,” tutur sutradara film Kucumbu Tubuh Indahku tersebut lewat video sambutannya.

Selepas pengantar dan sambutan dari Garin Nugroho, acara pembukaan dilanjukan dengan peresmian festival oleh Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayu Aji, yakni dengan seremoni menyalakan api petromaks di tengah suasana panggung yang sengaja diredupkan. Prosesi seremonial ini menambah nuansa dramatis pada acara FFH 2025 itu.

Sebagai salah satu rangkaian acara inti pembukaan FFH 2025, ditayangkan juga film undangan “Pelabuhan Berkabut” produksi Kura Kura Film. Film horor berdurasi 17 menit ini tidak hanya menampilkan adegan-adegan seram yang sukses membuat senam jantung, namun juga mengangkat isu stunting, krisis ekologi, dan ketahanan pangan. Pemutaran film dilanjutkan dengan diskusi bersama Saka Guna Wijaya, perwakilan Kura Kura Film dan Putra Pacitan yang memiliki pengalaman profesional di industri perfilman Indonesia, untuk membahas bagaimana film bisa menjadi media kritik dan refleksi sosial budaya.

Menjadi yang pertama di Indonesia, FFH 2025 menjadi momentum penting yang menegaskan bahwa film horor tidak hanya memiliki fungsi hiburan saja. Namun, film horor dapat juga menjadi medium refleksi dan kritik sosial budaya. Dari bibir laut Pacitan, Festival Film Horor membuka ruang baru bagi sinema Nusantara untuk tumbuh, berani, dan berakar pada cerita kultur lokal.

“Perayaan film horor di Pacitan adalah perayaan untuk kita semua, perayaan untuk kita bisa mengerti bagaimana cara hidup, gaya hidup, bereaksi, dan bertindak masyarakat kita dalam berbagai aspek dalam kehidupan berbangsa ini,” jelas Garin Nugroho sebagai penutup video sambutannya.



Informasi Lebih Lanjut Dapat Menghubungi:

Basecamp Ruang Film Pacitan

Jl. AES Nasution No.2, Kuwarasan, Baleharjo, Kec. Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Kode Pos: 63511

Instagram: @ruangfilmpacitan

Kamis, 11 Desember 2025

Zio Sandi Luncurkan Turah Wani



Bisa menyanyi, punya suara merdu, namun juga jago olah raga khususnya sepak bola. Mungkin sekarang jarang ditemukan, atau kurang terekspose. Kedua keberuntungan itu ternyata dimiliki oleh Zio Sandi, remaja 15 tahun asal Sleman, Yogyakarta,

Sejak kecil Zio Sandi sudah suka olah raga sepak bola dan menyanyi. Kesukaannya dengan sepak bola dijalaninya dengan bermain bola dan sekarang tergabung di PSS Sleman U15. Akhir November 2025, Zio Sandi memulai debutnya di dunia tarik suara dengan mengeluarkan single perdananya yang berjudul "Turah Wani" yang diciptakan oleh Tomo Widayat.




"Turah Wani" menceritakan tentang hubungan asmara remaja yang lugu namun penuh tekad. Jika benar-benar sayang, namun tidak direstui orangtua, kita tetap harus berani memperjuangkan. Pesan yang disampaikan "Turah Wani" adalah sebagai laki-laki harus berani bertanggungjawab. Kalau suka sama anaknya, harus nembung dulu, minta izin dulu sama orantuanya, jangan main belakang atau sembunyi-sembunyi, itu tidak baik.

Kamis, 04 Desember 2025

Ayura Yosih menepati janji untuk merilis extended play



Ayura Yosih telah membuktikan keseriusannya bermusik usai merilis single perkenalannya pada Juni 2025 lalu. Kini, Ayura Yosih menepati janji untuk terus berkarya dengan merilis extended play atau mini album pertamanya.

Leisure berisikan 6 lagu, semuanya berbahasa Indonesia dan secara garis besar menggambarkan perjalanan emosional dari euforia saat pertama kali jatuh cinta, sampai kehancuran ketika perasaan itu dibunuh oleh realita.

Mini album 'Leisure' berisi enam lagu berjudul 'Mencarimu (Berkali-kali)', 'Ku Mau Kamu', 'Seperlunya', 'Tak Penting Lagi', 'Masih Di Sini', dan 'Ekspektasi'. Untuk single yang menjadi lagu andalan dari mini album ini, Ayura Yosih memilih lagu 'Masih Di Sini'.



"Lagu 'Masih Di Sini' adalah caraku menyampaikan, bahwa kadang kita terlalu sibuk berlari dan mengejar, sampai lupa caranya berhenti dan diam sejenak. Lagu ini adalah wujud pelukan kecil untuk mereka yang masih mencoba bertahan, bukan karena tak bisa pergi, tapi karena memilih untuk tetap bernapas atas nama rasa," jelas Ayura Yosih.

"Aku membuat ‘Leisure’ sebagai ruang napas, sebuah jeda dari segala hiruk pikuk pencarian diri dan luka yang sering tak sempat disembuhkan," jelas Ayura Yosih.

"Album ini lahir dari keinginan untuk memahami apa arti tenang setelah semua badai reda. Bukan tenang yang kosong, tapi tenang yang punya makna," lanjutnya Ayura Yosih.



Leisure adalah album tentang diam yang tak lagi sepi, tentang ketenangan setelah badai, yang akhirnya menemukan makna. Di antara kenyataan dan keinginan, ada ruang di hati yang belajar beristirahat tanpa lagi banyak pertanyaan. Ini adalah kelahiran self love dari penerimaan dan keikhlasan, bukan dari pelarian.

Lagu-lagu di Leisure menggambarkan titik di mana aku berhenti melawan rasa sakit dan mulai berdamai dengannya. Di sini, aku belajar bahwa penerimaan bukan tanda menyerah, melainkan cara paling lembut untuk mencintai diri sendiri" ujarnya.

Melalui lagu-lagu di dalamnya, Ayura Yosih ingin mengajak pendengar merasakan momen 'diam yang tidak lagi sepi', tempat di mana kita tak lagi sibuk mencari dan menjawab semua pertanyaan, melainkan cukup hadir dan bernapas. "Jadi album ini adalah bentuk perayaan kecil dari proses itu, lahirnya self love yang tumbuh bukan dari pelarian, tapi dari keikhlasan," tegas Ayura Yosih.


Untuk proses produksinya, mini album 'Leisure' digarap oleh Sasi Kirono sebagai produser musiknya. Lima lagu dikerjakan oleh Sasi Kirono dan satu lagu dipegang oleh Rimanda Sinaga juga sebagai produser musik.

Keseluruhan lagu dalam mini album 'Leisure' diciptakan oleh Ayura Yosih. Namun selain Sasi Kirono (Smarai) dan Rimanda Sinaga, lagu-lagu Ayura Yosih juga dibantu disempurnakan oleh Adiyatma Raharjo dan Awal Janardi sebagai penata musik. Proses akhir mixing dan mastering dikerjakan oleh Sasi Kirono di Satrio Piningit Studio.

Mini album 'Leisure' dirilis secara digital pada Jumat 28 November 2025. Selain format audio, materi mini album 'Leisure' juga akan tersedia format video lirik dan video klip. Khusus single andalan 'Masih Di Sini', video klipnya juga akan segera dirilis secepatnya di kanal YouTube Ayura Yosih.

Kamis, 30 Oktober 2025

8TUALLY dan PSM UGM Gelar Press Conference Eksklusif, Persembahkan Karya Musik Visual "Melodi Nusantara"



8TUALLY dengan bangga mengumumkan penyelenggaraan Press Conference Peluncuran Music Video (MV) "Melodi Nusantara". Acara puncak ini dilangsungkan di Hyatt Regency Yogyakarta pada hari yang penuh makna historis, Selasa, 28 Oktober 2025, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.

Perilisan ini menjadi momen penting bagi 8TUALLY untuk secara resmi memperkenalkan kolaborasinya dengan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UGM. Penyelenggaraan Press Conference ini bertujuan untuk memaparkan secara mendalam misi kultural dan nasionalisme yang dibawa oleh 'Melodi Nusantara', sebuah karya yang didedikasikan sebagai 'doa untuk persatuan' bangsa.

Mengambil momen Hari Sumpah Pemuda, 8TUALLY berkolaborasi dengan PSM UGM luncurkan Music Video "Melody Nusantara". Sebuah musik video menjadi sebuah interpretasi visual yang kuat akan 'Habis Gelap Terbitlah Terang' dan semangat Sumpah Pemuda. 



Sebuah karya yang didedikasikan sebagai 'doa untuk persatuan' bangsa, Melodi Nusantara bertujuan untuk memaparkan secara mendalam misi kultural dan nasionalisme.

 Peluncuran dilaksanakan dalam Press Conference Eksklusif di Hyatt Regency Yogyakarta pada hari yang penuh makna historis, Selasa, 28 Oktober 2025, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. 

Dalam acara tersebut dipertunjukan Live Performance "Melodi Nusantara" oleh PSM UGM sekaligus tayangan visual music video, untuk menonjolkan kekuatan vokal Paduan Suara Mahasiswa UGM. Hal ini bertujuan agar audiens dapat merasakan pengalaman dan emosi yang sama, ketika mendengar keindahan suara mereka selama proses kreatif berlangsung. sekaligus menjadi pemutaran perdana Music Video-nya yang dapat ditonton oleh masyarakat luas.



"Launching kali ini menjadi tantangan baru untuk kami, tentunya menyajikan pemutaran Music Video yang dibarengi dengan Live Performance paduan suara bukan hal yang mudah, tapi kami ingin menjawab tantangan itu di acara malam ini," ujar Lion Bagaskara,  dari 8TUALLY.

Visual Melodi Nusantara direpresentasikan melalui penggunaan busana adat dari berbagai penjuru Nusantara oleh anggota PSM UGM selama proses syuting berlangsung. Lokasi syuting yang dipilih adalah Balairung, sebuah bangunan bersejarah bagi UGM dan juga Yogyakarta, menambah kesan sakral dan historis di Music Video ini.

Puluhan anggota PSM UGM dengan baju adat Nusantara, berdiri hening sambil memegang lilin di tengah gelapnya Balairung.



"Gak nyangka sih dari awal berproses sampai hari ini, launching MV Melodi Nusantara, banyak kejutan yang kita rasain, mungkin karena ini juga pertama kalinya kami berkolaborasi dengan pihak diluar UGM, ternyata banyak banget keseruan selama prosesnya," ujar Kylian Tulus, dari PSM UGM.

Lagu "Melodi Nusantara" sendiri lahir dari kerinduan mendalam Rois Munandar, komposer lagu ini, akan keteduhan dan keasrian Indonesia di masa kecilnya. Lagu yang awalnya instrumental dengan judul "Melodies of Nusantara" dari Musik Latar Indonesia ini kemudian diperkuat dengan vokal PSM UGM untuk memperluas jangkauan pesannya.


"Melody Nusantara" sudah dapat dinikmati di kanal YouTube 8TUALLY dan seluruh platform musik online lainnya. (281025/25)


Senin, 15 September 2025

Rocket Padel Dibuka, Terinspirasi Dari Tiktok



 Awalnya mengenal Padel lewat TikTok. Banyak artis yang memainkannya, terlihat fun sekaligus menantang. Peluang bukan hanya kesehatan, tapi juga pariwisata, itulah yang melahirkan Rocket Padel di Yogyakarta

Olah raga Padel menjadi gaya hidup masyarakat urban. Olah raga raket perpaduan tenis dan squash sedang naik daun di Indonesia, klub-klub padel bermunculan, menggelar turnamen, latihan bersama, hingga pelatihan teknik. Jumlah lapangan Padel-pun tumbuh di mana-mana, tidak terkecuali di Yogyakarta.

Padel juga dikenal sebagai salah satu cabang olahraga modern dan kini menjadi magnet baru sport tourism, yang memadukan aktivitas fisik dengan potensi wisata. Banyak artis yang memainkannya, terlihat fun sekaligus menantang. 



“Awalnya saya mengenal Padel lewat TikTok. Banyak artis yang memainkannya, terlihat fun sekaligus menantang. Setelah mendalami, saya melihat potensi besar, bukan hanya dari sisi kesehatan, tapi juga pariwisata yang melahirkan Rocket Padel di Yogyakarta,” ujar Nurul Atik, pendiri Rocket Padel sekaligus CEO PT Rocket Chicken Indonesia.

Rocket Padel sendiri dibangun dengan standar internasional, menawarkan tiga lapangan indoor dengan pencahayaan LED, lounge nyaman, ruang ganti modern, toko perlengkapan resmi, kafe sehat, mushola hingga area parkir luas.

Konsep Rocket Padel tak hanya arena olahraga, melainkan juga ruang gaya hidup baru bagi komunitas, keluarga, dan wisatawan.



Peresmian Rocket Padel berlangsung meriah pada Sabtu (13/9) di Rocket Convention Sidomoyo, Godean, Sleman, dihadiri oleh tokoh penting seperti Bupati Sleman Harda Kiswaya dan RM Gustilantika Marrel Suryokusumo, Ketua PBPI DIY.

PBPI (Perkumpulan Besar Padel Indonesia) Yogyakarta sebagai induk olah raga Padel di Yogyakarta diresmikan setahun terakhir tetapi 2 atlet asal Yogyakarta berhasil lolos ke tahap seleksi Tim Nasional Padel Indonesia. Jika melangkah ke tahap berikutnya, mereka akan membela Indonesia di kancah internasional.

“Meski PBPI DIY baru berdiri setahun terakhir, kami sudah bisa mengirim atlet ke level nasional. Ini bukti bahwa Yogyakarta punya energi besar untuk mengembangkan padel. Yang dibutuhkan sekarang adalah ekosistem sehat agar olahraga ini tumbuh pesat,” kata Mas Marrel, sapaan akrab RM Gustilantika Marrel Suryokusumo.




Padel dijadwalkan menjadi salah satu nomor yang dipertandingkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2028 dan Olimpiade 2032 di Brisbane, Australia.


Selasa, 02 September 2025

Merayakan Rasa, Ruang, Dan Ritme Hidup Yang Baru Di Sobo' Kitchen & Space

 SOBO' KITCHEN & SPACE merupakan tempat makan, minum, dan nongkrong yang berada di lokasi strategis, tepatnya sebelah timur kota Yogyakarta. Resto berkonsep modern ini berada dalam lingkungan Jogja Expo Center (JEC) yang sebelumnya bernama JEC Park. Kini, di lokasi yang sama, telah terjadi rebranding (perubahan merek) menjadi SOBO' KITCHEN & SPACE.

Brand baru ini diklaim akan membawa semangat dan vibes yang berbeda dari tempat sebelumnya. Banyak perubahan yang telah dilakukan, seperti mengubah susunan tempat makan, menu makanan dan minuman, sekaligus mengganti manajemen, di mana orang-orang di dalamnya lebih berdedikasi dan adaptif.

Di bawah asuhan PT Samudra Arsya Jaya, SOBO' KITCHEN & SPACE mempunyai slogan yang sangat dinamis, yakni 'Merayakan Rasa, Ruang, dan Ritme Hidup yang Baru'. Secara konsep areanya, SOBO' KITCHEN & SPACE juga mengusung indoor and outdoor dining, pengunjung bisa menyantap menu di dalam atau luar ruangan yang sangat nyaman.



Alasan dinamakan SOBO' KITCHEN & SPACE

Secara filosofi, nama SOBO' memiliki makna yang sangat kuat. SOBO' diambil dari bahasa Minang, yakni basobok yang artinya titik temu. Jika ditengok dari bahasa Jawa, sobo artinya bermain, melakukan sesuatu yang positif.

"Dari arti kata tersebut sebetulnya sudah langsung terlihat jelas tujuan dari adanya SOBO' KITCHEN & SPACE. Kita semua terkoneksi di sini. Selain ada dapur profesional, ada area makan yang sangat luas, bisa menjadi titik temu yang intim dan hangat," kata Operational Manager SOBO' KITCHEN & SPACE, Catur Kurniawan.

"Jadi tujuan awalnya memang SOBO' KITCHEN & SPACE tidak hanya sekadar menjual makan dan minum saja. Kami lebih dari itu," ujarnya.

Filosofi basobok tersebut juga diperkuat dengan visual dari desain logo SOBO' KITCHEN & SPACE. Ada titik-titik kecil yang membentuk garis dan jalur baru. Titik-titik itu bisa diartikan pertemuan-pertemuan kecil setiap orang yang akhirnya membentuk sebuah pola yang berpengaruh di kehidupannya.

"Kami percaya, hal-hal besar yang terjadi di sekitar kita biasanya dimulai dari hal kecil atau titik awal di meja makan, meski hanya dengan secangkir kopi saja," kata Catur Kurniawan.



Food testing dan kesuksesan slogan

Di SOBO' KITCHEN & SPACE terbukti bisa banyak menghubungkan dan menyatukan banyak kalangan. Momentum itu nyata terjadi saat acara food testing (uji makanan) yang diselenggarakan terbatas pada 7 Agustus 2025. Saat itu, semua tamu undangan yang hadir secara mengejutkan bisa bergabung dan berbaur satu sama lain, tanpa memandang status sosial mereka.

Saat pelaksanaan food testing, dari pemangku kebijakan, pengusaha, hingga perwakilan komunitas otomotif hingga komunitas seniman ternyata sangat terkoneksi dengan baik meski belum saling mengenal.

"Mereka yang terundang saat uji menu makanan dengan jujur memberi testimoni pada kami bahwa spot yang ada di SOBO' KITCHEN & SPACE sangat baik karena luas. Pengamatan mereka, area kami sangat representatif untuk titik kumpul. Sangat memungkinkan untuk menemukan kawan baru dan jadi spot ngobrol yang bikin betah," ujar Catur Kurniawan.

"Sejak awal kami memang mendesain agar tempat ini bisa langsung mengakomodir pengunjung untuk bisa melebur menjadi satu, tanpa batas. Lebih luasnya, semua golongan masyarakat bisa bebas berbaur," tambahnya.

Soal makanan dan minuman, SOBO' KITCHEN & SPACE menyediakan beragam menu yang biasanya digemari oleh kalangan menengah ke atas (A-B). Beberapa menu makanannya juga didesain berporsi besar, dengan tujuan agar mudah ketika disantap beberapa orang secara bersamaan. Harga menu-menunya pun sangat bersaing.

"Untuk penyajian per porsinya, kita memang memilih porsi besar dan bisa untuk dua sampai tiga orang. Khusus Bebek Peking dan ayam bakar bisa untuk berbagi tiga sampai enam orang. Praktis untuk nyantai rame-rame," kata Catur Kurniawan.

Dengan konsep tersebut, slogan 'Merayakan Rasa, Ruang, dan Ritme Hidup yang Baru' terasa sangat relevan ditemukan di SOBO' KITCHEN & SPACE. Harapannya, tempat ini selalu bisa menjadi titik temu semua kalangan. Menyantap kudapan lezat di tempat yang lengang sekaligus nyaman, hingga bisa merasakan atmosfer baru bertemu pula dengan kawan-kawan baru.



SOBO’ CARNIVAL (GRAND OPENING) 30-31 AGUSTUS 2025

SOBO' KITCHEN & SPACE mengadakan grand opening (acara pembukaan) pada 30-31 Agustus 2025. Dengan demikian, SOBO' KITCHEN & SPACE resmi dibuka dan beroperasi untuk umum mulai 1 September 2025.

Acara pembukaan ini bukan seremonial biasa. SOBO' KITCHEN & SPACE membuat bermacam-macam kegiatan yang bisa mengajak masyarakat untuk berpartisipasi meramaikan. SOBO' KITCHEN & SPACE mengadakan Sobo’ Carnival yang di dalamnya terdapat kegiatan Morning Run, Coffee Morning, Poundfit With Patrice, Workshop Food Photography, Workshop Upcycling by Rumah Shiro, Art Exhibition by D’Art Management, Sobo’ Pop Up Market, dan terakhir Music Performance dari musisi-musisi muda Yogyakarta.

Khusus untuk Art Exhibition by D’Art Management, akan ada beberapa nama muda, seniman spesial dengan prestasi yang luar biasa baik di dalam maupun luar negeri. Mereka yang akan memamerkan karya seninya adalah Mahendra Oka, Lovehatelove, Anagard, Ismu I, Begog Oner, Neusone, Media Legal, Dyege, Adit Doodleman, Tombol, dan Birdpeace.

“Pameran seni yang diberi tajuk ‘Sub Culture, Street Exhibition’ ini berkolaborasi bersama D’Art Management yang didirikan oleh Rr. Surya Haninditya yang akrab disapa Ditya,” ujar Catur Kurniawan.



Untuk ceremonial opening SOBO' KITCHEN & SPACE akan dibuka pada Sabtu 30 Agustus 2025, sore. Sedangkan untuk kegiatan seni dan hiburan lainnya akan dilaksanakan keesokan harinya, Minggu 31 Agustus 2025.

“Kami berharap dengan banyaknya kegiatan yang terjadi dua hari tersebut bisa berdampak positif untuk semua yang hadir. Tujuan utamanya tentu kita bisa saling kenal, bisa saling berjejaring, dan berkolaborasi membuat sesuatu yang positif,” kata Catur Kurniawan.

Dalam grand opening SOBO' KITCHEN & SPACE, nantinya akan dihadiri oleh tamu-tamu undangan penting seperti Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawana Langgeng Ing Mataram, para pejabat JEC, dan beberapa tokoh penting seperti pejabat pemerintahan dari Bantul dan Sleman, Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Bantul, kepolisian, rekan pengusaha, hingga para seniman.



Sabtu, 26 Juli 2025

Event "KAI Bandara Glow Night Fun Run 90's" di Yogyakarta

 


JogjaUpdate.com ~ Malam minggu, Sabtu, 26 Juli 2025, PT Railink atau KAI Bandara menggelar event "KAI Bandara Glow Night Fun Run 90's" di Yogyakarta, lari sambil menikmati kelap kelip keindahan malam kota Jogja.

Mengambil start dan finish di Stadion Mandala Krida Yogyakarta, para peserta lari diajak menyusuri rute berjarak 5 kilometer dan 10 kilometer dari Stadion Mandala Krida menuju tengah kota Yogyakarta, Tugu, Stasiun Tugu, Titik Nol Kilometer dan balik lagi ke Stadion Mandala Krida, Yogyakarta.

Seperti namanya, KAI Bandara Glow Night Fun Run 90's, event lari ini bertema nuansa tahun 90-an retro.



“Mengusung semangat era 90-an, acara ini dikemas dengan konsep lari malam penuh warna, musik, dan nostalgia,” ujar Direktur Utama KAI Bandara, Porwanto Handry Nugroho, saat konferensi pers, Jumat (25/7/2025).

Tercatat lebih dari 3.500 peserta telah bergabung untuk meramaikan acara yang akan dilaksanakan untuk ketiga kalinya ini. Jumlah  peserta mengalami peningkatan dari tahun pertama 800 peserta, kemudian tahun kedua 2.500 peserta.


Separuh peserta nantinya berasal dari luar Yogyakarta, menurut Porwanto, hal ini berpeluang meningkatkan perputaran ekonomi lokal, mendongkrak geliat sport tourism karena mereka membutuhkan penginapan, makanan, hingga moda transportasi.

"Harapannya dengan event seperti ini Yogyakarta lebih meriah, lebih hidup. Kalau pariwisata hidup, maka sektor lain juga ikut bergerak, termasuk transportasi yang menjadi core bisnis kami," ucap Porwanto.

Untuk menciptakan pengalaman berbeda, acara yang mengusung semangat era 90-an itu dikemas dengan konsep lari malam penuh warna, musik, dan nostalgia.

"Kami ingin membuat acara yang menyenangkan. Kalau malam bisa main 'lighting', bisa hiburan juga. Makanya kami sebut 'glow night'. Bukan sekadar lari, tapi ada acara dan permainan cahaya," kata Porwanto.

Ketua Panitia Glow Night Fun Run Diah Suryandari menyebut ajang lari ini dibagi menjadi dua kategori yakni 5 kilometer dan 10 kilometer dengan titik start dan finish berada di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta.

“Kami berterima kasih antusiasme sangat tinggi, namun demi kenyamanan kami pertimbangan juga jumlah peserta. Berbagai kesiapan juga sudah matang, termasuk untuk arus lalu lintas, hingga untuk kesehatan peserta,” ungkap Diah Suryandari.

Kemeriahan Glow Night Fun Run 90’s tidak berhenti di lintasan lari. Para peserta akan dimanjakan dengan hiburan dari deretan penampil ternama. Wika Salim, penyanyi dangdut dan entertainer populer, Berlari Berdendang dan band DXTER akan menghangatkan suasana dengan musik.

Disiapkan juga oleh PT KAI Bandara doorprize utama yaitu paket liburan ke Jepang, selain doorprize lainnya seperti motor listrik, sepeda listrik, smartwatch, handphione, kulkas, TV LED, sepeda gunung, dan beragam hadiah menarik lainnyabagi peserta yang beruntung. (250725/25)


Sabtu, 19 Juli 2025

Fraidé Rilis Karya Perkenalan Format Mini Album (EP) Berjudul 'Reflection'


 

Satu lagi grup band baru pendatang dari Yogyakarta. Adalah Fraidé, kwartet indi pop yang terbentuk karena semangat serupa untuk merealisasikan mimpi yang sempat tertunda. Fraidé beranggotakan Gie Seddon (vokal), Gilang Hermani (gitar), Kade Agus (bass), dan Nano Rasendria (drum). Keempatnya bukan wajah baru di dunia musik lokal. Semuanya pernah berproses dan telah berkarya di grup band mereka sebelumnya.

Didirikannya Fraidé karena kesamaan visi mereka saat ini yang sudah sibuk dengan keluarga dan pekerjaan masing-masing. Kendati demikian, mereka mengamini bahwa musik selalu menjadi jalan untuk tetap lebih 'hidup'. Lalu mereka bersepakat membuat entitas baru dalam berkarya.

Nama Fraidé lahir dari kisah sederhana namun penuh makna bagi masing-masing personelnya. Di tengah padatnya rutinitas, satu-satunya waktu yang bisa mereka manfaatkan untuk berkumpul dan berlatih adalah hari Jumat, yang dalam bahasa Inggris berarti Friday. Ide nama Fraidé pertama kali dilontarkan oleh Gilang Hermani dan langsung disepakati personel lainnya.



"Semakin sering kami bertemu dan berproses bersama setiap hari Jumat, muncul satu pemikiran, 'Kenapa tidak Fraidé saja?'," kata Gie Seddon mengawali.

Nama Fraidé disepakati bukan hanya karena latar waktu berkumpul dan berlatih, tetapi juga karena memiliki makna lebih luas. Jumat adalah awal dari akhir pekan dan momen yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Hari ketika orang mulai pulang ke rumah, berkumpul dengan keluarga dan sahabat, menemukan kembali kebahagiaan setelah melewati hari-hari sibuknya.

"Di satu sisi, hari Jumat juga dianggap sebagai hari besar dan mulia bagi sebagian orang. Sehingga harapan kami dari pemilihan nama Fraidé juga bisa menjadi istimewa seperti Jumat," timpal Gilang Hermani.

Untuk genre musik, secara umum Fraidé mengusung pop, namun tidak meninggalkan unsur overdrive hingga distorsi kental pada gitar. Fraidé mengambil banyak referensi dari grup-grup band alternatif rock 90-an, seperti The Cranberries, The Cardigans, Placebo, The Cure, Alanis Morissette, The Smashing Pumpkins, The Verve, dan selingkarnya.




Bukan rilis satu lagu, tapi langsung mini album

Meski baru seumur jagung dan namanya belum banyak dikenal khalayak, namun Fraidé tetap percaya diri berkarya secara nyata. Tak cuma single atau satu lagu saja, Fraidé justru mengambil langkah berani langsung mengeluarkan empat lagu sekaligus. Keempat lagu itu mereka tuangkan dalam mini album atau extended play (EP) berjudul 'Reflection'.

Langkah ini patut diapresiasi, lantaran sejak beberapa tahun silam sebagian musisi lebih gemar 'cari aman' dengan merilis single, satu demi satu saja. Memang, semua musisi punya pertimbangan masing-masing. Namun Fraidé juga punya alasan kuat kenapa harus merilis karya dengan format EP sebagai karya perkenalan.

Menurut Gie Seddon, Fraidé langsung merilis EP karena keempat lagu di dalamnya memiliki benang merah yang saling terhubung. Lagu-lagu ini bukan hanya berdiri sendiri, tapi merupakan bagian dari satu storyline utuh sebuah perjalanan emosional dan naratif, bertahap dan saling melengkapi.



Empat lagu yang ada dalam EP ‘Reflection’ sekaligus menjadi cerminan perjalanan batin, pencarian jati diri, dan proses pendewasaan yang dialami para personel Fraidé selama bertahun-tahun.

"Merilisnya secara bersamaan memungkinkan pendengar menikmati keseluruhan cerita. Ada pengalaman yang ingin saya sampaikan secara penuh mulai dari refleksi, pertanyaan, pencarian, hingga kesadaran. Jika dipisah-pisah, rasa dan makna dari keseluruhan cerita itu bisa terpotong," papar Gie Seddon.

"Dengan merilis EP ini secara utuh, kami berharap pendengar bisa masuk lebih dalam ke dalam ruang pemikiran dan batin kami, mengikuti alur kisahnya, dan mungkin menemukan bagian dari diri mereka sendiri di dalamnya," lanjutnya.

Selain itu, bagi Gilang Hermani, pencapaian terbesar musisi seharusnya adalah karya yang komplet. Karya tersebut dimaknai Fraidé bukan dari satu atau dua lagu saja, tapi lebih banyak lagu yang berkesinambungan.

"Saya dan teman-teman sepakat ketika sebuah band mengeluarkan karya, bentuk monumental dan pencapaiannya sebaiknya harus album, bisa dalam wujud EP ataupun full album," tambah Gilang Hermani.




Semua lagu dalam mini album 'Reflection' berbahasa Inggris, kenapa?

Alasan Fraidé mengemas lirik berbahasa Inggris juga sangat matang. Bukan serta-merta mengesampingkan bahasa Indonesia, tapi sejak awal Fraidé punya visi agar karya mereka nantinya tidak melulu bisa dinikmati pendengar dalam negeri saja, namun juga bisa terjangkau audiens global.

Lirik empat lagu dalam EP tersebut awalnya dibuat oleh James Seddon, pasangan dari Gie Seddon. Setelah itu Gie mulai menyesuaikan lirik agar lebih pas dengan aransemennya. Proses kreatif keduanya berkembang secara natural dalam bahasa Inggris tanpa mengurangi makna maupun kedalaman cerita dari lagu pertama hingga terakhir.

"Jadi memang bahasa Inggris kami pilih sebagai jembatan untuk memperluas cakupan pesan dan emosi yang ingin Fraidé sampaikan. Bagi kami bahasa hanyalah medium, yang terpenting adalah rasa yang tersampaikan," kata Gie Seddon.



Fraidé juga optimis punya diferensiasi dengan grup-grup band lainnya. Bagi mereka, yang membedakan Fraidé bukan hanya dari genre atau aransemen musiknya, tapi lebih pada bagaimana mereka mengemas lagu dan pesan yang ingin disampaikan.

"Yang paling kami unggulkan adalah kedalaman pesan dalam setiap lagu. Lirik-lirik kami memang lahir dari pengalaman nyata dan fase-fase kehidupan yang kami rasa pernah atau akan dialami oleh siapa saja. Kami ingin setiap orang yang mendengarkan lagu Fraidé bisa merasa, 'Oh, ini tentang saya.'," jelas Gie Seddon.

Single utama dari mini album Fraidé juga berjudul 'Reflection'. Lagu ini terlahir dari momen refleksi mendalam Gie Seddon setelah ia menjalani perjalanan solo ke negeri orang. Perjalanan tersebut menjadi titik balik sebuah ruang sunyi yang justru penuh suara-suara dalam dirinya sendiri. Di sanalah muncul kesadaran bahwa musik bukan hanya sekadar pilihan, melainkan bagian dari hidup yang tak bisa ditinggalkan.

“Lagu 'Reflection' adalah simbol dari kesempatan kedua untuk saya dan teman-teman kembali bermusik, untuk mendengarkan kata hati, dan untuk memulai lagi dari titik yang lebih jujur," ujar Gie Seddon.

Setelah lagu 'Reflection', lagu kedua adalah 'Y&G' (Yellow and Green). Lagu dengan suasana sendu ini mengingatkan saat kita berada di titik bimbang, tapi kita harus tetap berjalan.

Masuk lagu ketiga, 'Déjà Vu', pesan dalam liriknya makin personal. Lagu ini soal cinta pada diri sendiri, tentang bagaimana ternyata versi terbaik dari dirimu itu sebenarnya sudah ada sedari dulu dan selalu terasa familier.

Lagu terakhir, 'Is Love', menyimpan satu pesan utama: cinta yang selama ini mengelilingi kita mungkin tidak terlihat atau tak dihargai akan tampak jelas ketika kita kembali terhubung dengan diri sendiri. Ini adalah perayaan penerimaan diri dan melimpahnya cinta dalam hidup.

Bagi Fraidé, musik bukan hanya soal nada, tapi tentang bagaimana ia bisa menyentuh, menemani, dan menjadi cermin bagi perjalanan hidup seseorang. Keempat lagu mereka membawa itu semua.

"Itulah yang ingin kami 'jual', tentang keterhubungan emosional. Dan kami percaya, ketika sebuah lagu terasa relate, maka ia akan tinggal lebih lama di hati pendengarnya," kata Gilang Hermani.

Proses rekaman empat lagu tersebut dilakukan di dua studio sekaligus. Perekaman instrumen drum dan satu lagu untuk vokal diabadikan di Abel Studio. Kemudian vokal untuk tiga lagu lainnya direkam di Neverland Studio sekaligus bass dan gitarnya. Proses akhir mixing dan mastering dikerjakan oleh Bayu Randu.

EP 'Reflection' rilis pada Jumat 18 Juli 2025 di gerai-gerai musik digital seperti Spotify, Apple Music, Deezer. dll. Sedangkan untuk format audio visualnya berupa video lirik empat lagu akan mengudara melalui kanal YouTube Fraidé.

Usai merilis EP ‘Reflection’, Fraidé sudah mempunyai banyak rencana perihal karya. Fraidé akan menyiapkan beberapa konten video live perform, hingga mulai mematangkan materi-materi baru untuk album penuh tahun depan.


Jumat, 18 Juli 2025

Dieng Culture Festival Ke-XV menghadirkan Orchestra Symphony Dieng

 



Mengusung tema “Back To The Culture”, Dieng Culture Festival (DCF) ke XV kembali akan digelar pada tanggal 23-24 Agustus 2025 mandatang.

 “Dieng Culture Festival akan diselenggarakan selama 2 hari pada  sabtu dan minggu, tanggal 23 & 24 Agustus 2025. Agenda utama festival adalah kira budaya & ritual cukur rambut anak gimbal.” ujar Ketua Pokdarwis Dieng Pandawa Alif Faozi dalam keterangan tertulisnya (18/7/2025).

 Menurut Alif, detail agenda dan acara pada DCF ke XV tahun 2025 ini akan disampaikan pada saat launching DCF XV pada tanggal 26-27 Juli esok bersama event Geothermal Festival dan Dieng Fun Walk dengan kategori 5 kilometer dan 10 kilometer yang dilakukan atas kerjasama Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa Desa Dieng Kulon dengan Tim Kuliah Kreja Nyata Universitas Gadjah Mada dan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara.



 Sementara secara terpisah, Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana menegaskan komitmen penuh pemerintah kabupaten Banjarnegara untuk mendukung suksesnya penyelenggaraan DCF ke XV.

 “DCF tahun 2025 merupakan momentum untuk mengangkat nilai nilai kebudayaan yang ada di wilayah dataran tinggi Dieng. Kegiatan ini akan menjadi sarana promosi pariwisata Banjarnegara secara lebih luas dengan harapan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat Dieng dan Banjarnegara pada umumnya.” kata dr. Amalia Desiana.

 Bupati Banjarnegara, dr Amalia Desiana sangat bersemangat dalam penyiapan penyelenggaraan DCF ke XV.

 “Saya sangat mengapresiasi ide-ide kreatif dalam DCF kali ini. Tunggu tanggal mainnya, kalau gak datang ke DCF kali ini, saya jamin menyesal.” seloroh Bupati Banjarnegara. 



 Alif menambahkan, DCF Ke XV tahun 2025 tidak lagi menyuguhkan pertunjukan Jazz Atas Awan, tetapi akan diganti dengan pertunjukan musik Orchestra Symphony Dieng, dan tetap ada penerbangan ribuan lampion.

 DCF ke XV pada prinsipnya terbuka untuk umum, pembatasan pengunjung hanya pada saat Ritual Cukur Rambut Gimbal di Candi Arjuna dan Orchestra Symphony Dieng di panggung Pandawa. Panitia menyediakan 2 panggung lain yakni panggung Sembadra dan panggung Gatotkaca yang bisa diakses masyarakat umum secara leluasa.

 “Silahkan hadir saat peluncuran DCF Ke XV pada tanggal 27 Juli 2025 esok untuk informasi detail acara dalam DCF, sambil menikmati udara pagi dan hawa dingin dataran tinggi Dieng pada kegiatan Dieng Fun Walk.” pungkas Alif Faozi dalam keterangannya. 

Jelang HAN, LPKA Yogyakarta dan PKBI DIY Angkat Potensi Anak Lewat Trofeo

 Masih dalam semangat peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025, Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Yogyakarta bersama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PKBI DIY) menggelar kegiatan Trofeo Futsal pada Selasa, 15 Juli 2025. Bertempat di Lapangan Futsal LPKA, pertandingan mempertemukan tim anak binaan LPKA dengan dua tim dari sekolah luar, yakni SMA N 1 Playen dan SMA N 1 Karangmojo

Sejak pagi, suasana di LPKA terasa berbeda. Anak-anak binaan tampak bersemangat menyambut kedatangan para tamu dan lawan tanding mereka. Prosedur keamanan tetap dijalankan ketat; seluruh tamu dari luar lembaga menjalani pemeriksaan oleh petugas pengamanan, dan dua personel dari Polres Gunungkidul turut hadir untuk memastikan acara berlangsung aman dan tertib.

Lebih dari sekadar pertandingan sehari, kegiatan ini menunjukkan betapa besar antusiasme dan potensi anak-anak binaan dalam bidang olahraga, khususnya futsal. Semangat yang mereka tunjukkan di lapangan menjadi cerminan bahwa pembinaan bukan hanya soal kedisiplinan, tapi juga soal merawat minat dan mengasah bakat.



Kepala LPKA Kelas II Yogyakarta, Sigit Sudarmono, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembinaan yang lebih luas. “Kami ingin anak-anak merasa bahwa mereka masih punya ruang untuk bertumbuh, untuk menunjukkan kemampuan mereka, dan untuk dipercaya. Melalui olahraga, mereka belajar kerja sama, disiplin, dan semangat pantang menyerah. Ini bukan soal menang atau kalah, tapi tentang memberi kesempatan untuk kembali terhubung dengan dunia luar,” ujar Sigit.

Ke depan, Sigit juga berharap kegiatan serupa memiliki peluang besar untuk dikembangkan ke tingkat yang lebih tinggi, seperti turnamen antar lembaga atau kolaborasi rutin dengan sekolah luar. Dengan cara ini, LPKA tidak hanya menjadi tempat pembinaan, tetapi juga ruang aktualisasi anak-anak yang sedang menata ulang masa depannya. “Kami melihat potensi mereka. Dan tugas kita bersama adalah membuka jalan agar potensi itu bisa terus berkembang,” ungkap Sigit.

Salah seorang anak binaan juga menyampaikan antusiasmenya selama kegiatan dan berharap kegiatan seperti ini terus dipertahankan juga dikembangkan. “Saya senang sekali bisa ikut main futsal bareng teman-teman dari SMA lain. Rasanya seperti kembali jadi anak sekolah biasa. Bisa lari-lari, guyon bareng, dan bersaing sehat bikin saya merasa dihargai walaupun sedang menjalani pembinaan di sini,” ujar R.



Gong, Program Officer INKLUSI Pilar ABH PKBI DIY turut menyampaikan harapannya bagi pengembangan minat dan bakat anak agar tidak hanya mengacu pada program, tetapi berfokus pada kebutuhan dan keinginan anak. “Acara ini baru merupakan permulaan, ke depannya kami berharap acara dengan format serupa bisa diperluas dan bisa diikuti oleh banyak anak anak dari beragam latar belakang sebagai salah satu komitmen kita merekognisi semua anak tanpa terkecuali,” pungkas Gong PKBI.

Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 16.30 WIB ini ditutup dengan kembalinya anak binaan ke paviliun untuk melanjutkan aktivitas seperti biasa. Trofeo futsal adalah satu dari beberapa rangkaian kegiatan bagi anak menjelang Hari Anak Nasional.

Merayakan Tradisi, Merajut Harmoni Langit Nusantara

 



Yogyakarta, Juli 2025 — Dalam rangka menyambut dan memeriahkan The 10th Jogja International Kite Festival (JIKF) 2025, panitia menghadirkan rangkaian kegiatan istimewa yang tidak hanya menampilkan keindahan layang-layang dari berbagai daerah dan negara, tetapi juga mengangkat nilai-nilai budaya, pelestarian lingkungan, serta kearifan lokal DIY. Festival ini akan digelar pada 26–27 Juli 2025 di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, sebagai puncak dari berbagai kegiatan pendahuluan yang tersebar di sejumlah lokasi strategis.



Rangkaian Kegiatan Road to JIKF 2025:

  1. Festival Layang-Layang Anak – Grogol, Paliyan, Gunungkidul (9 Juli 2025)
    Kegiatan ini melibatkan anak-anak dan komunitas lokal dalam lomba serta workshop pembuatan dan penerbangan layang-layang. Tujuannya adalah menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap permainan tradisional dan kreativitas berbasis budaya.
  2. Penanaman Pohon Endemik Langka – Warung Gedangsari, Karangmojo
    Sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian alam, dilakukan penanaman pohon-pohon endemik langka di kawasan perbukitan Gunungkidul. Aksi ini melibatkan pelayang internasional, komunitas lingkungan, serta warga sekitar sebagai simbol harmoni antara budaya dan alam.
  3. Eksplorasi Budaya – Pembuatan Keris Tradisional di Besalen (Workshop Kerajinan)
    Para peserta festival diajak menyaksikan langsung proses pembuatan keris oleh empu lokal di Besalen. Ini menjadi bagian dari edukasi budaya dan warisan takbenda yang diangkat dalam semangat festival.
  4. Majemukan – Pantai Pandansari, Bantul
    Dalam kegiatan ini, para pelayang dari dalam dan luar negeri melakukan “majemukan” atau penerbangan perdana sebagai bentuk perkenalan budaya dan persahabatan antarbangsa, menjadikan langit Pandansari sebagai panggung diplomasi budaya yang unik dan damai.
  5. Puncak Acara: The 10th Jogja International Kite Festival – Parangkusumo, Bantul (26–27 Juli 2025)
    Ribuan pengunjung akan memadati Pantai Parangkusumo untuk menyaksikan layang-layang raksasa, atraksi udara spektakuler, parade budaya, panggung hiburan, serta area UMKM dan kuliner. Tahun ini, sistem kunjungan dilakukan melalui paket wisata senilai Rp20.000, yang mencakup akses penuh ke arena festival. Pengunjung juga tetap dapat menyaksikan dari luar pagar secara gratis.


Komitmen dan Kolaborasi

JIKF 2025 mengusung tema “Langit Menyatukan Kita” sebagai refleksi dari keberagaman, kreativitas, dan semangat kolaboratif antar pelayang dari berbagai negara. Kegiatan ini didukung oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, komunitas pelayang, pelaku pariwisata, seniman, serta masyarakat lokal yang turut menyukseskan festival ini dari hulu hingga hilir.

Kami mengundang seluruh masyarakat, wisatawan, dan pecinta budaya untuk hadir dan merayakan semangat kebersamaan di langit Jogja.



Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi:
📍 Website: www.jikf2025.com
📧 Email: info@jikf2025.com
📞 Hotline: +62 812-XXXX-XXXX

Jogja Terbangkan Budaya ke Langit Dunia !!!
Panitia Jogja International Kite Festival 2025