Jumat, 25 Oktober 2024

MILIKAMUFEST : RUANG DIMANA KALIAN ADALAH BAGIAN CERITANYA

 

Hey Kamu, yang berada di tengah kesibukan, kesantaian, kejenuhan, kesenangan, flat, roller coaster, atau apapun yang mewarnai keseharian Kamu, Gong Fest kembali menghadirkan perayaan atas segala prestasi yang telah kamu gapai. Bukan hanya sekedar perayaan panggung musik, tapi ini juga merupakan ruang dimana kalian adalah bagian dari ceritanya. Bersiaplah, karena momen ini adalah MILIKAMU.



Gong Fest merupakan platform festival musik yang berpadu dengan industri kreatif muda begitu kata Anton selaku CEO dan Founder. Gong Fest telah melahirkan banyak event dari Jogja Migunani, Senandung alam Jogja dan Malang 2022, Senandung Ria Malang 2023. Dalam kesempatan kali ini Gong Fest akan menyajikan Milikamu Fest di Yogyakarta.

MILIKAMU Fest akan diselengggarakan di Lapangan Parkir Mandala Krida pada 30 Oktober 2024, menyajikan penampilan musisi favorit kamu, Tipe-X, NDX AKA, FSTVLST X Fanny Soegi, Rebellion Rose, The Jeblogs, dan The Kick.

Selain Musisi favorit kamu MILIKAMU Fest juga akan menghadirkan aktivitas menarik di area floor festival dan juga Instalasi yang bisa kamu respon bersama dengan Farid Stevy. Buat kamu yang pengen jajan juga bakal banyak tenant-tenant food and beverages di area festival. Milikamu Fest akan bekerja sama dengan industri kreatif muda JRNY Records yang aktif di sisi musik.



MILIKAMU merupakan tempat untuk mengekspresikan Keromantisan buat kamu. Bisa dengan Kencan Konser, mencari belahan jiwa dengan Playlist dan selera musik sama. Namun Keromantisan juga ga melulu tentang kehidupan percintaan yang berbunga. Kamu juga bisa meromantisasi kekompakan circle kamu di sini, menjadi tempat reuni dan berbincang, bahkan meromatisasi kesedihan, kesendirian dan juga menjadi ruang yang romantis untuk menonton sebuah Festival seorang diri.

Untuk kamu yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya, tiket MILIKAMU fest bisa kamu dapatkan di Kantor Gong Production, JRNY Coffee & Records, Kopi Skena, serta beberapa outlet Cold N Brew yaitu, CnB Demangan, CnB Kaliurang, CnB Parangtritis, dan CnB Klaten.

Bagi kamu yang ingin beli tiket secara online juga bisa mampir ke webnya Artatix.co.id, atau juga bisa mampir ke Le Travail Coffee, Esco Park Demangan, dan Sepakat Coffee untuk scan barcode dan membeli secara online.

Penukaran tiket bisa dilakukan mulai tanggal 29 Oktober 2024 di Venue Acara (Lapangan Parkir Mandala Krida) dan akan dibuka pada pukul 14.00. Untuk penukaran tiket di hari H, akan dibarengi dengan Pembelian Tiket Offlline MILIKAMU Fest on the spot dan akan dibuka pada pukul 10.00 WIB.

Hey Kamu, Iya Kamu. Bersiaplah! Hingar bingar dan perayaan ini adalah MILIKAMU.

Festival Kebudayaan Terbesar di Lembah Harau, Sumatera Barat Siap Digelar Pada Tanggal 25-27 Oktober 2024 Mendatang

 JogjaUpdate.com ~ Pasa Harau Art & Culture Festival akan digelar untuk keenam kalinya pada tanggal 25-27 Oktober 2024  di Nagari Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. 

Festival berbasis warga yang digagas oleh Komunitas Pasa Harau ini pada tahun ini mengetengahkan tema tentang “Unite With Nature“ sebagai upaya kembali kepada alam dan pelestarian lingkungan.



"Tahun ini kami memberi tema kembali ke alam sebagai bagian dari kampanye untuk selalu menjaga alam dan lingkungan ditengah situasi krisis Iklim. Selain menyuguhkan beragam atraksi seni pertunjukan dan tradisi, kami juga akan mengajak peserta dan traveler ikut kegiatan jelajah lembah Harau sambil menanam pohon di hutan dalam Pasa Harau Art & Culture Festival mendatang." Ujar Rizky Trio Novendra selaku Direktur Produksi dan Artistik Festival didampingi oleh Syukriandi ,Wali Nagari Harau, 23 Oktober 2024 di Limapuluh Kota, Sumatera Barat. 

Menurut Syukriandi (Wali Nagari Harau) festival ini dinisiasi oleh Komunitas Pasa Harau dengan dukungan berbagai organisasi masyarakat, praktisi kebudayaan, para pelaku wisata budaya, dan pemerintah. Masyarakat Nagari Harau ikut terlibat dengan bergotong-royong menyiapkan festival berupa penyiapan lokasi, pembangunan lokasi jualan UMKM bagi masyarakat sekitar, dan kegiatan pendukung festival lainnya.

"Pemerintah Nagari dengan dukungan Badan Musyawarah Nagari juga mengalokasikan anggaran untuk mendukung festival yang diinisiasi oleh komunitas di Nagari Harau yang telah dilangsungkan sejak tahun 2017 lalu." Jelas Syukriandi lebih lanjut.

Sementara menurut Budhi Hermanto dari Yayasan Umar Kayam selaku pendamping Komunitas Pasaharau, ia mengatakan bahwa Pasa Harau Art & Culture Festival adalah festival warga yang mengedepankan partisipasi dan keterlibatan warga dalam perencanaan, hingga pelaksanaan festival.

“Festival ini sebenarnya alat, bukan tujuan. Warga masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan saling bahu membahu, bergotong royong untuk pemajuan kebudayaan dan sekaligus pengembangan wisata berbasis komunitas di Lembah Harau.” Ujar Budhi Hermanto.

Sementara Syukur Asih Suprodjo dari Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan RI menyatakan apresiasi yang tinggi terhadap semua pihak yang terlibat dalam kegiatan Festival Pasa Harau sebagai bagian dari upaya pemajuan kebudayaan di Sumatera Barat.

"Kami mendukung kegiatan Pasa Harau Art & Culture Festival tahun 2024 ini sebagai kegiatan kebudayaan yang telah diinisiasi oleh komunitas di Nagari Harau ini. Kami berharap, kegiatan ini terus berlanjut untuk memperkuat ekosistem kebudayaan, khususnya di Sumatera Barat." Kata Syukur Asih Suprodjo.

Dalam kesempatan yang terpisah, Drs. Reza Fahlevi, M.Si., dari Direktorat Event Daerah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI menyambut baik rencana pagelaran Pasa Harau & Art Culture Festival 2024 mendatang. 

"Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sangat mendukung Pasa Harau Art & Culture Festival sebagai event yang berbasis budaya, seni tradisi, dan keindahan alam sekitar Lembah Harau ini. Semoga kedepan festival ini semakin membantu promosi potensi wisata budaya dan alam yang ada di Sumatera Barat." Kata Reza Fahlevi.

Penyelenggara Pasa Harau Art & Culture Festival telah menyiapkan berbagai atraksi budaya, seni tradisi, dan berbagai seni pertunjukan kontemporer yang menarik selama 3 hari sejak tanggal 25-27 Oktober 2024 mendatang. Di Lembah Harau juga telah tersedia berbagai jenis hunian berupa homestay yang bisa menjadi tempat tinggal bagi traveler/wisatawan yang akan menginap di tengah lembah yang menjulang tinggi, indah dan sejuk. (231024/24)


Kamis, 24 Oktober 2024

Perempuan, Pemimpi, dan Perantau: Mitty Zasia Rangkum Ribut di Kepalanya Lewat Album Kedua, Nanti Malam Kupikir Lagi

 Lima tahun setelah merantau dari Sulawesi Utara ke Yogyakarta, Mitty Zasia menemukan apa yang selama ini terasa kurang di hidupnya: mimpi besar yang perlu dikejar. Masalahnya, tak ada yang kasih peringatan bahwa efek samping dari memiliki mimpi adalah pengejarnya sering babak belur dihantam proses. 




Tak terkecuali Mitty, kenyataan bahwa ia juga perempuan dan perantau memberikan dinamika tersendiri dalam upayanya mencapai cita-cita itu. Perjalanan panjang ini membuatnya rutin berpikir sampai khawatir berlebihan, kegelisahan tersebut lantas ia rangkum dalam 15 lagu di album keduanya, Nanti Malam Kupikir Lagi.


“Lagu-lagu di album ini semuanya keresahan yang ganggu pikiranku, rata-rata munculnya tengah malam terus sampai pagi dan berulang besoknya, makanya album ini kukasih judul Nanti Malam Kupikir Lagi,” ujar Mitty. Saat ditela’ah lebih dalam, perbincangan Mitty dengan diri sendiri di waktu-waktu rawan itu berputar soal situasinya sebagai perempuan, pemimpi, dan perantau.


Sebagai perempuan, Mitty mempertanyakan bagaimana dirinya tumbuh besar mengemban beban sosial yang tidak dimintanya lewat lagu seperti “Tolak Ukur” dan “Untuk Perempuanku di Cermin”. Untuk lagu yang disebut terakhir, Mitty berkolaborasi dengan solois perempuan asal Semarang, Fanny Soegi.


Selanjutnya, Mitty merangkum berbagai ribut di kepalanya selama merantau dan mengejar mimpi. Mulai dari betapa beratnya harus jauh dari orang-orang yang ia sayangi lewat “Pada Akhirnya Berkawan Berlalu” dan “Rela Tak Semudah Kata”, berkutat melawan suara-suara bising yang meragukan keputusannya yang tertuang lewat lagu seperti “Keluar Kamar” dan “Terbentur kan Terbentuk”, hingga mendapati kenyataan demi kenyataan pahit hidup yang ia temui selama proses itu lewat “Sandwich” dan  “Kepala Tiga”.


Dari 15 lagu itu, “Bukan Seleramu” dipilih Mitty sebagai focused track karena dianggap cukup mewakili album, “Aku suka lagu itu karena dia egois. ‘Bukan Seleramu’ kubikin sebagai usahaku berterus terang kepada orang yang minta aku untuk jadi apa yang dia mau. Padahal, aku udah susah payah kenal diriku sendiri,” ujar Mitty.  Bekerja sama dengan sutradara Bagus Tikus, video klip “Bukan Seleramu” sudah bisa ditonton di YouTube pada hari perilisan album.





Seluruh pengerjaan lagu di album Nanti Malam Kupikir Lagi dipercayakan Mitty sepenuhnya kepada 6 produser di Yogyakarta, mereka adalah Sasi Kirono, Fareeq Angkasa, Yabes Yuniawan, Awalawe, Adiyatma Dadi Raharjo, dan Usaha Terbaik Kita. Sementara, artwork album dikerjakan oleh seniman visual Jogja Isac Kumoro. Mitty juga bekerjasama dengan Mohammed Kamga, Endah Widiastuti, dan Lintang Larasati sebagai vocal director.





“Aku yakin banyak perempuan lain yang memperjuangkan mimpinya, semoga lagu-laguku ini bisa turut mewakili mereka juga untuk terus jalan. Semua orang punya uniknya masing-masing, apa yang ada di aku, itu yang kugali,” tutup Mitty.


Album Nanti Malam Kupikir Lagi sudah bisa didengarkan di seluruh gerai musik digital.


Kamis, 19 September 2024

Eling lan Waspodo, Rawat Jagat di Kabupaten Pacitan

 Festival Rawat Jagat untuk ketuga kalinya digelar di Kabupaten Pacitan pada tanggal 21 September 2024 mendatang. Kegiatan kebudayaan yang diinisiasi oleh Yayasan Konsorsium Kangen Pacitan dan bermitra dengan Pemkab Pacitan ini bertujuan untuk melestarina seni dan tradisi di Pacitan, menjaga alam, lingkungan, serta untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat (UMKM).



"Menurut kami Pacitan perlu mencuri perhatian, dengan cara mengadakan event kebudayaan seperti rawat jagat ini dengan harapan banyak orang datang ke Pacitan yang secara tidak langsung akan meningkatkan pendapatan dan ekonomi masyarakat" Ujar Abdillah Yusuf dari Konsorsium Kangen Pacitan.

Sementara menurut Triyono (Seniman), rawat jagat itu event budaya yang digelar untuk melengkapi kegiatan kebudayaan yang telah ada di kab Pacitan,  sekaligus untuk mewadahi berbagai potensi masyarakat Pacitan yg belum sempat terpublis ke dunia luar.



"Rawat jagat juga menjadi sarana pembelajaran untuk generasi muda Pacitan agar mau peduli serta bisa menjaga,  merawat dan memperkenalkannya ke dunia luar" Ujar Triyono.

Lebih lanjut menurut Yusuf, kegiatan Rawat Jagat tahun 2024 ini temanya adalah "eling lan waspodo" sebagai upaya mengajak semua masyarakat di Pacitan dan masyarakat lainnya untuk menjaga keharmonisan kehidupan, menjaga alam dan lingkingan, sekaligus selalu waspada dengan segala kemungkinan ancaman bencana baik alam maupun sosial.



"Kami memilih tema eling lan waspodo dalam festival tahun 2024 ini, sebagai warisan dan ajaran penting leluhur agar kita selamat dari segala marabahaya." Dengan ruang budaya ini bagi anak-anak sekolah yang akan tampil merupakan aplikasi dari kurikukum merdeka. Sehingga ekspresi seni dan budaya mendapatkan ruang yang semestinya. Kata Yusuf.

Dalam kesempatan yang terpisah, Indrata Nur Bayuaji selaku Bupati Pacitan menyatakan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada segenap panitia dari Konsorsium Pacitan yang telah konsisten menggelar kegiatan Rawat Jagat dengan semangat gotong-royong, dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat.



"Kami sangat memberikan apresiasi atas konsistensi Konsorsium Kangen Pacitan menyelenggarakan kegiatan Rawat Jagat sebagai sarana pelestarian seni, tradisi, dan budaya di Pacitan." Kata Indrata Nur Bayuaji.

Salah satu hal yang menarik dari rawat jagat tahun 2024 ini adalah adalah menghidupkan kembali seni tradisi yang jarang dipertunjukan, berupa tari keling dari dusun Batu Lapak, Kali Pelus yang hampir punah. Tari keling ini akan ditampilkan dalam rawat jagat.



Bupati Pacitan itu juga menyatakan bahwa rawat jagat merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan karunianya bagi bumi Pacitan. Iaberharap kegiatan Rawat Jagat bisa memberikan kontribusi terhadap peningkatan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan berbagai usaha kecil dan menengah dalam kegiatan rawat jagat.

"Silahkan datang ke Pacitan tanggal 21 September 2024 mendatang, dan selamat menikmati aneka seni pertunjukan dan tradisi kami." Kata Indrata Nur Bayuji kepada media.

Sabtu, 07 September 2024

68 Film Pendek Pelajar Indonesia Memaknai “Tepa Salira” di FFPJ XV – 2024

 


Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) kembali diselenggarakan untuk yang ke-15 di tahun 2024. Panitia mengangkat tema ‘Tepa Salira’. Kata Tepa Salira menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah dapat merasakan (menjaga) perasaan (beban pikiran) orang lain, sehingga tidak menyinggung perasaan atau dapat meringankan beban orang lain. Arti lainnya adalah tenggang rasa dan toleransi.

Tepa Salira penting untuk terus digaungkan, dipraktikkan dan dirawat dalam berbagai kesempatan. Sifat tepa salira, tenggang rasa, toleran dan semacamnya, akan menjadi bagian penting bagi hubungan harmonis antarmasyarakat Indonesia yang multikultur. Segala perbedaan akan dihadapi sebagai berkah, anugerah dan kekuatan untuk meneguhkan keindonesiaan, dan secara lebih luas kebaikan kemanusiaan serta alam raya.

“Panitia berharap teman-teman pelajar SMA/SMK/MA/setara yang berpartisipasi di FFPJ mencoba lebih mengenal-memahami Tepa Salira dan mewujudkannya dalam bentuk film pendek. Dalam proses penggarapan karyanya, para pelajar juga diharapkan menerapkan Tepa Salira,” kata Rahmi Yulianita, Direktur Eksekutif FFPJ XV – 2024.

Rahmi menambahkan, partisipan FFPJ kali ini, khususnya yang mengikuti Program Kompetisi Nasional, jumlahnya 68 film pendek. Jenis fiksi 47 karya. Dokumenter 16 karya. Film eksperimental 5 karya. Karya-karya dikirim dari berbagai sekolah-daerah. Di antaranya Aceh, Lampung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, Banten, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.  Seluruh karya saat ini dalam proses seleksi-kurasi dan hasilnya akan diumumkan di website www.filmpelajar.com.

Kompetisi Nasional merupakan salah satu program di FFPJ XV – 2024. Program lain yang disiapkan adalah Pemutaran Film Keliling Sekolah/Komunitas, Apresiasi Seni, Seminar, Workshop, Temu Komunitas, Temu Pendidik dan Penganugerahan Karya Terbaik. Pelaksanaannya berkolaborasi dengan berbagai pihak.

“Pelaksanaan program taun ini diselenggarakan mulai 23 September. Kemudian acara puncak di tanggal 5-6 Oktober. Panitia bermitra dan mendapat dukungan beberapa pihak. Di antaranya Dinas Kebudayaan DIY, Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta, dan UNU Yogyakarta,” terang Rahmi.

FFPJ bertujuan memberi kesempatan kepada pelajar Indonesia menunjukkan hasil pemikiran, riset, dan refleksi sesuai tema festival dalam bentuk karya seni film pendek. Festival juga akan memilih dan menentukan karya terbaik sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya, karya terbaik akan di beri penghargaan. 

“Program kompetisi nasional adalah salah satu daya tarik di FFPJ. Harapannya tahun ini juga gayeng, di mana 67 karya akan diseleksi untuk mendapatkan Saraswati Award, Dewantara Award, dan Kelir Award. Tim panitia berusaha bekerja sebaik-baiknya agar program terlaksana lancar,” kata Rahmi. 

Festival Film Pelajar Jogja merupakan ajang kebudayaan tahunan yang digerakkan oleh para volunteer dari berbagai latar belakang sejak 2010. Festival ini didedikasikan untuk para pembelajar seni film, khususnya komunitas film pelajar Indonesia. Silaturahmi dan belajar bersama senantiasa dijaga di festival sederhana ini, baik untuk partisipan maupun para volunteernya. 

Yogyakarta, 12 Agustus 2024 | Kontak: 0818-465-787

Sinema Silaturahmi Memulai Perjalanan Menuju Acara Puncak FFPJ XV – 2024

 Program Sinema Silaturahmi atau Pemutaran Film Keliling kembali memulai perjalanannya menuju acara puncak Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) XV 2024. Kegiatan yang dilakukan adalah pemutaran film pendek terpilih dan sarasehan atau ngobrol santai di beberapa sekolah Yogyakarta, Sleman, Gunungkidul, Bantul dan Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sinema Silaturahmi dimulai Senin, 9 September dan berakhir Sabtu, 28 September 2024.

“Melalui Sinema Silaturahmi ini, diharapkan FFPJ terus tersambung dengan teman-teman pelajar yang menyukai seni film. Mungkin juga ada yang belum suka di awalnya, namun melalui program ini diharapkan terpantik untuk mengetahui lebih lanjut,” kata Rahmi, Direktur Eksekutif FFPJ XV 2024.

Sinema Silaturahmi yang pertama akan diselenggarakan di SMKN 7 Yogyakarta. Kemudian berlanjut ke SMAN 2 Wonosari Gunungkidul, SMAN 1 Jetis Bantul, SMK Diponegoro Depok Sleman, SMA Bumi Cendekia Sleman, MA Al Ichsan Nanggulan Kulon Progo, SMK Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan SMA Praxis Sleman. Kegiatan di setiap sekolah akan diikuti oleh pelajar-siswa dengan jumlah sekitar 50 orang yang didampingi oleh Guru.

Karya-karya yang akan diputar dan diskusikan adalah film pendek pelajar nomine FFPJ XV 2024. Tidak semua nomine akan diputar karena keterbatasan waktu. Tim panitia memilih beberapa film pendek di tiap sekolah dan sampai dengan berakhirnya kegiatan seluruh karya dapat diapresiasi bersama-sama. Seluruh karya yang akan diputar memiliki kedekatan dengan tema “Tepa Salira”.


Sinema Silaturami merupakan awal dari rangkaian kegiatan yang disiapkan panitia FFPJ XV 2024. Program lainnya yang dalam proses persiapan dan pematangan adalah Apresiasi Seni, Kelas Ahli, Workshop, Bedah Karya, Temu Komunitas dan Penganugerahan Karya Terbaik (lanjutan program Kompetisi Nasional). Pelaksanaan seluruh program didukung dan berkolaborasi dengan berbagai pihak.

“Tahun ini FFPJ didukung kembali oleh Dinas Kebudayaan DIY, Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta, UNU Yogyakarta, Pokdarwis Sri Keminut Imogiri dan lainnya. Selain itu juga para volunteer yang bekerja semaksimal mungkin agar festival terlaksana dengan baik,” kata Rahmi.



Sinema Silaturahmi diharapkan menjadi ajang pemanasan sebelum pelaksanaan acara puncak FFPJ XV yang akan diselenggarakan 4-6 Oktober di Desa Wisata Sri Keminut, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selasa, 06 Agustus 2024

KOTABARU HERITAGE FILM FESTIVAL 2024

 

Yogyakarta, 1 Agustus 2024Komitmen Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta untuk pelestarian warisan budaya kembali hadir melalui Kotabaru Heritage Film Festival yang akan digelar pada tanggal 9-11 Agustus 2024 di Grha dan Lapangan SMA 3 Yogyakarta.

Diselenggarakan tiap tahun di Kawasan Cagar Budaya Kotabaru di Kota Yogyakarta, Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) adalah platform penting di Kota Yogyakarta yang menjadi titik temu perayaan warisan budaya melalui film. Festival ini dirancang sedemikian rupa untuk membentuk persepsi masyarakat masa kini dan masa depan melalui artefak dan arsip dari masa lalu.



Festival yang pernah sukses diadakan di tahun 2023 ini tidak hanya membidik audiens para pecinta film saja, namun juga masyarakat umum dengan hiburan yang membawa kita seakan masuk ke mesin waktu di era tahun 1960 hingga 1980’an. Adapun program yang akan dilangsungkan adalah : Pemutaran dan Kompetisi Film, Pameran Cerita Film “Sinema Berlabuh di Jogja”, Pasar Kobar, Sinema Berdansa, Public Lecture serta Lokakarya.

Warisan budaya selalu menjadi tongkat estafet antar generasi, ada yang terpelihara dengan baik meski banyak pula yang tidak. Film memainkan peran penting dalam menjaga dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya warisan budaya. Melalui film, upaya pelestarian ini tidak hanya memperkuat ikatan antara masa kini dan masa depan, namun juga membentuk warisan memori kolektif yang penting untuk dicatat.



KHFF menerima 171 karya film yang dipilih untuk berbagai program pemutaran termasuk kompetisi. Peserta meliputi pelajar, umum hingga Pemerintah Daerah dari seluruh Indonesia. KHFF tahun ini juga bekerja sama secara internasional dengan Thai Film Archive dari Thailand untuk memperkaya perspektif warisan budaya dari kawasan Asia.

Setiap film yang masuk seleksi masing-masing menawarkan pandangan unik tentang warisan budaya. Dari semua karya yang masuk, kami mendapatkan pelajaran berharga : warisan budaya tidak pernah tumbuh dalam isolasi, melainkan selalu berkembang melalui keterbukaan dan interaksi.