Jumat, 18 Juli 2025

Jelang HAN, LPKA Yogyakarta dan PKBI DIY Angkat Potensi Anak Lewat Trofeo

 Masih dalam semangat peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025, Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Yogyakarta bersama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PKBI DIY) menggelar kegiatan Trofeo Futsal pada Selasa, 15 Juli 2025. Bertempat di Lapangan Futsal LPKA, pertandingan mempertemukan tim anak binaan LPKA dengan dua tim dari sekolah luar, yakni SMA N 1 Playen dan SMA N 1 Karangmojo

Sejak pagi, suasana di LPKA terasa berbeda. Anak-anak binaan tampak bersemangat menyambut kedatangan para tamu dan lawan tanding mereka. Prosedur keamanan tetap dijalankan ketat; seluruh tamu dari luar lembaga menjalani pemeriksaan oleh petugas pengamanan, dan dua personel dari Polres Gunungkidul turut hadir untuk memastikan acara berlangsung aman dan tertib.

Lebih dari sekadar pertandingan sehari, kegiatan ini menunjukkan betapa besar antusiasme dan potensi anak-anak binaan dalam bidang olahraga, khususnya futsal. Semangat yang mereka tunjukkan di lapangan menjadi cerminan bahwa pembinaan bukan hanya soal kedisiplinan, tapi juga soal merawat minat dan mengasah bakat.



Kepala LPKA Kelas II Yogyakarta, Sigit Sudarmono, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembinaan yang lebih luas. “Kami ingin anak-anak merasa bahwa mereka masih punya ruang untuk bertumbuh, untuk menunjukkan kemampuan mereka, dan untuk dipercaya. Melalui olahraga, mereka belajar kerja sama, disiplin, dan semangat pantang menyerah. Ini bukan soal menang atau kalah, tapi tentang memberi kesempatan untuk kembali terhubung dengan dunia luar,” ujar Sigit.

Ke depan, Sigit juga berharap kegiatan serupa memiliki peluang besar untuk dikembangkan ke tingkat yang lebih tinggi, seperti turnamen antar lembaga atau kolaborasi rutin dengan sekolah luar. Dengan cara ini, LPKA tidak hanya menjadi tempat pembinaan, tetapi juga ruang aktualisasi anak-anak yang sedang menata ulang masa depannya. “Kami melihat potensi mereka. Dan tugas kita bersama adalah membuka jalan agar potensi itu bisa terus berkembang,” ungkap Sigit.

Salah seorang anak binaan juga menyampaikan antusiasmenya selama kegiatan dan berharap kegiatan seperti ini terus dipertahankan juga dikembangkan. “Saya senang sekali bisa ikut main futsal bareng teman-teman dari SMA lain. Rasanya seperti kembali jadi anak sekolah biasa. Bisa lari-lari, guyon bareng, dan bersaing sehat bikin saya merasa dihargai walaupun sedang menjalani pembinaan di sini,” ujar R.



Gong, Program Officer INKLUSI Pilar ABH PKBI DIY turut menyampaikan harapannya bagi pengembangan minat dan bakat anak agar tidak hanya mengacu pada program, tetapi berfokus pada kebutuhan dan keinginan anak. “Acara ini baru merupakan permulaan, ke depannya kami berharap acara dengan format serupa bisa diperluas dan bisa diikuti oleh banyak anak anak dari beragam latar belakang sebagai salah satu komitmen kita merekognisi semua anak tanpa terkecuali,” pungkas Gong PKBI.

Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 16.30 WIB ini ditutup dengan kembalinya anak binaan ke paviliun untuk melanjutkan aktivitas seperti biasa. Trofeo futsal adalah satu dari beberapa rangkaian kegiatan bagi anak menjelang Hari Anak Nasional.

Merayakan Tradisi, Merajut Harmoni Langit Nusantara

 



Yogyakarta, Juli 2025 — Dalam rangka menyambut dan memeriahkan The 10th Jogja International Kite Festival (JIKF) 2025, panitia menghadirkan rangkaian kegiatan istimewa yang tidak hanya menampilkan keindahan layang-layang dari berbagai daerah dan negara, tetapi juga mengangkat nilai-nilai budaya, pelestarian lingkungan, serta kearifan lokal DIY. Festival ini akan digelar pada 26–27 Juli 2025 di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, sebagai puncak dari berbagai kegiatan pendahuluan yang tersebar di sejumlah lokasi strategis.



Rangkaian Kegiatan Road to JIKF 2025:

  1. Festival Layang-Layang Anak – Grogol, Paliyan, Gunungkidul (9 Juli 2025)
    Kegiatan ini melibatkan anak-anak dan komunitas lokal dalam lomba serta workshop pembuatan dan penerbangan layang-layang. Tujuannya adalah menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap permainan tradisional dan kreativitas berbasis budaya.
  2. Penanaman Pohon Endemik Langka – Warung Gedangsari, Karangmojo
    Sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian alam, dilakukan penanaman pohon-pohon endemik langka di kawasan perbukitan Gunungkidul. Aksi ini melibatkan pelayang internasional, komunitas lingkungan, serta warga sekitar sebagai simbol harmoni antara budaya dan alam.
  3. Eksplorasi Budaya – Pembuatan Keris Tradisional di Besalen (Workshop Kerajinan)
    Para peserta festival diajak menyaksikan langsung proses pembuatan keris oleh empu lokal di Besalen. Ini menjadi bagian dari edukasi budaya dan warisan takbenda yang diangkat dalam semangat festival.
  4. Majemukan – Pantai Pandansari, Bantul
    Dalam kegiatan ini, para pelayang dari dalam dan luar negeri melakukan “majemukan” atau penerbangan perdana sebagai bentuk perkenalan budaya dan persahabatan antarbangsa, menjadikan langit Pandansari sebagai panggung diplomasi budaya yang unik dan damai.
  5. Puncak Acara: The 10th Jogja International Kite Festival – Parangkusumo, Bantul (26–27 Juli 2025)
    Ribuan pengunjung akan memadati Pantai Parangkusumo untuk menyaksikan layang-layang raksasa, atraksi udara spektakuler, parade budaya, panggung hiburan, serta area UMKM dan kuliner. Tahun ini, sistem kunjungan dilakukan melalui paket wisata senilai Rp20.000, yang mencakup akses penuh ke arena festival. Pengunjung juga tetap dapat menyaksikan dari luar pagar secara gratis.


Komitmen dan Kolaborasi

JIKF 2025 mengusung tema “Langit Menyatukan Kita” sebagai refleksi dari keberagaman, kreativitas, dan semangat kolaboratif antar pelayang dari berbagai negara. Kegiatan ini didukung oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, komunitas pelayang, pelaku pariwisata, seniman, serta masyarakat lokal yang turut menyukseskan festival ini dari hulu hingga hilir.

Kami mengundang seluruh masyarakat, wisatawan, dan pecinta budaya untuk hadir dan merayakan semangat kebersamaan di langit Jogja.



Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi:
📍 Website: www.jikf2025.com
📧 Email: info@jikf2025.com
📞 Hotline: +62 812-XXXX-XXXX

Jogja Terbangkan Budaya ke Langit Dunia !!!
Panitia Jogja International Kite Festival 2025










Selasa, 08 Juli 2025

5.000 Gudeg Disajikan di Festival Kuliner Gula Kelapa Pecahkan Rekor MURI



5.000 porsi gudeg disajikan, Festival Kuliner Gula Kelapa ‘Gudeg Sejuta Rasa’ pecahkan rekor MURI.

Berlangsung di Alun-alun Selatan Kota Yogyakarta (4-5 Juli 2025) Festival Kuliner Gula Kelapa menjadi ajang perayaan kekayaan kuliner khas nusantara, khususnya makanan tradisional berbahan dasar gula kelapa. Seperti gudeg, brongkos dan beberapa macam snack lainnya. 

Salah satu momen yang paling dinantikan adalah pemecahan rekor MURI untuk “Sajian Gudeg Terbanyak”, yang menargetkan 5.000 porsi gudeg sebagai ikon kebanggaan kuliner Yogyakarta.



Penyerahan Sertifikat & Medali dari Museum Rekor Indonesia diberikan oleh perwakilan dari MURI Bapak Awan Rahargo kepada Walikota Yogyakarta. Pada saat yang bersamaan gudeg mulai dibagikan kepada para pengunjung di Alun-Alun Selatan.

Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo dalam sambutannya mengatakan “Saya menyambut baik untuk Gudeg Sejuta Rasa, penting sekali Yogyakarta menghadirkan Gudeg dengan varian-varian yang baru. Supaya gudeg menjadi makanan yang digemari oleh banyak orang tidak hanya orang Yogyakarta.”

"Festival ini bertujuan untuk mengangkat potensi lokal gula kelapa khususnya makanan tradisional seperti Gudeg dan memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi kuliner unggulan. Kami ingin menunjukkan bahwa gula kelapa bukan hanya warisan, tapi juga masa depan kuliner yang sehat dan berkelanjutan," lanjut Hasto.



Mahasiswa dari FKKMK UGM tahun 2023 Twistanisa Atha Brilliant Ilmi mengenalkan inovasi gudeg berbahan dasar jantung pisang dan disertai porang, ikan tengiri dan sari kedelai, sebagai alternatif pengganti gudeg konvensional. Hal ini mendapat respon baik dari Wali Kota Yogyakarta yang juga memberi nama atas inovasi ini.

“Ini adalah gudeg yang sehat, tidak mengandung kolesterol yang tinggi, tidak membuat gula darah tinggi dan berasal dari jantung pisang maka saya beri nama Gudeg Koroner. Dengan makan jantung pisang, Inshaallah koronernya sehat," jelas Hasto.

Festival Kuliner Gula Kelapa juga dimeriahkan oleh beberapa kegiatan menarik lainnya, seperti Fun Walk mengelilingi Benteng Baliwerti, Talkshow Kuliner Mataraman, Lomba Inovasi dan Kreasi Gudeg, Wedangan Sonten dan Festival Musik dengan bintang tamu Ngatmo Mbilung.




Selasa, 01 Juli 2025

Dari Data ke Perasaan, Dari Realita ke Soft-fakes

 



Menurut penelitian Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada pada pemilu presiden 2024, penggunaan Generative Artificial Intelligence (Gen-AI) telah menjadi alat penting dalam membentuk persepsi pemilih pemula. Hal ini disampaikan oleh Dhevana Anarchia Ria Lay, Partnership Officer CfDS, pada panel kedua konferensi di Tular Nalar Summit 2025 hari ini.


Survei CfDS terhadap 400 pemilih pemula menunjukkan bahwa digital image lebih berpengaruh daripada sejarah politik, menggeser gagasan ke estetika dan perasaan. “Kita tanya apakah kita memilih pemimpin atau didorong oleh lagu dan jogetan dengan soft-fakes," imbuh perempuan yang akrab disapa Arsya itu. Gejala tersebut menambah dimensi baru bahwa  pemilu dipengaruhi oleh AI, bukan sebagai penyebar hoaks, melainkan pembentuk ulang realitas yang disebut soft fakes. 


Hal ini semakin relevan dengan perlunya peningkatan daya saing digital Indonesia. Sebagaimana direfleksikan dalam laporan IMD WDCR 2024 yang menunjukkan peringkat Indonesia naik dari 56 ke 43. Laju adopsi internet yang cepat membuka peluang sekaligus risiko, termasuk lebih dari 26 juta serangan phishing sepanjang 2024 menurut BSSN, yang menuntut literasi digital bagi semua kalangan, terutama kelompok rentan seperti lansia dan pemilih muda.




Kondisi ini menunjukkan bahwa menghadapi tantangan era digital, kita tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Diperlukan upaya bersama untuk membekali semua lapisan masyarakat. Utamanya kaum rentan seperti lansia dan pemilih pemula dengan kemampuan literasi digital dan pemikiran kritis. Semua ini agar mereka mampu memilah informasi dan terhindar dari dampak negatif digitalisasi. Salah satu inisiasi penting sebagai wujud gerakan kolektif ini adalah program literasi digital Tular Nalar - Mafindo.


Sebagai puncaknya, program ini menggelar perayaan besar melalui Tular Nalar Summit 2025, yang berlangsung  di Auditorium STMM MMTC, Sleman, D.I. Yogyakarta. Mengusung tema “Merayakan Semesta Kolaborasi,” acara ini menjadi ruang temu para penggerak literasi digital dari seluruh Indonesia, serta menandai berakhirnya fase ketiga program Tular Nalar yang telah berlangsung sejak 2023.


Acara dibuka secara resmi oleh Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dan Giri Lumakto, Program Manager Tular Nalar. Digarisbawahi pula pentingnya keberlanjutan gerakan literasi digital untuk masyarakat, termasuk bagi kelompok rentan. Septiaji memperkenalkan “Mafindo Institute” pada publik, sebagai sebuah wadah untuk mengkompilasi edukasi literasi digital. Tentunya bisa terlaksana karena  kolaborasi dengan banyak pihak. Dia juga menyoroti bahwa sekarang kita memasuki era Artificial Intelligence. “Ibarat 2 sisi mata pedang. Dampak negatif penggunaan teknologi yang keliru serta dampak negatif tak terduga. Ini membuat ruang digital masih diwarnai dengan hoaks dan ujaran kebencian,” tambahnya.




Abdul Mu’ti, Menteri Dikdasmen, menjadi salah satu pembicara kunci melalui siaran video. Ia menyoroti bahwa Tular Nalar Summit 2025 merupakan hasil kolaborasi yang dilakukan Mafindo bersama berbagai elemen masyarakat. “Sebagai bagian dari upaya membangun kecerdasan dan kesalehan digital, forum (seperti Tular Nalar) ini sangat penting agar masyarakat memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi pengguna teknologi digital yang bijak,” ujarnya. Dalam kesempatan ini pula dia menyampaikan  bahwa mata pelajaran Koding dan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan akan mulai diajarkan kepada anak kelas 5 SD hingga SMA pada tahun ajar 2025/2026.


Menjadi pembicara kunci dalam rangkaian pembuka,  R.M. Agung Harimurti Purnomojati selaku Ketua STMM menyampaikan apresiasinya pada Tular Nalar - Mafindo, Love Frankie, dan Google.org atas komitmen dan dedikasi mencerdaskan bangsa, terutama di ranah digital. “Mari kita jadikan momentum ini sebagai tonggak era baru literasi digital nasional yang lebih kritis, inklusif, dan berbudaya,” pungkasnya.


Setelah sesi pembukaan, forum dilanjutkan dengan konferensi yang terbagi dalam tiga panel utama. Panel pertama, bertajuk “Menyelamatkan Masa Tua di Linimasa”, membahas risiko digital yang dihadapi oleh kelompok lansia. Risiko tersebut termasuk maraknya penipuan online dan eksklusi teknologi. Panel ini menghadirkan Koree Monteloyola-Cañizares dari Techie Senior Philippines, Nani Zulminarni dari Ashoka Southeast Asia, serta Susiana Nugraha, Direktur Utama Indonesia Ramah Lansia (IRL), dan Giri Lumakto. Mereka menyoroti pentingnya perlindungan digital yang berbasis empati dan praktik nyata.




Panel kedua, “Timeline Political Disorientation for the First Time Voters”, mengupas dampak disinformasi politik terhadap pemilih pemula. Diskusi ini dipandu oleh para akademisi dan aktivis seperti Angela Romano dari Queensland University, Hanna Vanya dari Think Policy, Heroik Pratama dari Perludem, dan Arsya dari CfDS. 


Sementara itu, panel ketiga mengangkat tema “Intergenerational AI: Education and Ethics”. Panel ini mengupas tantangan dan peluang pemanfaatan kecerdasan buatan secara etis dan lintas generasi. Sesi ini menampilkan Muhammad Taufan Agasta, Stafsus Kemendikdasmen Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial, Pahlevi Fikri Auliya, V.P. Engineering and AI dari Ruangguru, F.X. Risang Baskara, Dosen di Universitas Sanata Dharma, dan Violita Siska, Program Manager AI Goes To School. Diskusi ini mempertemukan perspektif teknologi, pendidikan, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam satu ruang dialog. 


Tular Nalar Summit 2025 juga diisi berbagai aktivitas berbasis komunitas dan para mitra yang menjadi ciri khas gerakan Tular Nalar. Di antaranya adalah Focus Group Discussion, pameran komunitas, dan kelas literasi digital inklusif “Ayo Bareng” untuk difabel tuli, penghayat kepercayaan, dan transpuan. Pada sore hari, acara ditutup dengan stand-up comedy bertema hoaks, penampilan seni komunitas, dan panggung musik akustik yang disambut meriah oleh peserta.


Salah satu momen penting dalam acara ini adalah peluncuran video “Human Impact Story” oleh Love Frankie serta publikasi buku bunga rampai yang berisi kisah inspiratif para penerima manfaat Tular Nalar. Modul pembelajaran AI lintas generasi yang inklusif juga diperkenalkan kepada publik.


Menurut Giri Lumakto, Program Manager Tular Nalar, gerakan ini tidak akan berhenti di summit ini. “Tular Nalar adalah gerakan yang lahir dari keresahan warga, tumbuh dalam kolaborasi, dan hidup di ruang-ruang komunitas,” tutupnya.


Di fase ketiga sejak 2023, Tular Nalar telah menjangkau lebih dari 50.000 penerima manfaat langsung yang terdiri dari 40.000 pemilih pemula dan 10.000 lansia. Sekitar 1,6 juta warga di seluruh Indonesia turut menerima manfaat sebagai end-beneficiaries yang ditularkan melalui kegiatan dan para alumni kelas pelatihan Tular Nalar


Tular Nalar Summit 2025 bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari gerakan yang lebih luas. Sebuah langkah bersama untuk mewujudkan ruang digital yang sehat dan inklusif.

Senin, 30 Juni 2025

Co-Working Space Dengan Fasilitas Komplit Berstandar Internasional Harga Sejutaan Perbulan di HQ Barsa City



 Sewa co-working space dengan fasilitas komplit berstandar internasional harga sejutaan sebulan, bisa kerja 24/7 dan internet bisnis-grade dengan sistem keamanan tinggi dan meeting room

Barsa City Yogyakarta baru saja membuka fasilitas co-working space bekerjasama dengan HQ by IWG. Terletak di commercial space Barsa City, merupakan HQ Co-Working Space ketiga di Yogyakarta

IWG sendiri merupakan penyedia ruang kerja fleksibel berskala global dengan lebih dari 300 lokasi di Asia Pasifik dan berbagai brand ternama seperti Regus, HQ, dan Signature.



Peresmian ini dikemas dalam acara interaktif bertajuk Scentsational Sunday digelar di Plaza The Arcade, Cornell Tower Barsa City, Sleman, Yogyakarta (Minggu, 29 Juni 2025) merupakan langkah nyata untuk melengkapi kawasan hunian dan komersial terpadu dan menjawab kebutuhan masyarakat urban akan ruang kerja yang fleksibel dan efisien.

Peresmian HQ bukan sekadar seremoni melainkan respons konkret terhadap pergeseran tren gaya hidup urban dan kerja fleksibel, tetapi mendukung produktivitas tinggi, khususnya bagi profesional, pelaku startup, yang kini banyak diminati oleh generasi muda produktif dan perusahaan hybrid.

HQ merupakan bagian dari jaringan International Workplace Group (IWG), di Indonesia HQ hadir di 52 tempat yang tersebar di Jakarta, Bandung, Semerang,Yogyakarta, Surabaya, Bali dan Makassar.  menyediakan berbagai pilihan ruang kerja mulai dari private office, coworking space, hingga virtual office, guna mendukung meningkatnya kebutuhan akan lingkungan kerja yang lebih fleksibel.



“Jogja sangat spesial karena ini adalah pusat ketiga HQ di kota ini. Demand-nya sangat konsisten dan dinamis. Banyak inovator dan pelaku industri kreatif seperti IT, mebel, hingga hukum yang menjadikan Jogja sebagai tempat tumbuh,” kata Putri Mulya, Country Manager IWG untuk Indonesia.

Fasilitas standar HQ mencakup internet bisnis-grade dengan sistem keamanan tinggi dan meeting room representatif. Area kopi dan ruang kolaboratif, akses 24/7, Opsi virtual office hingga private office juga tersedia.

Reynald Lesmana, Head of Partner Performance Indonesia & Brunei menjelaskan, "Fasilitas standar HQ mencakup internet bisnis-grade dengan sistem keamanan tinggi dan meeting room representatif. Area kopi dan ruang kolaboratif, akses 24/7, Opsi virtual office hingga private office juga tersedia. Selain itu HQ didukung konektivitas global. Dengan demikian pengguna bisa memakai seluruh fasilitas HQ di negara lain tanpa harus login ulang."

Dengan infrastruktur yang membaik, serta daya tarik UMR yang relatif kompetitif, Yogyakarta kini menjadi magnet bagi perusahaan dari luar. Hal ini memunculkan kebutuhan akan ruang kerja fleksibel yang strategis dan representatif.

“Kami melihat transformasi kota ini menuju pusat pertumbuhan produktivitas. Model ruang kerja bersama bukan hanya efisien, tapi juga menciptakan nilai kolaboratif yang tinggi. Jogja kini tidak hanya sebagai kota pelajar, tapi kota bagi pekerja hybrid dan kolaboratif,” ungkap Agung Kris Primandono selaku Director of Ciputra Group.

Bersamaan dengan peresmian HQ, Barsa City juga memperkenalkan mockup unit apartemen tipe studio terbaru yang dirancang untuk merepresentasikan gaya hidup urban masa kini—efisien, estetis, dan fungsional. Produk ini menjadi bagian dari visi Barsa City menghadirkan kawasan 'live-work-play' yang terintegrasi di jantung Kota Jogja.




Selasa, 24 Juni 2025

“Jagad’e Raminten” Mengangkat Sosok Ikonik Dalam Budaya dan Seni Pertunjukan Kontemporer di Yogyakarta



Yogyakarta, 22 Juni 2025 – Kalyana Shira Foundation mempersembahkan film “Jagad’e Raminten” yang menyoroti kehidupan dan warisan sosok Raminten sebagai salah satu ikon Yogyakarta. Dalam durasi 95 menit, dokumenter ini menggambarkan perjalanan Raminten yang tidak hanya dikenal sebagai pengusaha sukses dengan berbagai usaha seperti toko oleh-oleh, restoran, batik, dan pertunjukan cabaret, tetapi juga sebagai ruang aman bagi komunitas yang inklusif. Penayangan perdana Film Dokumenter “Jagad’e Raminten” dilaksanakan di Auditorium LIP Yogyakarta dan dihadiri oleh lebih dari 250 undangan termasuk keluarga besar Raminten, komunitas pecinta film, aktivis, dan seniman lokal Yogyakarta maupun nasional.


Film ini tidak hanya mengangkat warna-warni dunia Raminten, tetapi juga memotret perjalanan sang pendiri, Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Tanoyo Hamijinindyo atau yang lebih dikenal sebagai Hamzah Sulaiman. Dalam membentuk Raminten, Hamzah Sulaiman tidak hanya menjalankan bisnis, namun membina sebuah keluarga besar termasuk di dalamnya karyawan, penampil pertunjukan, serta keluarga dan para sahabat. Dibesut oleh Nia Dinata sebagai sutradara dan penulis, Dena Rachman sebagai produser dan penulis, serta Melissa Karim sebagai co-produser, film ini menggambarkan bagaimana Raminten cabaret menjadi wadah ekspresi seni yang inklusif.


Nia Dinata selaku Director dari film “Jagad’e Raminten” menyampaikan, “Gagasan membuat film dokumenter ini sudah ada sejak tahun 2023, ketika Dena masih di London menyelesaikan disertasinya tentang representasi dalam industri film Indonesia. Munculah sosok Raminten dalam benak kami sebagai wujud nyata dari representasi keberagaman dan unconditional love. Melalui Raminten, kita belajar bahwa ketulusan dan penerimaan terhadap perbedaan dapat tumbuh menjadi kekuatan yang memperkuat rasa kemanusiaan. Melalui film ini juga kami bersama seluruh keluarga dan sahabat hendak memberikan penghormatan pada almarhum Hamzah Sulaiman. Sungguh sebuah kehormatan besar bagi kami dapat membawa kisahnya ke mata dunia.”



Dalam kesempatan yang sama, Dena Rachman yang juga terlibat dalam proyek ini sebagai produser dan penulis menyampaikan bahwa keterlibatannya merupakan bentuk upaya untuk menyebarkan simbol kasih, kebaikan, dan keberanian dalam mengekspresikan diri di tengah norma-norma yang ada.


“Lebih dari sekadar hiburan, Raminten adalah sosok yang menyediakan rumah bagi banyak kaum marginal terutama bagi chosen family mereka. Sosok Raminten tidak hanya memperjuangkan inklusivitas di atas panggung, tetapi juga dalam kehidupan nyata dengan menciptakan penghidupan yang layak dan berkelanjutan. Kami merasa terdorong untuk mengabadikan warisan ini dalam sebuah karya yang dapat terus menginspirasi,” ujar Dena.


Lebih dari itu, Melissa Karim selaku Co-produser menambahkan, “Perjalanan membuat dokumenter ini sangat menyentuh dan penuh makna. Kami ingin menangkap esensi sejati Raminten sebagai ikon budaya dan bisnis sekaligus sosok visioner yang membuktikan bahwa pelestarian tradisi bisa berjalan beriringan dengan inovasi dan economic empowerment. Raminten menciptakan ekosistem yang memberdayakan banyak orang, membuka lapangan kerja, dan menjadikan kesenian sebagai sumber penghidupan.”



Yang membuat film ini semakin istimewa adalah karena “Jagad’e Raminten” merupakan persembahan terakhir, sebuah kado penuh cinta dari teman-teman dan keluarga besar untuk mendiang Hamzah Sulaiman. Meski Hamzah Sulaiman telah berpulang sebelum film ini sempat dirilis, semua yang terlibat tahu bahwa beliau sangat menantikan hadirnya kisah ini untuk disaksikan oleh masyarakat luas. Film ini adalah cara untuk meneruskan warisan Raminten, menyebarkan cinta, kepedulian, dan semangat inklusivitas, khususnya bagi masyarakat Yogyakarta yang begitu dekat di hati beliau.


“Bagi kami, dokumenter ini bukan sekadar karya film, tetapi sebuah bentuk penghormatan penuh cinta untuk sosok Bapak kami, almarhum Hamzah Sulaiman. Beliau adalah cahaya bagi begitu banyak orang, baik sebagai pemimpin, sahabat, maupun figur ayah bagi keluarga besar Raminten. Kami sangat tersentuh dan merasa terhormat kisah hidup dan warisannya diabadikan dalam dokumenter ini. Kami berharap film ini dapat menyentuh hati masyarakat Indonesia, khususnya warga Jogja, seperti halnya Bapak telah menyentuh hidup banyak orang dengan kasih dan kebaikannya.” ujar Ratri, Director of House of Raminten.


Pemutaran kedua dari film dokumenter “Jagad’e Raminten” akan dilaksanakan di panggung ARTJOG 2025 yang berlokasi di Jogja National Museum pada tanggal 5 Juli 2025. Dapatkan informasi dan detail dapat dengan mengikuti akun Instagram @ramintenuniverse.



###


Tentang Kalyana Shira Foundation


Website          : kalyanashira.com

Facebook      : Kalyana Shira

YouTube          : Kalyana Shira Films Official

Twitter          : @kalyanashira

Instagram : @ramintenuniverse


Untuk korespondensi media dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi: 


Public Relation 

Mobile   : 081772368110 (Keanaya)

Email     : keanayachandt@gmail.com 


Magnifique PR & Communication Consultant

Mobile       :  +62 896-3584-3286

E-mail        : ssoekowati@magnifique.co.id

Selasa, 17 Juni 2025

Batiga Rilis Single Baru Berjudul 'Narasi Sunyi'

 Batiga Rilis Single Baru Berjudul 'Narasi Sunyi', Kembali Berkumpul Dan Berkarya Setelah Enam Tahun Berpisah



Setelah enam tahun 'beristirahat' dan tak ada aktivasi musikal bersama, Batiga kini kembali mengeluarkan satu karya barunya. Unit sweet pop asal Yogyakarta ini merilis single anyar berjudul 'Narasi Sunyi' pada Senin 9 Juni 2025.

Versi audionya serentak mengudara gerai-gerai musik digital, seperti Spotify, Apple Music, Deezer, dll. Sedangkan untuk format audio visualnya berupa video lirik yang bisa dinikmati di channel YouTube BatigaOfficial pada hari yang sama.

Lirik lagu 'Narasi Sunyi' diciptakan oleh Yunan Patrajuangga dibantu Faber Hutabarat. Lagu ini mencoba menerjemahkan fase legawa dalam menyikapi segala problem dalam kehidupan manusia, seperti adanya seseorang yang tidak bisa dilupakan karena tak bisa bersama.

"Pemaknaan tentang siapa orang tersebut juga luas. Bisa pacar, pasangan, sahabat, bahkan orang tua yang mungkin tidak akan lagi bisa bersama kita dalam pemaknaan nyata atau kiasan, baik secara fisik ataupun rasa," ujar Yunan Patrajuangga mengawali.




Aransemen antar kota antar provinsi saat pandemi

Untuk pengerjaan aransemennya, 'Narasi Sunyi' melewati proses berbeda dari lagu-lagu Batiga sebelumnya. Jika biasanya dikerjakan bersama-sama di dalam sebuah studio, kali ini mereka harus merasakan proses kreatif secara jarak jauh.

"Semua proses produksinya juga kami lakukan secara mandiri dengan peralatan home recording sederhana," ujar Riosa Oktaf.

Saat itu mereka tak bisa berkumpul bersama karena adanya pandemi. Selain itu domisili personelnya juga sedang terpencar di empat kota sekaligus, yakni Jakarta, Bekasi, Medan, dan Jogja. Oleh sebab itu step pembuatan lagu ini dilakukan terpisah antar kota antar provinsi, baik dalam proses penulisan, diskusi, hingga proses rekaman.

Konsep awal 'Narasi Sunyi' pertama kali dibawa Yunan kemudian dikirimkan kepada Andreas DC. Kala itu Yunan hanya mengirimkan voice note (VN) sederhana yang berisi chorus line saja. Lalu oleh Andreas DC dikonversi ke digital audio workstation (DAW) untuk membuat bagan aransemen musiknya.

Proses kreatif Andreas DC juga tak dikerjakan sendiri. Selain mengisi bass, Andreas DC juga dibantu oleh rekan satu kosnya, Ayla Adjie, untuk memberi sentuhan perkusi pada draf awal 'Narasi Sunyi'.

"Setelah jadi bagan lagu, langsung aku kirim guide-nya ke Riosa untuk isi vokal. Selanjutnya draf itu dibagikan ke anak-anak lainnya untuk brainstorming, bedah lirik, dan bagan," kata Andreas DC.

Setelah dirasa cukup, proses rekaman sesungguhnya mulai dilakukan di kota masing-masing. Perekaman drum Talcha diabadikan Cornelius Christyan di Rumah Tua Record, Yogyakarta. Untuk perekaman instrumen gitar dilakukan Luke Ottaviandri secara mandiri di Medan.

Luke pun juga meminta bantuan adiknya, Aza Ardito, untuk mengisi elemen filler/synth dan voicing lainnya pada lagu tersebut. Lalu proses akhir audio, mixing dan mastering diserahkan kepada Sasi Kirono di Satrio Piningit Studio, Yogyakarta. Selain mereka yang membantu dalam proses audio, ada dua orang yang turut andil menyelesaikan visual ‘Narasi Sunyi’. Arga Radikun didapuk untuk menggarap artwork dan Wedhar PJ mengerjakan video lirik.




Berkumpul lagi, merayakan 13 tahun persahabatan

Pada 16 Agustus 2024 lalu, Batiga sudah memasuki usia 13 tahun. Kelima personelnya pun masih tetap sama, yakni Riosa Oktaf, Yunan Patrajuangga, Talcha Sultanik, Luke Ottaviandri, dan Andreas DC.

Bagi Batiga, tahun 2024 juga jadi tahun yang sentimentil untuk mereka. Batiga pun sempat membuat perhelatan showcase sederhana di Jogja. Mereka memainkan 14 repertoar yang terdiri dari 12 lagu baru dan dua lagu lama. Showcase ini jadi penanda bahwa mereka kembali berkarya lagi setelah enam tahun terpisah.

Merilis 'Narasi Sunyi' pun jadi bukti persahabatan musikal Batiga tetap solid meski sudah melampaui dasawarsa. Selain itu, alasan utama mereka adalah kangen. Kelimanya memang merindukan bermusik bareng lagi meski kini tak muda lagi dan sudah berbeda domisili.

Bagi mereka, implementasi kerinduan yang sudah tidak terbendung membuat Batiga bersepakat menentukan cara. Bukan hanya sekadar sapaan verbal, namun cara tersebut harus terwujud nyata melalui karya lagu.

"Kami menyadari tidak mudah berproses dalam keterbatasan jarak, namun harapan kami setidaknya sapaan melalui lagu ini masih ada untuk sahabat semua. Batiga masih ada untuk kalian semua," kata Riosa Oktaf.

"Kami memutuskan merilis karya baru lagi karena merasa bertanggung jawab atas apa yang menjadi passion kami semua yaitu berkarya dengan tulus dari dalam hati," timpal Yunan Patrajuangga.

Tentang rencana masa depan, kelimanya tak punya keinginan muluk-muluk kecuali tetap konsisten berkarya lagi. Setelah 'Narasi Sunyi', Batiga merancang banyak rencana yang akan direalisasikan pelan-pelan.

"Paling dekat untuk rencana berikutnya kami akan merilis beberapa lagu baru lainnya. Mungkin juga akan merilis karya-karya lama kami yang belum sempat terabadikan di gerai-gerai musik digital," ujar Luke Ottaviandri.

"Mengingat kondisi saat ini dengan kesibukan kami masing-masing, kami akan kembali saat 2011, di mana Batiga lahir hanya untuk berkarya, sesederhana itu saja," pungkas Talcha Sultanik.

Sekadar diketahui, Batiga merupakan grup band yang lahir pada 16 Agustus 2011 di Yogyakarta. Batiga merupakan singkatan dari 'balada hati galau'.

Sejak awal berdiri, Batiga masih bertahan dengan kelima personelnya sampai saat ini. Mereka adalah Riosa Oktaf (vokal), Yunan Patrajuangga (kibor), Talcha Sultanik (drum), Luke Ottaviandri (gitar), dan Andreas DC (bass).

Nama Batiga cukup populer di skena pop karena kerap manggung di berbagai pensi, panggung musik lokal, hingga menjadi grup band pembuka musisi-musisi ternama.



Karier Batiga semakin moncer ketika berhasil menjadi pemenang Levi’s Band Hunt 2017. Saat itu Batiga sempat dikontrak oleh Universal Music Indonesia sekaligus mendapat coaching langsung dari Ilman dan Lale (Maliq & D'Essentials). Batiga akhirnya makin dikenal di industri musik nasional setelah melahirkan single 'Cinta Bertuan' pada 2018.