Senin, 30 Juni 2025

Co-Working Space Dengan Fasilitas Komplit Berstandar Internasional Harga Sejutaan Perbulan di HQ Barsa City



 Sewa co-working space dengan fasilitas komplit berstandar internasional harga sejutaan sebulan, bisa kerja 24/7 dan internet bisnis-grade dengan sistem keamanan tinggi dan meeting room

Barsa City Yogyakarta baru saja membuka fasilitas co-working space bekerjasama dengan HQ by IWG. Terletak di commercial space Barsa City, merupakan HQ Co-Working Space ketiga di Yogyakarta

IWG sendiri merupakan penyedia ruang kerja fleksibel berskala global dengan lebih dari 300 lokasi di Asia Pasifik dan berbagai brand ternama seperti Regus, HQ, dan Signature.



Peresmian ini dikemas dalam acara interaktif bertajuk Scentsational Sunday digelar di Plaza The Arcade, Cornell Tower Barsa City, Sleman, Yogyakarta (Minggu, 29 Juni 2025) merupakan langkah nyata untuk melengkapi kawasan hunian dan komersial terpadu dan menjawab kebutuhan masyarakat urban akan ruang kerja yang fleksibel dan efisien.

Peresmian HQ bukan sekadar seremoni melainkan respons konkret terhadap pergeseran tren gaya hidup urban dan kerja fleksibel, tetapi mendukung produktivitas tinggi, khususnya bagi profesional, pelaku startup, yang kini banyak diminati oleh generasi muda produktif dan perusahaan hybrid.

HQ merupakan bagian dari jaringan International Workplace Group (IWG), di Indonesia HQ hadir di 52 tempat yang tersebar di Jakarta, Bandung, Semerang,Yogyakarta, Surabaya, Bali dan Makassar.  menyediakan berbagai pilihan ruang kerja mulai dari private office, coworking space, hingga virtual office, guna mendukung meningkatnya kebutuhan akan lingkungan kerja yang lebih fleksibel.



“Jogja sangat spesial karena ini adalah pusat ketiga HQ di kota ini. Demand-nya sangat konsisten dan dinamis. Banyak inovator dan pelaku industri kreatif seperti IT, mebel, hingga hukum yang menjadikan Jogja sebagai tempat tumbuh,” kata Putri Mulya, Country Manager IWG untuk Indonesia.

Fasilitas standar HQ mencakup internet bisnis-grade dengan sistem keamanan tinggi dan meeting room representatif. Area kopi dan ruang kolaboratif, akses 24/7, Opsi virtual office hingga private office juga tersedia.

Reynald Lesmana, Head of Partner Performance Indonesia & Brunei menjelaskan, "Fasilitas standar HQ mencakup internet bisnis-grade dengan sistem keamanan tinggi dan meeting room representatif. Area kopi dan ruang kolaboratif, akses 24/7, Opsi virtual office hingga private office juga tersedia. Selain itu HQ didukung konektivitas global. Dengan demikian pengguna bisa memakai seluruh fasilitas HQ di negara lain tanpa harus login ulang."

Dengan infrastruktur yang membaik, serta daya tarik UMR yang relatif kompetitif, Yogyakarta kini menjadi magnet bagi perusahaan dari luar. Hal ini memunculkan kebutuhan akan ruang kerja fleksibel yang strategis dan representatif.

“Kami melihat transformasi kota ini menuju pusat pertumbuhan produktivitas. Model ruang kerja bersama bukan hanya efisien, tapi juga menciptakan nilai kolaboratif yang tinggi. Jogja kini tidak hanya sebagai kota pelajar, tapi kota bagi pekerja hybrid dan kolaboratif,” ungkap Agung Kris Primandono selaku Director of Ciputra Group.

Bersamaan dengan peresmian HQ, Barsa City juga memperkenalkan mockup unit apartemen tipe studio terbaru yang dirancang untuk merepresentasikan gaya hidup urban masa kini—efisien, estetis, dan fungsional. Produk ini menjadi bagian dari visi Barsa City menghadirkan kawasan 'live-work-play' yang terintegrasi di jantung Kota Jogja.




Selasa, 24 Juni 2025

“Jagad’e Raminten” Mengangkat Sosok Ikonik Dalam Budaya dan Seni Pertunjukan Kontemporer di Yogyakarta



Yogyakarta, 22 Juni 2025 – Kalyana Shira Foundation mempersembahkan film “Jagad’e Raminten” yang menyoroti kehidupan dan warisan sosok Raminten sebagai salah satu ikon Yogyakarta. Dalam durasi 95 menit, dokumenter ini menggambarkan perjalanan Raminten yang tidak hanya dikenal sebagai pengusaha sukses dengan berbagai usaha seperti toko oleh-oleh, restoran, batik, dan pertunjukan cabaret, tetapi juga sebagai ruang aman bagi komunitas yang inklusif. Penayangan perdana Film Dokumenter “Jagad’e Raminten” dilaksanakan di Auditorium LIP Yogyakarta dan dihadiri oleh lebih dari 250 undangan termasuk keluarga besar Raminten, komunitas pecinta film, aktivis, dan seniman lokal Yogyakarta maupun nasional.


Film ini tidak hanya mengangkat warna-warni dunia Raminten, tetapi juga memotret perjalanan sang pendiri, Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Tanoyo Hamijinindyo atau yang lebih dikenal sebagai Hamzah Sulaiman. Dalam membentuk Raminten, Hamzah Sulaiman tidak hanya menjalankan bisnis, namun membina sebuah keluarga besar termasuk di dalamnya karyawan, penampil pertunjukan, serta keluarga dan para sahabat. Dibesut oleh Nia Dinata sebagai sutradara dan penulis, Dena Rachman sebagai produser dan penulis, serta Melissa Karim sebagai co-produser, film ini menggambarkan bagaimana Raminten cabaret menjadi wadah ekspresi seni yang inklusif.


Nia Dinata selaku Director dari film “Jagad’e Raminten” menyampaikan, “Gagasan membuat film dokumenter ini sudah ada sejak tahun 2023, ketika Dena masih di London menyelesaikan disertasinya tentang representasi dalam industri film Indonesia. Munculah sosok Raminten dalam benak kami sebagai wujud nyata dari representasi keberagaman dan unconditional love. Melalui Raminten, kita belajar bahwa ketulusan dan penerimaan terhadap perbedaan dapat tumbuh menjadi kekuatan yang memperkuat rasa kemanusiaan. Melalui film ini juga kami bersama seluruh keluarga dan sahabat hendak memberikan penghormatan pada almarhum Hamzah Sulaiman. Sungguh sebuah kehormatan besar bagi kami dapat membawa kisahnya ke mata dunia.”



Dalam kesempatan yang sama, Dena Rachman yang juga terlibat dalam proyek ini sebagai produser dan penulis menyampaikan bahwa keterlibatannya merupakan bentuk upaya untuk menyebarkan simbol kasih, kebaikan, dan keberanian dalam mengekspresikan diri di tengah norma-norma yang ada.


“Lebih dari sekadar hiburan, Raminten adalah sosok yang menyediakan rumah bagi banyak kaum marginal terutama bagi chosen family mereka. Sosok Raminten tidak hanya memperjuangkan inklusivitas di atas panggung, tetapi juga dalam kehidupan nyata dengan menciptakan penghidupan yang layak dan berkelanjutan. Kami merasa terdorong untuk mengabadikan warisan ini dalam sebuah karya yang dapat terus menginspirasi,” ujar Dena.


Lebih dari itu, Melissa Karim selaku Co-produser menambahkan, “Perjalanan membuat dokumenter ini sangat menyentuh dan penuh makna. Kami ingin menangkap esensi sejati Raminten sebagai ikon budaya dan bisnis sekaligus sosok visioner yang membuktikan bahwa pelestarian tradisi bisa berjalan beriringan dengan inovasi dan economic empowerment. Raminten menciptakan ekosistem yang memberdayakan banyak orang, membuka lapangan kerja, dan menjadikan kesenian sebagai sumber penghidupan.”



Yang membuat film ini semakin istimewa adalah karena “Jagad’e Raminten” merupakan persembahan terakhir, sebuah kado penuh cinta dari teman-teman dan keluarga besar untuk mendiang Hamzah Sulaiman. Meski Hamzah Sulaiman telah berpulang sebelum film ini sempat dirilis, semua yang terlibat tahu bahwa beliau sangat menantikan hadirnya kisah ini untuk disaksikan oleh masyarakat luas. Film ini adalah cara untuk meneruskan warisan Raminten, menyebarkan cinta, kepedulian, dan semangat inklusivitas, khususnya bagi masyarakat Yogyakarta yang begitu dekat di hati beliau.


“Bagi kami, dokumenter ini bukan sekadar karya film, tetapi sebuah bentuk penghormatan penuh cinta untuk sosok Bapak kami, almarhum Hamzah Sulaiman. Beliau adalah cahaya bagi begitu banyak orang, baik sebagai pemimpin, sahabat, maupun figur ayah bagi keluarga besar Raminten. Kami sangat tersentuh dan merasa terhormat kisah hidup dan warisannya diabadikan dalam dokumenter ini. Kami berharap film ini dapat menyentuh hati masyarakat Indonesia, khususnya warga Jogja, seperti halnya Bapak telah menyentuh hidup banyak orang dengan kasih dan kebaikannya.” ujar Ratri, Director of House of Raminten.


Pemutaran kedua dari film dokumenter “Jagad’e Raminten” akan dilaksanakan di panggung ARTJOG 2025 yang berlokasi di Jogja National Museum pada tanggal 5 Juli 2025. Dapatkan informasi dan detail dapat dengan mengikuti akun Instagram @ramintenuniverse.



###


Tentang Kalyana Shira Foundation


Website          : kalyanashira.com

Facebook      : Kalyana Shira

YouTube          : Kalyana Shira Films Official

Twitter          : @kalyanashira

Instagram : @ramintenuniverse


Untuk korespondensi media dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi: 


Public Relation 

Mobile   : 081772368110 (Keanaya)

Email     : keanayachandt@gmail.com 


Magnifique PR & Communication Consultant

Mobile       :  +62 896-3584-3286

E-mail        : ssoekowati@magnifique.co.id

Selasa, 17 Juni 2025

Batiga Rilis Single Baru Berjudul 'Narasi Sunyi'

 Batiga Rilis Single Baru Berjudul 'Narasi Sunyi', Kembali Berkumpul Dan Berkarya Setelah Enam Tahun Berpisah



Setelah enam tahun 'beristirahat' dan tak ada aktivasi musikal bersama, Batiga kini kembali mengeluarkan satu karya barunya. Unit sweet pop asal Yogyakarta ini merilis single anyar berjudul 'Narasi Sunyi' pada Senin 9 Juni 2025.

Versi audionya serentak mengudara gerai-gerai musik digital, seperti Spotify, Apple Music, Deezer, dll. Sedangkan untuk format audio visualnya berupa video lirik yang bisa dinikmati di channel YouTube BatigaOfficial pada hari yang sama.

Lirik lagu 'Narasi Sunyi' diciptakan oleh Yunan Patrajuangga dibantu Faber Hutabarat. Lagu ini mencoba menerjemahkan fase legawa dalam menyikapi segala problem dalam kehidupan manusia, seperti adanya seseorang yang tidak bisa dilupakan karena tak bisa bersama.

"Pemaknaan tentang siapa orang tersebut juga luas. Bisa pacar, pasangan, sahabat, bahkan orang tua yang mungkin tidak akan lagi bisa bersama kita dalam pemaknaan nyata atau kiasan, baik secara fisik ataupun rasa," ujar Yunan Patrajuangga mengawali.




Aransemen antar kota antar provinsi saat pandemi

Untuk pengerjaan aransemennya, 'Narasi Sunyi' melewati proses berbeda dari lagu-lagu Batiga sebelumnya. Jika biasanya dikerjakan bersama-sama di dalam sebuah studio, kali ini mereka harus merasakan proses kreatif secara jarak jauh.

"Semua proses produksinya juga kami lakukan secara mandiri dengan peralatan home recording sederhana," ujar Riosa Oktaf.

Saat itu mereka tak bisa berkumpul bersama karena adanya pandemi. Selain itu domisili personelnya juga sedang terpencar di empat kota sekaligus, yakni Jakarta, Bekasi, Medan, dan Jogja. Oleh sebab itu step pembuatan lagu ini dilakukan terpisah antar kota antar provinsi, baik dalam proses penulisan, diskusi, hingga proses rekaman.

Konsep awal 'Narasi Sunyi' pertama kali dibawa Yunan kemudian dikirimkan kepada Andreas DC. Kala itu Yunan hanya mengirimkan voice note (VN) sederhana yang berisi chorus line saja. Lalu oleh Andreas DC dikonversi ke digital audio workstation (DAW) untuk membuat bagan aransemen musiknya.

Proses kreatif Andreas DC juga tak dikerjakan sendiri. Selain mengisi bass, Andreas DC juga dibantu oleh rekan satu kosnya, Ayla Adjie, untuk memberi sentuhan perkusi pada draf awal 'Narasi Sunyi'.

"Setelah jadi bagan lagu, langsung aku kirim guide-nya ke Riosa untuk isi vokal. Selanjutnya draf itu dibagikan ke anak-anak lainnya untuk brainstorming, bedah lirik, dan bagan," kata Andreas DC.

Setelah dirasa cukup, proses rekaman sesungguhnya mulai dilakukan di kota masing-masing. Perekaman drum Talcha diabadikan Cornelius Christyan di Rumah Tua Record, Yogyakarta. Untuk perekaman instrumen gitar dilakukan Luke Ottaviandri secara mandiri di Medan.

Luke pun juga meminta bantuan adiknya, Aza Ardito, untuk mengisi elemen filler/synth dan voicing lainnya pada lagu tersebut. Lalu proses akhir audio, mixing dan mastering diserahkan kepada Sasi Kirono di Satrio Piningit Studio, Yogyakarta. Selain mereka yang membantu dalam proses audio, ada dua orang yang turut andil menyelesaikan visual ‘Narasi Sunyi’. Arga Radikun didapuk untuk menggarap artwork dan Wedhar PJ mengerjakan video lirik.




Berkumpul lagi, merayakan 13 tahun persahabatan

Pada 16 Agustus 2024 lalu, Batiga sudah memasuki usia 13 tahun. Kelima personelnya pun masih tetap sama, yakni Riosa Oktaf, Yunan Patrajuangga, Talcha Sultanik, Luke Ottaviandri, dan Andreas DC.

Bagi Batiga, tahun 2024 juga jadi tahun yang sentimentil untuk mereka. Batiga pun sempat membuat perhelatan showcase sederhana di Jogja. Mereka memainkan 14 repertoar yang terdiri dari 12 lagu baru dan dua lagu lama. Showcase ini jadi penanda bahwa mereka kembali berkarya lagi setelah enam tahun terpisah.

Merilis 'Narasi Sunyi' pun jadi bukti persahabatan musikal Batiga tetap solid meski sudah melampaui dasawarsa. Selain itu, alasan utama mereka adalah kangen. Kelimanya memang merindukan bermusik bareng lagi meski kini tak muda lagi dan sudah berbeda domisili.

Bagi mereka, implementasi kerinduan yang sudah tidak terbendung membuat Batiga bersepakat menentukan cara. Bukan hanya sekadar sapaan verbal, namun cara tersebut harus terwujud nyata melalui karya lagu.

"Kami menyadari tidak mudah berproses dalam keterbatasan jarak, namun harapan kami setidaknya sapaan melalui lagu ini masih ada untuk sahabat semua. Batiga masih ada untuk kalian semua," kata Riosa Oktaf.

"Kami memutuskan merilis karya baru lagi karena merasa bertanggung jawab atas apa yang menjadi passion kami semua yaitu berkarya dengan tulus dari dalam hati," timpal Yunan Patrajuangga.

Tentang rencana masa depan, kelimanya tak punya keinginan muluk-muluk kecuali tetap konsisten berkarya lagi. Setelah 'Narasi Sunyi', Batiga merancang banyak rencana yang akan direalisasikan pelan-pelan.

"Paling dekat untuk rencana berikutnya kami akan merilis beberapa lagu baru lainnya. Mungkin juga akan merilis karya-karya lama kami yang belum sempat terabadikan di gerai-gerai musik digital," ujar Luke Ottaviandri.

"Mengingat kondisi saat ini dengan kesibukan kami masing-masing, kami akan kembali saat 2011, di mana Batiga lahir hanya untuk berkarya, sesederhana itu saja," pungkas Talcha Sultanik.

Sekadar diketahui, Batiga merupakan grup band yang lahir pada 16 Agustus 2011 di Yogyakarta. Batiga merupakan singkatan dari 'balada hati galau'.

Sejak awal berdiri, Batiga masih bertahan dengan kelima personelnya sampai saat ini. Mereka adalah Riosa Oktaf (vokal), Yunan Patrajuangga (kibor), Talcha Sultanik (drum), Luke Ottaviandri (gitar), dan Andreas DC (bass).

Nama Batiga cukup populer di skena pop karena kerap manggung di berbagai pensi, panggung musik lokal, hingga menjadi grup band pembuka musisi-musisi ternama.



Karier Batiga semakin moncer ketika berhasil menjadi pemenang Levi’s Band Hunt 2017. Saat itu Batiga sempat dikontrak oleh Universal Music Indonesia sekaligus mendapat coaching langsung dari Ilman dan Lale (Maliq & D'Essentials). Batiga akhirnya makin dikenal di industri musik nasional setelah melahirkan single 'Cinta Bertuan' pada 2018.


Kamis, 22 Mei 2025

"Land of Koplo": Perayaan Musik Koplo Pertama Bernuansa Pantai di Stadion Kridosono 24 Mei 2025

 


Yogyakarta, 1 Mei 2025 — Yogyakarta bersiap menyambut sebuah gebrakan baru di dunia hiburan tanah air. Land of Koplo, perhelatan musik koplo berskala besar pertama dengan konsep unik dan immersive, akan digelar pada 24 Mei 2025 di Stadion Kridosono Yogyakarta. Diselenggarakan oleh Twenty Three Entertainment, acara ini hadir bukan hanya sebagai pesta musik, tetapi juga sebagai bentuk penebusan dan kebangkitan skena koplo lokal.



"Dulu saya pernah tertipu soal event koplo. Dari situ muncul ide kenapa tidak bikin event koplo sendiri? Ternyata saya bisa," ungkap Satria Yudha Bagaskara (Didot), founder Twenty Three Entertainment. "Saya ingin membalas kekecewaan itu dan mengembalikan kepercayaan publik terhadap musik koplo."



Land of Koplo akan menampilkan line-up musisi kebanggaan Yogyakarta seperti NDX A.K.A, Ndarboy Genk, Damara De, Ngatmobilung, Wawes, Pendhoza, dan OM. Lorenza. Tidak hanya dari lokal, grup musik asal Jakarta, Robokop, yang dikenal lewat perpaduan musik Jawa dan EDM serta popularitas mereka di media sosial, juga akan meramaikan panggung.



Lebih dari sekadar konser, Land of Koplo menawarkan pengalaman yang belum pernah ada sebelumnya. Stadion Kridosono akan disulap menjadi "pantai di tengah kota", lengkap dengan lapangan voli pasir, mural bus photobooth, area F&B tematik, serta layar raksasa interaktif yang memungkinkan penonton berkomunikasi secara langsung selama acara berlangsung.

"Kami ingin menyatukan musisi, label, dan pegiat musik Yogyakarta dalam satu panggung. Ini juga jadi momentum untuk membangkitkan kembali nama-nama lama seperti Pendhoza yang dulu sering menemani masa sekolah kita," tambah Didot.

Dengan target penonton 15.000 orang dan kapasitas venue hingga 18.000. Tiket dapat dibeli melalui Artatix atau Sakudutan (0858.7810.8081).

Ke depannya, Twenty Three Entertainment berencana mengembangkan konsep ini menjadi lebih luas lewat inisiatif Land of Music, membuka ruang untuk genre-genre lain dan memperkuat ekosistem musik lokal

Jogja Printing Expo 2025 21 – 24 Mei 2025 – Jogja Expo Center

 


Jogja Printing Expo 2025 resmi dibuka hari ini,21 Mei 2025, dan akan berlangsung hingga 24 Mei di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta. Diselenggarakan untuk pertama kalinya oleh Krista Exhibitions di Yogyakarta, pameran ini menjadi wadah strategis bagi pelaku industri untuk menampilkan transformasi teknologi, mendorong inovasi, serta memperkuat pertumbuhan sektor percetakan di Indonesia. Penyelenggaraan Jogja Printing Expo 2025 sekaligus mempertegas pentingnya Yogyakarta sebagai kawasan potensial untuk pertumbuhan industri grafika.



Daud D Salim, selaku CEO Krista Exhibitions, dalam sambutannya menyampaikan “Hadirnya Jogja Printing Expo 2025 di Yogyakarta menjadi wujud nyata komitmen Krista Exhibitions untuk membawa industri percetakan lebih dekat dengan pelaku kreatif, UMKM, dan pasar potensial di Yogyakarta, pameran ini dirancang sebagai wadah untuk menjalin koneksi, berbagi pengetahuan, dan memperkenalkan inovasi teknologi terkini. Kami percaya, kolaborasi yang terbangun di Jogja Printing Expo 2025 akan memperkuat daya saing industri percetakan nasional secara berkelanjutan” ungkap nya



Pameran Jogja Printing Expo 2025 ini terselenggara secara bersamaan dengan Jogja Food & Beverage Expo, Jogja Pack & Process Expo, dan Jogja All Tea Expo 2025, menciptakan sinergi antar industri yang saling terhubung mulai dari percetakan, pengemasan, makanan dan minuman, hingga sektor minuman teh. Kolaborasi ini membuka peluang bisnis baru dan memperluas jaringan usaha lintas industri yang saling mendukung.

Selama empat hari penyelenggaraan, pengunjung dapat mengeksplorasi berbagai teknologi terkini di dunia percetakan mulai dari digital printing, mesin cetak skala industri, teknologi finishing modern, hingga solusi berkelanjutan yang ramah lingkungan. Tidak hanya menjadi ajang untuk menampilkan inovasi, pameran ini juga berperan sebagai sarana pembelajaran dan jejaring, yang terbuka bagi pelaku usaha, UMKM, desainer grafis, penerbit, hingga institusi pendidikan. Tahun ini, Jogja Printing Expo 2025 melibatkan 27 peserta, termasuk 10 UMKM, dan menargetkan hingga 12.000 pengunjung dari berbagai kalangan industri.

Rangkaian pameran semakin semarak dengan hadirnya sesi-sesi seminar yang mengupas isu-isu aktual dalam industri grafika. PPGI (Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia) mengajak peserta menyelami dua topik kunci: “Prospek Bisnis Industri Berbahan Baku Kertas” dan “Prospek Bisnis Industri Kemasan”, mengulas dinamika rantai pasok serta inovasi produk dalam cetak modern yang terus berkembang. Sementara itu, HIPPI (Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia) mengangkat tema “Peluang dan Tantangan UMKM di Era Artificial Intelligence”.Menutup rangkaian seminar, Printpack Magazine menyajikan wawasan mendalam lewat sesi “Bringing Smarter Future for Printing Packaging Products”. Business Matching menjadi salah satu program unggulan yang membuka ruang strategis bagi pelaku usaha di sektor percetakan untuk menjalin kemitraan baru. Melalui pertemuan yang dikurasi secara khusus, peserta memiliki kesempatan bertemu langsung dengan investor, distributor, hingga penyedia teknologi yang relevan dengan kebutuhan bisnis mereka.

Kesuksesan pameran makanan Jogja Printing Expo 2025 tidak lepas dari dukungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Kota Yogyakarta, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Kamar Dagang Industri (KADIN) Indonesia, KADIN Daerah Istimewa Yogyakarta, Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGII), Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), Jogja Chinese Art & Culture Center (JCACC), Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DIY.

Pameran Jogja Food & Beverage Expo, Jogja Pack & Process Expo, Dan Jogja All Tea Expo 2025

 


Pameran Jogja Food & Beverage Expo 2025 resmi dibuka untuk umum mulai hari ini, 21 Mei hingga 24 Mei 2025, di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, pameran berskala internasional yang diselenggarakan oleh Krista Exhibitions di Jogja Expo Center (JEC). Pameran ini diselenggarakan secara bersamaan dengan Jogja Food & Beverage Expo 2025, Krista Exhibitions juga menggelar tiga pameran industri lainnya, yakni Jogja Pack & Process Expo, Jogja All Tea Expo, dan Jogja Printing Expo 2025. Keempat pameran ini berlangsung pada 21–24 Mei 2025, menghadirkan sinergi antar sektor yang saling melengkapi, sekaligus menciptakan ekosistem terpadu bagi pelaku industri makanan, minuman, teh, pengemasan, dan percetakan.



Daud D. Salim, CEO Krista Exhibitions, dalam sambutannya saat membuka pameran menyampaikan, “Pembukaan Jogja Food & Beverage Expo 2025 hari ini merupakan langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan industri makanan dan minuman di wilayah Yogyakarta. Pameran diselenggarakan sebagai wadah promosi, kolaborasi, dan pengembangan bisnis meliputi makanan, minuman, kemasan, hingga teh. Kami berharap pameran ini dapat memperkuat potensi lokal Yogyakarta agar semakin kompetitif di pasar nasional maupun global.”ungkapnya



Jogja Food & Beverage Expo 2025, Jogja All Tea Expo 2025 dan Jogja Pack & Process Expo 2025 hadir sebagai platform strategis untuk menampilkan berbagai inovasi, teknologi, dan tren terkini dalam industri makanan, minuman, pengolahan, dan kemasan. Pameran ini menjadi titik temu antara pelaku industri di seluruh rantai pasok mulai dari produsen bahan baku, manufaktur, distributor, hingga UMKM dengan pembeli potensial, mitra dagang, dan investor dari dalam maupun luar negeri.



Pameran ini menghadirkan lebih dari 150 peserta, termasuk 40 pelaku UMKM, yang menampilkan produk-produk unggulan dari sektor makanan, minuman, kemasan, hingga percetakan. Dengan target 12.000 pengunjung selama empat hari pelaksanaan, pameran ini menjadi etalase kekayaan kuliner Nusantara sekaligus ajang bertemunya inovasi industri dari berbagai penjuru dunia. Selama empat hari penyelenggaraan, pengunjung akan disuguhkan beragam program edukatif dan interaktif yang dirancang untuk memperkaya wawasan, mengasah keterampilan, serta membuka peluang kolaborasi bisnis lintas sektor. Salah satu program menarik adalah Bakat Boga Challenge, sebuah kompetisi memasak hasil kolaborasi dengan Association of Culinary Professionals (ACP), yang melibatkan 50 peserta dalam meracik kreasi kuliner berbahan lokal secara inovatif dan autentik.

Tak kalah menarik, Workshop Pastry & Bakery Culinary menghadirkan kelas praktis bersama chef profesional dengan topik aplikatif seperti Butter Cookies for Competition, Gelato Pastry untuk Bisnis, dan Chocolate Drinks. Program ini ditujukan bagi pelaku usaha, pemula, maupun pencinta kuliner yang ingin mengasah keterampilan pastry secara langsung. Bersamaan dengan itu, sesi Teh bersama Dewan Teh Indonesia (DTI) dan Asosiasi Teh Indonesia (ATI), serta Talkshow Kopi bersama DEKOPI. Selain itu, Cooking Demo Stage menampilkan aksi para chef ternama seperti Chef Yongki, Chef Achen, dan Chef Merry yang mendemonstrasikan resep andalan serta teknik memasak secara langsung, menciptakan pengalaman kuliner yang inspiratif dan informatif. Untuk memperdalam pemahaman industri, Seminar dan Workshop Industri mengupas tren pasar makanan dan minuman, inovasi bahan baku, strategi pemasaran digital, hingga praktik keberlanjutan yang relevan dengan perkembangan industri makanan dan minuman saat ini. Sesi Business Matching juga dihadirkan dan menjadi momen penting yang mempertemukan pelaku usaha dengan investor, pembeli potensial, dan mitra strategis dalam forum yang dirancang untuk menciptakan peluang kemitraan dan ekspansi pasar yang konkret.

Kesuksesan pameran makanan Jogja Food & Beverages Expo 2025 tidak lepas dari dukungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Kota Yogyakarta, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, KADIN Indonesia, KADIN Daerah Istimewa Yogyakarta, Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Dewan Teh Indonesia (DTI), Association of Culinary Professionals (ACP), Indonesian Pastry Bakery Society (IPBS), Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), serta berbagai institusi lainnya 

Selasa, 20 Mei 2025

Jogja Printing Expo 2025, 21 – 24 Mei 2025 di Jogja Expo Center Yogyakarta

 


Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2025 diperkirakan akan menunjukkan tren positif. Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi provinsi Jawa Tengah akan tumbuh dalam kisaran 4,8% hingga 5,6% (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi tahun 2024 yang berada di angka 4,7% hingga 5,5%. Pertumbuhan ini mencerminkan optimisme atas peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, dan penguatan sektor industri pengolahan. Sebagai salah satu sektor penunjang industri manufaktur dan kreatif, industri percetakan di Jawa Tengah diprediksi akan ikut terdampak positif dari pergerakan ekonomi yang stabil dan terus bertumbuh ini.

Di sisi lain, bisnis digital printing secara global diproyeksikan tumbuh sebesar 9–12% setiap tahun hingga 2030, dengan nilai pasar yang mencapai USD 25 miliar pada tahun 2025. Pertumbuhan ini ditopang oleh meningkatnya permintaan dari berbagai sektor, seperti tekstil, kemasan, dan percetakan komersial. Tekstil printing, misalnya, diperkirakan tumbuh hingga 15% pada tahun ini, seiring melonjaknya tren fashion berbasis desain digital. Sektor kemasan juga menunjukkan performa kuat dengan lonjakan hingga 20%, terutama karena meningkatnya permintaan akan kemasan yang personal dan unik di industri e-commerce. Sementara itu, iklan luar ruang masih mencatat pertumbuhan stabil 7–8%, meski mulai bersaing dengan teknologi digital signage. Fenomena ini menunjukkan bahwa industri percetakan khususnya digital printing semakin relevan dalam ekosistem industri kreatif dan manufaktur, termasuk di wilayah seperti Jawa Tengah dan Yogyakarta yang memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di industri percetakan ini.

Untuk mendukung pertumbuhan industri percetakan nasional, Krista Exhibitions menyelenggarakan Jogja Printing Expo 2025 yaitu pameran industri percetakan pertama yang diselenggarakan di Yogyakarta. Pameran ini akan berlangsung pada 21–24 Mei 2025 di Jogja Expo Center (JEC), menjadi momentum strategis bagi para pelaku industri untuk menampilkan transformasi dan kemajuan teknologi yang membentuk masa depan industri percetakan di Indonesia.

Pameran ini diselenggarakan secara bersamaan dengan Jogja Food & Beverage Expo, Jogja Pack & Process Expo, dan Jogja All Tea Expo 2025. Sinergi keempat pameran ini menciptakan sebuah ekosistem industri yang saling terhubung mulai dari percetakan, pengemasan, makanan dan minuman, hingga sektor minuman teh yang membuka peluang kolaborasi antar sektor serta memperluas jaringan bisnis lintas industri.

ogja Printing Expo 2025 akan menampilkan berbagai inovasi terbaru di bidang digital printing, mesin cetak industri, teknologi finishing, hingga solusi percetakan berkelanjutan. Pameran ini dirancang sebagai platform strategis bagi pelaku usaha, UMKM, desainer grafis, penerbit, rumah produksi, hingga institusi pendidikan untuk menjelajahi teknologi terkini, membangun kemitraan bisnis, dan memahami tren global dalam industri percetakan.

Daud D Salim, CEO Krista Exhibitions, menyatakan bahwa “Jogja Printing Expo 2025 merupakan momentum penting bagi perkembangan industri percetakan di Yogyakarta. Diikuti oleh 27 peserta, di antaranya 10 UMKM dari industri percetakan. Selama empat hari penyelenggaraan, Jogja Printing Expo menargetkan kehadiran hingga 12.000 pengunjung, pameran ini menjadi platform strategis untuk menampilkan inovasi teknologi terkini sekaligus memperkuat sinergi antar sektor industri. Kolaborasi dengan Jogja Food & Beverage Expo, Jogja Pack & Process Expo, dan Jogja All Tea Expo memperluas peluang bisnis lintas industri dan mendukung pertumbuhan ekosistem kreatif yang berkelanjutan. Kami percaya pameran ini akan mendorong kemajuan industri percetakan nasional serta memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat inovasi industri kreatif “ ungkap Daud D Salim

Selama pameran berlangsung, berbagai seminar menarik digelar seperti PPGI (Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia) mengajak peserta menyelami dua topik kunci: “Prospek Bisnis Industri Berbahan Baku Kertas” dan “Prospek Bisnis Industri Kemasan”, mengulas dinamika rantai pasok serta inovasi produk dalam cetak modern yang terus berkembang. Sementara itu, HIPPI (Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia) mengangkat tema “Peluang dan Tantangan UMKM di Era Artificial Intelligence”.Menutup rangkaian seminar, Printpack Magazine menyajikan wawasan mendalam lewat sesi “Bringing Smarter Future for Printing Packaging Products”, membedah tren dan teknologi cetak kemasan masa depan yang siap bersaing di kancah global.

Lebih dari sekadar seminar, Jogja Printing Expo 2025 menghadirkan program Business Matching yang menghubungkan pelaku usaha, pemilik brand, penyedia teknologi, dan calon mitra bisnis potensial. Pertemuan yang dikurasi secara profesional ini menjadi momentum strategis untuk membangun kerja sama baru, memperluas jaringan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor grafika dan manufaktur kreatif. Seminar dan business matching ini menjadi wadah penting untuk mendukung industri percetakan dan pengemasan yang berkelanjutan dan adaptif.

Kesuksesan pameran makanan Jogja Printing Expo 2025 tidak lepas dari dukungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Kota Yogyakarta, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Kamar Dagang Industri (KADIN) Indonesia, KADIN Daerah Istimewa Yogyakarta, Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGII), Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), Jogja Chinese Art & Culture Center (JCACC), Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DIY.